Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

SCEPTIC TANK

HomeHati-hati, ada SCEPTIC TANK
SCEPTIC TANK tak lebih istimewa dari septiktank. Di sini, Anda hanya akan menemukan muntahan, berakan, muncratan, sobekan, cipratan, atau besetan, atau apapun yang Anda pikirkan tak guna untuk tak dibuang, tak ubahnya septiktank. Tidak akan ada yang lain. Dan jangan berharap sesuatu yang lain.

Category:Movies
Genre: Sports
Kita pernah mendengar tentang kejayaan tembakau Dusseldorf, namun jelas Jerman lebih identik dengan mobil, pesta bir, dan kaos adidas, dibanding dengan rokok. Tak ada perusahaan rokok Jerman yang masuk jajaran 5 besar dunia. Menurut laporan Daeng dkk. (2011), produksi tembakau Jerman tak masuk hitungan 10 besar negara penghasil tembakau. Angka konsumsi juga: mereka kalah dari negara-negara tetangga Eropa-nya yang lebih kecil macam Belgia, Belanda, Swiss, bahkan Luxemburg.

Tapi, siapa sangka jika kebesaran Jerman di abad ke-21 ini berhutang budi dengan seorang bocah penjual rokok. Paling tidak, itulah yang diperlihatkan oleh Sonke Wortmann dalam filmnya, The Miracle of Bern (2003).

***

The Miracle of Bern (Keajaiban Bern), atau Das Wunder von Bern dalam bahasa Jerman, adalah sebuah istilah yang mengacu kepada kemenangan ajaib Jerman (Barat) 3-2 atas Hungaria di final Piala Dunia 1954 di Bern Swiss. Dianggap sebagai keajaiban karena publik sepakbola dunia saat itu, termasuk para pendukung Jerman sendiri, sulit membayangkan mereka bisa mengalahkan Hungaria.

Sebagaimana ditulis McBall (2010), tim nasional Hungaria tahun 1950-an adalah sebuah tim yang hampir tak memiliki padanannya hingga hari ini, tidak dengan Brazil tahun 2000-an, tidak juga dengan juara dunia Spanyol sekarang. Dekade 50-an, sepakbola jadi milik Hungaria sepenuhnya. Diperkuat oleh deretan pemain terbaik masa itu seperti Ferenc Puskas, Nandor Hidegkuti, Sandor Kocsis, dan Jozsef Bozsik, tim ini tidak terkalahkan dalam 4 tahun, atau tak kurang dari 32 pertandingan internasional. Dua tahun sebelum Piala Dunia 1954, mereka adalah pemegang medali emas sepakbola Olimpiade Hensinki 1952. Tak berselang lama sebelum ke Swiss, mereka membantai moyangnya sepakbola, Inggris, di kandangnya sendiri, Stadion Wembley, 3-6. Itulah kenapa mereka disebut sebagai Para Penyihir Magyar. Di lain pihak, Jerman adalah tim yang sakit. Diperkuat oleh banyak veteran yang kalah perang pada Perang Dunia II, Jerman hanya berangkat ke Swiss sebagai tim Eropa kacangan. (Dan tampak semakin kacangan saja ketika di penyisihan, mereka dibantai oleh Hungaria 8-3.) Karena itu, ketiga Jerman bisa mencapai final, banyak kalangan—termasuk para wartawan dan pendukung Jerman sendiri—yang menganggap hal itu sebagai keberuntungan saja. Namun, Jerman kemudian membalik semua teori dan prediksi. Mereka memukul Hungaria 2-3 dan merengkuh gelar Piala Dunia untuk pertama kalinya.

Meski begitu, istilah “keajaiban” itu tak hanya mengacu kepada kemenangan di Bern pada 4 Juli 1954 tersebut, melainkan hal-hal yang terjadi setelah kemenangan tersebut. The Miracle of Bern dianggap sebagai titik balik kebangkitan sepakbola Jerman. Sepakbola di Jerman, yang sebelumnya berada di bawah bayang-bayang olahraga gimnastik, seperti digambarkan oleh penulis Roman Horak (2006), tiba-tiba menjadi olahraga nasional dan jadi kebanggaan Jerman, yang ditegaskan dengan dimulainya Bundesliga Jerman tahun 1963. Namun yang lebih hebat dari itu, The Miracle of Bern dianggap sebagai penanda pulihnya kebanggaan bangsa Jerman usai dihajar perang (sebagaimana yang bisa kita lihat dalam film Wortmann).

***

Matthias Lubanski (dimainkan secara sangat mengesankan oleh Louis Klamroth) adalah bocah 10 tahun yang tinggal di Essen, kota kecil-kusam di Jerman pasca-perang. Setiap harinya ia membongkar puntung-puntung rokok, melintingnya kembali, dan menjualnya kepada para pengunjung warung minuman yang dijalankan ibunya, Christa (Johanna Gastdorf). Christa harus menghidupi ketiga anaknya sendirian, sebab Richard (Peter Lohmeyer) belum kembali dari kamp tahanan Rusia. Jika tak sedang membantu ibunya, Matthias menghabiskan waktunya dengan bermain bola dan menjadi asisten (bag boy) bagi seorang pemain sepakbola lokal bernama Helmut Rahn (Sascha Gopel). Hubungan Matthias dan Rahan sungguh istimewa. Sebagai penggemar klub lokal Rot-Weis Essen, ia sangat memuja strikernya, Rahn. Karena itu, Matthias dengan senang hati jadi asistennya, membangunkannya, dan membawakan tasnya menuju tempat latihan atau ke pertandingan. Di sisi lain, Rahn sangat tergantung dengan Matthias. Bukan saja karena sangat terbantu dengan asistensinya, tapi juga karena ia percaya kalau Matthias adalah azimat keberuntungannya. Dan benar, di ujung cerita, hubungan aneh anatanya Matthias dan Rahn inilah yang jadi penentu gol kemenangan Jerman di Bern.

The Miracle of Bern memang film tentang keajaiban. Namun yang lebih penting dari itu, ini kisah tentang bangkit dari kehancuran: kebangkitan tim nasional Jerman dari kekalahan 8-3 oleh Hungaria di babak penyisihan, kebangkitan sebuah keluarga Lubanski yang 12 tahun terpisah, dan kebangkitan rakyat Jerman dari kehancuran pasca-perang.

Di Bern, beberapa jam sebelum kick-off Final Piala Dunia 1954, di depan para pemainnya, pelatih Jerman Barat Sepp Herberger mengungkit kekalahan 8-3 atas Hungaria di babak penyisihan. Sang pelatih berharap, kekalahan itu cukup menyakitkan bagi para pemainnya, sehingga mereka tak hendak mengulanginya lagi. Skor 8-3 memang menunjukkan betapa perkasanya Para Penyihir Magyar. Namun, di sisi lain, kebobolan 3 gol menandakan bahwa mereka bisa juga ditembus. “Kita sudah tahu betapa kuatnya mereka, tapi mereka tak tahu apa-apa sampai di mana kekuatan kita,” katanya.

Di Essen, sebuah kota dengan tembok-tembok rumah kusam dan tanah becek yang hitam kelam (seakan asap mesiu masih menempel di mana-mana), tepatnya dalam rumah keluarga Lubanski, Richard Lubanski, yang kembali pulang setelah 12 tahun dalam sekapan kamp tahanan Rusia, harus menyembuhkan dirinya dari trauma Siberia dan kembali menjadi bapak yang semestinya bagi ketiga anaknya, terutama untuk si bungsu Matthias, yang sebelumnya tak pernah dilihatnya. Beberapa kesalahan fatal yang dilakukannya, yang membuat Matthias mencoba kabur, dan membuat anak sulungnya Bruno, seorang simpatisan Partai Komunis, memilih minggat ke Jerman Timur, coba ditebusnya. Salah satu caranya adalah dengan membawa Matthias ke tempat yang sangat diinginkannya.

Di seluruh Jerman, tepat di saat final, jalan-jalan, rumah, biara-biara terlihat lengang. Di tengah pesimisme dan ketidakpercayaan diri yang parah--“ah, pasti Jerman kalah 12-0” kata seorang pengunjung di warung keluar Lubanski—hampir seluruh rakyat Jerman (termasuk di dalamnya orang-orang yang sebelumnya tak suka sepakbola) harap-harap cemas di depan radio dan televisi. Meski tak terkatakan, wajah-wajah mereka menunjukkan, nasib bangsa Jerman ke depan ditentukan oleh pertandingan di Bern itu.

***

Bocah penjual rokok itu sepertinya hanya sebuah dongeng yang dicangkokkan oleh sutradara Sonke Wortmann ke momen historis final Piala Dunia 1954. Pada riwayat hidup Helmut Rahn, kepada siapa film ini dipersembahkan, tak terkonfirmasi adanya seorang bocah dengan ciri-ciri mendekati karakter Matthias Lubanski.

Tapi, bisa jadi saya salah. Matthias Lubanski mungkin saja pernah menjadi bagian dari riwayat hidup Helmut Rahn. Dan mari beranda-andai—dengan sedikit tawa tentu saja—bahwa pada tahun 1993, 10 tahun sebelum Wortmann membuat filmnya, seorang petinggi sepakbola Indonesia mendengar kisah tentang bocah penjual rokok itu entah dari mana. Lalu, tebersit di pikirannya: jika Jerman hanya membutuhkan seorang bocah penjual rokok untuk jadi juara dunia, maka apa jadinya sepakbola Indonesia jika menggandeng perusahaan rokok. Lalu, dengan rasa bahagia sebagaimana saat Archimides meneriakkan “eureka! eureka!” setelah menemukan teori fisikanya, sang petinggi berlari ke rumah Azwar Anas, ketua PSSI saat itu.

Satu tahun kemudian muncullah Liga Dunhill.




Category:Other
Kegagapan Ophan Lamara

Ophan Lamara tergagap saat mengawali siaran langsung Indonesia Super League (ISL) musim ini. “Mitra olahraga ANTV, kita berjumpa lagi dalam siaran langsung Dja... Indonesia Super League musim 2011-2012....” Presenter sepakbola senior ANTV itu jelas tak terbiasa dengan hilangnya kata “Djarum” di depan frasa “Indonesia Super League” yang bertahun-tahun diucapkannya. Namun, lebih dari itu, ketergagapan itu menegaskan jika sebuah rasa kehilangan.

Tak berbeda dengan saya. (Kenapa? Nanti kita akan tahu alasannya.)

Iklan rokok, sejauh perhatian saya, sebenarnya sudah tak menampakkan diri sepakbola Indonesia saat ISL musim 2010-2011 masuk sepertiga akhir. Bertepatan dengan bergulirnya Liga Prima Indonesia (LPI), dan menguatnya tuntutan mundur kepada Nurdin Halid, slot iklan utama siaran langsung ISL di ANTV yang biasanya diiisi Djarum diambil alih Dua Kelinci.

Saya tak tahu betul alasannya—sejauh ini saya tak menemukan informasi yang cukup jelas soal itu. Tapi patut diduga, Djarum hendak menjaga jarak dengan rejim sepakbola Indonesia yang tinggal tunggu waktu saja jatuhnya. Jelas, itu langkah yang bisa dimaklumi. Lagi pula, seperti yang pernah saya baca, kubu baru yang tampak akan menguasai sepakbola Indonesia, jelas-jelas mengatakan kalau mereka akan membuat kompetisi sepakbola yang bebas iklan rokok. Karena itu, saya tak akan heran jika Djarum menghilang dari kompetisi musim berikutnya.

Melihat gelagat yang muncul, yaitu dengan menggandeng Real Madrid dan mendatangkan Luis Figo, juga dengan muncul di slot iklan utama pada pengujung ISL musim lalu, kuat dugaan saya kalau Dua Kelinci yang akan menjadi penyangga utama kompetisi musim berikutnya. Tapi saya salah besar. Sebab yang muncul justru adalah dua bajingan.

Ya, dua bajingan. Dan bukannya menyangga kompetisi, mereka malah merobohkannya.


Saya dan Iklan Rokok

Saya tidak merokok. Saya bahkan membenci perokok. Masa kecil dan remaja saya banyak diwarnai pengalaman-pengalaman tak enak dengan perokok. Ibu yang mengomel karena anggaran belanja rokok Bapak yang tak pernah susut, orang-orang dewasa yang semena-mena menyuruh membelikan rokok, juga kelabilan (yang menyebalkan) teman-teman seusia yang ikut menyedot tembakau cuma karena orang dewasa melakukannya, adalah beberapa contoh saja. Lebih jauh lagi, saya bahkan sepakat dengan seorang teman yang mengatakan kalau perokok biasanya jorok: mereka akan menaruh abu rokok di semua tempat yang tampak menganga, kecuali mulut mereka sendiri.

Tapi, ketidaksukaan itu tak berlaku untuk iklan rokok. Saya malah punya banyak kenangan bagus tentangnya.

Misalnya, saat PLN belum masuk ke desa saya, televisi masih hitam-putih, dan televisi swasta baru dikenal, kami semua berdebat soal iklan Mustang. Iklan itu, kalau tak salah ingat, menggambarkan kuda berlari dan seorang pria macho yang memacu motor besarnya. Di sebuah tubir jurang, keduanya berhenti. Si kuda menegar dan meringkik, sementar si pria turun dari motor dan melepas helmnya. Lalu, gambar fade-out dan ditutup dengan tulisan “MUSTANG”. Karena iklan ini tak jelas apa tawarannya (tak seperti iklan sabun atau permen), juga karena warna televisi yang hitam-putih, kami semua hanya bisa menerka-nerka produk apa yang ditawarkannya. Ada yang bilang ini iklan kuda. Ada juga yang kukuh kalau Mustang adalah merk helm. Tapi pendapat terbesar, saya termasuk di dalamnya, ini adalah iklan motor. (Jadi, jangan heran jika sampai saat ini masih ada orang di tempat saya yang memetonimikan sepeda motor besar dengan motor mustang.) Setelah jadi masalah yang berlarut-larut, dan sempat diwarnai dengan beberapa percekcokan antara kubu kuda, sepada motor, atau helm, ketegangan baru mereda ketika pada suatu hari seorang sales rokok masuk ke desa dan memperkenalkan sebuah rokok baru bermerek Mustang.

Itu berkait dengan kenangan. Berkait dengan cita rasa tontonan, saya banyak punya pembelaan terhadap iklan rokok. Saya merasa tak punya kapasitas untuk menjelaskannya, namun secara singkat bisa saya katakan, dalam riwayat perjumpaan saya dengan televisi, beberapa iklan rokok adalah perjumpaan yang mengesankan. Kreativitas, kecerdasan, humor, dan pelajaran sangat awal tentang semiotika, adalah beberapa alasan saja. Kecemerlangan serial iklan “How Low Can You Go”-nya A Mild, kemegahan iklan Bentoel Biru seri “I love blue from Indonesia”, kelucuan tak terlupakan iklan-iklan Long Beach, dan belakangan seri jin jawa-nya Djarum 76, adalah sedikit contohnya.

Tapi berkait dengan sepakbola, saya bahkan berani berkelahi dengan siapa pun soal iklan rokok. (Dengan teman sealiran yang sepakat dengan Majelis Tarjih atau Masyarakat Anti-Tembakau Indonesia, ayo. Dengan teman beda aliran yang memuja rokok dan membenci sepakbola, boleh juga.) Saya akan mengeluarkan segala daya-upaya untuk membelanya. Demi iklan rokok, saya siap bertukar argumen dengan para pembenci rokok, pembenci perokok (yang lain), pembenci iklan rokok, dan terutama pembenci iklan rokok sekaligus sepakbola.



Iklan Rokok, Sepakbola, dan Masyarakat yang Sehat, Bahagia, dan Penuh Harapan

Oke.., saya bercanda soal berkelahi itu. Tapi saya serius soal bertukar argumen.

Jika pihak-pihak yang berpikiran sederhana (ciri-cirinya: lurus ke depan, positivistik, merasa harus menyelamatkan manusia dari kepunahan tapi sekaligus juga khawatir dengan meledaknya populasi bumi) berpendapat bahwa iklan rokok bisa meningkatkan jumlah perokok dan dengan begitu meningkatkan risiko terjadinya “kanker, serangan jantung, gangguan kehamilan dan janin”, seperti yang tertera pada basa-basi pemerintah di setiap bungkus rokok, maka dengan pikiran sederhana pula saya bisa mengemukakan hal sebaliknya. Menurut saya, berkait dengan sepakbola, iklan rokok—baik langsung maupun tak langsung—justru bisa meningkatkan kesehatan masyarakat, timbulnya kegembiraan dan kebahagiaan, dan naiknya harapan hidup.

Begini penjelasannya.

/1/ Dalam waktu puluhan tahun, iklan rokok sangat identik dengan sepakbola, baik bagi berputarnya kompetisi di tanah air maupun siaran langsung di televisi. Dana perusahaan rokok memutar roda kompetisi dan memungkinkan televisi menayangkannya siaran sepakbola dunia di televisi yang harganya ratusan milyar. Orang yang sinis dengan sepakbola sekaligus pembenci rokok tentu akan dengan gampang menunjuk bahwa ujung dari semua itu adalah meningkatnya anarkisme massa, tawuran antarsuporter, munculnya jutaan penggemar sepakbola yang begadang di akhir pekan yang kebanyakan merokok dan—biasanya—nganggur di Senin pagi. Itu fakta yang harus diakui. Namun, mari kita lihat ke sisi lain, saat pagi dan sore, jutaan bocah Indonesia, dari SSB paling mewah hingga mereka yang main di lapangan setengah sawah, yang bergegas mengayun langkah, dengan bola di ujung kakinya, dengan bayangan wajah Messi, Rooney, Ronaldo, atau Okto Maniani dan Andik Vermansyah di pikirannya. Coba terka, apakah mereka melakukan itu karena anjuran Menkes, IDI, atau YLKI? Tidak. Mereka melakukan itu karena mereka menonton Okto dan Andik di stadion dan melihat Messi, Rooney atau Ronaldo di televisi. Dan, itu semua karena iklan rokok. Dan saya yakin seyakin-yakinnya, bocah-bocah itu pasti lebih sehat dari para penganjur larangan merokok paling gigih sekalipun. Koreksi jika saya salah.

/2/ Seorang teman yang tak suka sepakbola mengatakan kalau sepakbola adalah bentuk manipulasi kapitalisme atas massa. Euforia, rasa gembira, dan bahagia yang diciptakan sepakbola membuat massa lupa bahwa mereka tertindas dan hak mereka dirampas, begitu kira-kira penjelasan lebih lanjutnya. Saya tak membantahnya. Jika pun perkataannya benar, saya pun tak keberatan. Kita hidup dalam kepungan manipulasi bukan? Jadi, kalau itu ditambah satu, apa bedanya? Menurut saya, manipulasi kapitalisme berupa sepakbola—jika dibandingkan jenis-jenis manipulasi kapitalisme dalam bentuk lain macam demokrasi, penegakan HAM, kebebasan pers, isu kesehatan, dan terutama agama—adalah manipulasi terbaik yang terjadi di Indonesia. Tak seperti manupulasi-manipulasi lain yang saya sebut tadi, rasa senang dan bahagia yang ditimbulkan oleh sepakbola tidak didirikan di atas sejenis moralitas, tidak dibangun dengan mengatasnamakan kebenaran. Itulah kenapa sepakbola jadi terasa lebih menyenangkan dan membahagiakan. Dan harus ditegaskan, kesenangan dan kebahagiaan yang sering gagal dipenuhi oleh dogma-dogma agama itu dipersembahkan oleh iklan rokok.

/3/ Bagi saya pribadi—bisa jadi juga bagi jutaan penggemar sepakbola di Indonesia lainnya—iklan rokok menandai masih adanya secercah harapan. Selama masih melihat kelebatan iklan Super Soccer (milik Djarum) atau Intersport (Gudang Garam) di televisi, itu artinya puluhan juta rakyat Indonesia masih bisa berharap bahwa di akhir pekan nanti akan ada siaran langsung sepakbola liga-liga Eropa. Dan selama di akhir pekan masih ada sepakbola, saya tak punya cukup alasan untuk bunuh diri—meskipun sepanjang pagi saya menyimak Gloomy Sunday-nya Rezso Seress ratusan kali. Tanpa mengesampingkan pemain yang meninggal di lapangan, suporter yang tewas saat tawuran, atau penonton sepakbola yang jantungan karena Indonesia kalah sama Malaysia, bandingkan dengan apa yang bisa dilakukan oleh Pidato Tahunan Presiden, laporan kenaikan pertumbuhan ekonomi Menko Perekonomian, produk undang-undang bikinan DPR, atau hasil kerja KPK.


Liga Majelis Tarjih

Saya tak merokok. Saya bahkan membenci perokok. Tapi, saya peduli dengan keberlangsungan munculnya iklan rokok, sebab itu—sejauh ini—hampir pasti berkaitan dengan keberlangsungan sepakbola di Indonesia.

Jika Pemerintah, IDI, YLKI, WHO, atau siapa pun yang ingin mencegah meningkatkan angka perokok, saya sarankan mereka menghubungi Majelis Tarjih Muhammadiyah saja. Itu pasti lebih ampuh. Minta pihak yang mengeluarkan fatwa haram rokok itu untuk memfatwakan dogma anti-taqlid (ikut tanpa tahu alasannya) pada tingkat paling praktis. Menurut pengalaman saya, seorang remaja yang mulai merokok bukan karena ia tergoda oleh iklan rokok, tapi karena dia meniru (taqlid) orang-orang dewasa yang merokok. Jadi, selain kaum muslimin yang dianggap ikut-ikutan amalan para ulama kuno, para remaja yang ikut-ikutan merokok orang dewasa tanpa tahu tahu apa alasannya, seharusnya juga jadi lahan garap Muhammadiyah.

Atau, begini saja. Biar orang macam saya tak lagi cerewet soal iklan rokok, bagaimana kalau WHO atau Majelis Tarjih menjadi sponsor sepakbola? Tampaknya akan terdengar keren seandainya mendengar Ophan Lamara menyapa, “Mitra olahraga ANTV, kita berjumpa lagi dengan siaran langsung Liga Majelis Tarjih musim 2013-2014. Bravo sepakbola!”


Category:Movies
Genre: Romance
Pemain : Rahul Bose, Chigusa Takaku, Raima Sen
Sutradara : Aparna Sen
Tahun : 2010
Bahasa : Bengali, Jepang, Inggris

Dimulai dari sahabat pena, Snehamoy (Bose), seorang pria India, dan Miyage (Takaku), perempuan dari Jepang, saling jatuh cinta. Tak memungkinkan bertemu karena jarak dan uang, keduanya sepakat menikah hanya lewat surat-menyurat dan bertukar barang-barang perkawinan. Hingga ulang tahun ke-15 berkawinan, meski hanya lewat surat-menyurat dan sekali telepon, Sneha dan Miyage adalah sepasang suami-istri yang setia dan saling mencintai. Badai mulai menjajal bahtera rumah tangga aneh ini ketika, di Jepang, kesehatan Miyage merosot digerogoti penyakit, sementara di India Snehamoy dirongrong oleh rasa welasnya yang mendalam kepada Sandhya (R. Sen), seorang janda muda malang (dan cantik) yang menumpang hidup di rumah bibinya, yang secara sangat diam-diam mendambakan cintanya. “635 surat, 3 telepon, 15 tahun pernikahan, tanpa sekejap pun pertemuan, sejauh mana Anda bisa melangkah untuk (menemukan) cinta?” demikian tulisan di poster film.

Mengangkat persilangan budaya antarbangsa, sutradara Aparna Sen tak mengulang formula yang pernah dipakai oleh, semisal, Gurinder Chada (Bend it Like Beckham, Paris Je T’aime, Bride and Prejudice) maupun patron film India di dunia Barat, Mira Nair (Missisipi Masala, Moonson Wedding, Nameshake). Jika dua nama yang disebut di belakang cenderung mengunggah benturan-benturan antarperadaban ke layar, Sen—berdasar cerpen Bengali tulisan Kunal Basu—memilih mengisahkan tentang, sebut saja, sebuah perjumpaan antarperadaban. Sebuah perjumpaan yang syahdu, meskipun terasa sangat tak biasa, terutama di awal-awal pertemuan. “Apakah kamu mau mengajariku mengeja namamu?” tulis Miyage kepada Snehamoy—yang sejak awal mengakui kalau namanya memang sulit dieja bahkan oleh orang Bengali sendiri. Di sisi lain, Mashi, bibi Sneha, langsung menangis begitu keponakan yang dibesarkannya sejak kecil mengaku telah menikah dengan perempuan bernama Miyage. “Nama macam apa itu?” katanya sambil sesenggukan. Cara keduanya menjembatani kejanggalan itu tak kalah janggalnya, yaitu dengan memakai bahasa Inggris, bahaya yang juga bukan bahasa mereka dan tak benar-benar mereka kuasai. Karena itu, keduanya lebih memilih saling berkirim surat daripada telepon, karena bahasa Inggris keduanya yang terbatas membuat komunikasi langsung menjadi jauh lebih sulit.

Tapi, jika cinta mereka yang begitu janggal saja bisa mereka jalani, apalah artinya semua kejanggalan kecil itu? Lebih-lebih karena Aparna Sen mempertemukan “yang Jepang” dan “yang India”, yang begitu berbeda, dalam sebuah harmoni halus, hati-hati, dan—di beberapa bagian—mengundang senyum. Agak sulit mencari penjelasan yang pas, tapi, menurut saya, menonton The Japanese Wife seperti membaca tulisan Kawabata yang kusam berkabut namun memakai setting ala Banerji yang indah karena keterangbenderangannya.

Namun, lebih dari pertemuan dua budaya, film ini adalah kisah pertemuan dua hati. Ini kisah percintaan tanpa tubuh, apalagi persetubuhan. Kita yang terbiasa dengan kisah cinta Hollywood, lebih-lebih Eropa daratan, akan agak sulit menerimanya. Tapi, Aparna Sen menyuguhkan sebuah kisah yang muskil jadi terasa mungkin. Realisme Bengal yang jadi background utama cerita, yang mengingatkan saya kepada trilogi Pater Pancali-nya Satyajit Ray yang realis itu, terasa amat kuat dan menyakinkan. Kalau penonton Pater Pancali bisa dengan sangat mudah membayangkan bahwa pada awal abad ke-20 di sebuah desa terpencil di Bengali hidup seorang bocah bernama Apu yang sangat mencintai alam desanya, penonton The Japanese Wife juga tak akan kesulitan membayangkan kalau pada tahun 80-an, di tepi Sungai Matla, hidup seorang guru matematika bernama Sneha yang menikah dengan perempuan Jepang yang tak pernah dilihatnya.

The Japanese Wife tetap tegak di tempatnya sebagai film realis, dan tidak tergelincir jadi kisah cinta fantastis, apalagi jadi dongeng antah-berantah (seperti beberapa film Indonesia, sebut saja misalnya Ruang—yang dengan sombong diklaim sutradaranya sebagai film realisme magis itu), mungkin berkat usaha Aparna Sen menempatkan kisah besutannya ini dalam konteks sosiologis, historis, geografis, bahkan klimatologis, yang kuat.

Bagian berikut rasanya akan sedikit mewakili apa yang saya sebut sebagai konteks itu. Saat mendengar istrinya sakit, Sneha tak tinggal diam dengan menangis sedih atau berdo’a pada Dewa semata. Sebagai orang terdidik, ia tentu saja menghubungi dokter-dokter spesialis untuk tahu penyakit apa gerangan yang diderita istrinya. Tapi, ia juga mengorek-ngorek pasar obat-obat tradisional di India, mencari ramuan yang dianggapnya tepat, dan berharap ramuan tradisional India bisa menyembuhkan istri Jepangnya. Tak berhenti sampai di situ, ia bahkan berusaha meminta tabib-tabib Hindu untuk mengirimkan teluh penyembuh lintas Pasifik—meski para tabib hanya bisa geleng-geleng kepala.

Bagian lomba layang-layang juga saya kira membuat The Japanese Wife bisa lebih mudah dibayangkan sebagai sebuah kisah yang mungkin terjadi. Ketika sebuah kotak besar yang dikirim Miyage sebagai hadiah ulang tahun perkawinan ke-15 untuk Sneha ternyata penuh berisi layang-layang Jepang yang indah-indah bukan main, tersinggunglah patriotisme naif para tetangga India Sneha. Ujung-ujungnya, sebuah ajang pertandingan layang-layang antarbangsa pun dilangsungkan dengan seru, lucu, dan berakhir syahdu.

Sebagai penutup, film India satu ini sangat cocok bagi mereka yang tak suka dengan film India karena lagu dan lagaknya. Sedikit hal yang menandai kalau film ini film India adalah film ini dibuka oleh gambar kwitansi sertifikat Dewan Film India (seperti semua film produksi India), dibikin oleh orang India, dimainkan oleh sebagian besar aktor India, berseting India, dan berbahasa Bengal—salah satu bahasa yang hidup di India. Lebih dari itu, Anda akan terkecoh. Tak seperti tipikal film Bollywood, film ini panjangnya tak sampai dua jam dan tanpa diselingi sebuah lagu India pun. Lebih jauh, film ini malah punya nuansa Jepang yang tak enteng, mulai dari kredit pembuka yang diserupakan tulisan Jepang, musik latar yang menggabungkan bunyi-bunyian Asia Selatan dan Timur Jauh, dan kilasan-kilasan gambar tentang Jepang yang khas: sepi, dingin, dan penuh ruang kosong.


Category:Music
Genre: Other
Artist:Briptu Norman


“Bagaimana bisa kamu tidak menyukai musik yang dilahirkan dari peradaban tertinggi dan tertua di dunia?”

-- Mustofa --



Kalimat itu saya dapatkan beberapa tahun lalu. Saya mendengarnya dari seorang teman yang saya kenal ketika berkunjung di sebuah kos-kosan dekat Pesantren Krapyak. Saya tak bisa menutupi rasa tertarik saya saat Mustofa—begitu nama mahasiswa filsafat yang dengan bangga mengaku sering menguji laku nyufi-nya dengan menonton film porno itu—saya tangkap basah tengah menyimak lagu India dari radio. Ketika saya tanya apa alasan ia suka lagu India, kalimat balik bertanya itulah yang jadi jawabannya. Sebagai orang yang merasa tak pernah bisa menemukan alasan yang pas kenapa saya menyukai musik dan film India selain bahwa itu sebuah takdir, kalimat pembelaannya yang dahsyat itu membuat saya seperti Arya Kamandanu yang akhirnya menemukan mantra penakluk pedang Naga Puspa setelah sebuah pengembaraan yang panjang. Tapi, lebih dari itu saya merasa bahagia—seperti seorang yang bertemu saudaranya yang lama hilang—karena menemukan orang lain yang dengan bangga mengakui kesenangannya dengan lagu India di Jogja. Camkan: di Jogja!



Jangankan di Jogja, saya bahkan sudah menjadi orang asing dengan selera aneh ketika menetap di sebuah kota kecil di Lamongan saat SMA. Padahal, kota itu hanya beda kecamatan dengan desa asal saya, dan hanya butuh waktu tiga jam untuk pergi-pulang. Bayangkan saja. Ketika saya satu bangku dengan seorang teman yang tas sekolahnya penuh coreng-moreng dengan tulisan “KLa Project”, “Klanis”, dan “Salam Ungu!” (dan sepanjang waktu menggumamkan lirik “aku tak bisa pindah, pindah ke lain hati...”), saya bahkan belum tahu pasti apakah KLa Project itu nama sebuah band atau nama penyanyi pria aneh dari luar Jawa macam Yoppie Lattul atau Amri Palu. Saya juga hanya bisa diam seribu bahasa jika pada sebuah reriuhan teman-teman menyanyikan lagu-lagu Slank seperti “Kupu-kupu Liar” atau “Bidadari Penolong”, atau yang lebih sulit dari itu, karena satu-satunya lagu yang saya tahu dari band itu cuma “Maafkanlah”. Demikian juga ketika mereka ribut-ribut omong soal lagu-lagu Green Day, Nirvana atau Arkarna, saya diam-diam memilih menepi.


Sebaliknya, teman-teman di pondokan yang mengantri mandi di belakang saya akan memandang aneh saat saya keluar dari kamar mandi, karena di bibir saya masih menggantung irama terakhir lagu “O Priya Priya” dari OST Dil-nya Aamir Khan—setelah sebelumnya, hampir sepanjang sepuluh menit, mereka mendengar saya, sembari jebar-jebur, mengeluarkan lengkingan yang meratap-ratap agar mendekati suara Kishore Kumar di lagu itu. Bahkan sampai di tahun-tahun kemudian, mereka tetap menggeleng-gelengkan kepala ketika untuk kesekian kali mereka mendapati saya mengirimkan kartu-kartu pos ke acara Irama Gangga di Radio Ronggohadi hanya agar nama Vijay Avtara, nama pengemar yang saya pakai, muncul di radio itu, berjajar dengan nama-nama India lain yang dipakai oleh teman-teman sekampung saya, seperti Raja Murad Khan, Arjun Khitam Singh, atau Ghulsan Ghais Khan.



Berpengalaman selama tiga tahun menjadi orang dengan selera yang sangat minoritas di SMA, saya jadi sangat siap saat datang ke Jogja. Meski di kota inilah untuk pertama kalinya dan sekali-kalinya saya menonton film India di bioskop, tak bisa saya mungkiri, Jogja adalah tempat yang sulit bagi penggemar musik India di manapun. Bagaimanapun, pantai selatan Jawa memang tak setenang dan selandai pantai utara Jawa, tempat lagu-lagu India dan lagu-lagu slowrock Malaysia menepi dengan damai, disambut sangat hangat, dan tak kesulitan untuk segera dianggap sebagai bagian dari warga setempat. Sudah begitu, saat saya mulai menjadi penghuni Jogja, film-film India sudah mulai mundur teratur dari layar kaca. Permakluman saya lainnya: Jogja, bagaimanapun, adalah kota yang karakter kekotaannya puluhan kali lipat dari sebuah kota kecamatan macam Babat. Jika kota perlintasan yang goyah dan gampang berubah seperti Babat saja begitu mengintimidasi, coba bayangkan macam mana nasib selera musik India saya di sebuah kota yang telah begitu pejal peradabannya macam Jogja. Jadi, bisa apa saya? Paling-paling, saya hanya bisa bersyukur, karena ketika saya tengah menonton film India tak seorang pun akan mengusik saya, menanyakan film sudah sampai mana, siapa yang main, atau nyerocos menerka-nerka ujung adegan—sebab semua orang memang memilih menyingkir, hehehe...



Itulah kenapa saya sangat senang ketika ketemu Mustofa.



***



Saya percaya, bahkan di kota macam Jogja, penggemar lagu-lagu India—jika mereka “speakout” dan membuat sebuah komunitas seperti para pengendara motor merek tertentu—pasti akan lebih banyak dari para pemuja band-band Amerika paling populer sekalipun. Tapi, seperti yang pernah saya tulis berkait dengan film India, menghubungkan diri dengan kebudayaan pop India hampir sama risihnya dengan mengakui berapa keping vcd porno yang kita tonton dalam sebulan. Memuji-muji keteduhan mata Manisha Koirala akan terasa seperti membincangkan berapa jumlah tindik yang ada pada organ intim Asia Carrera. Musik Portishead kadang dinilai terlalu aneh dan menyakitkan telinga, tapi komposisi A.R. Rahman, misalnya, adalah hampir sebuah olok-olok.



Saya sedikit beruntung karena punya karakter yang memungkinkan saya menjadikan lagu dan film India saya sebagai alat pertahanan, sebagaimana cangkang bagi seekor siput. Tapi, saya kira itu tak terjadi dengan kebanyakan mahasiswa dari manca yang membawa serta kesenangannya akan lagu India ke Jogja. Alih-alih membanggakannya, seperti para pengendara Suzuki Satria menjejerkan motornya, mereka sering memilih menyembunyikan pemujaan mereka atas suara Latta Mangeshkar atau Balasubrahmaniam di balik tumpukan buku dan kasur kempes di kos-kosan mereka. Saya kadang hampir yakin, untuk beberapa orang, menyatakan bahwa ia menyukai film dan lagu India sama repotnya dengan menyatakan kalau ia menyukai sesama jenis.



Tapi, rasa-rasanya, tak hanya kota seperti Jogja yang membuat sulit para penggemar lagu India. Secara umum, Indonesia adalah tempat yang sulit pagi penggemar

India, meski yang disebut terakhir ini bisa jadi adalah mayoritas dalam hal kuantitas. Bagi sebuah negara-bangsa yang memiliki inferiority complex yang akut macam begini, mengaku menyukai hal-hal yang dianggap tak lebih tinggi dari milik sendiri adalah perjuangan yang sama melelahkan dengan menuntaskan revolusi kemerdekaan. Yang jadi masalah, apakah ukuran hal-hal yang lebih tinggi itu, kita tak pernah punya. Lama saya yakin bahwa apa yang kita anggap lebih tinggi itu berarti yang dibikin oleh orang-orang Kaukasoid, dengan budaya Eropa-Amerika sebagai representasinya. Tapi, ketika saya melihat di televisi para remaja untuk sebagian berlomba-lomba menyipitkan mata dan mengejurkan rambut sementara sebagian yang lain berama-ramai bertopi miring dan menggelayuti leher dengan aneka blink-blink, maka yang jauh lebih masuk akal adalah pendapat bahwa apa yang lebih tinggi dari milik kita adalah hampir apapun yang berasal dari luar, kecuali India—dan, dengan alasan yang sedikit berbeda, Malaysia.



Apakah Indonesia yang saya bicarakan di atas adalah gerombolan massa yang sepenuhnya menggantungkan selera mereka hanya pada iklan televisi dan majalah remaja? Oh, tentu tidak. Saya bicara tentang hampir kita semua. Sekadar contoh saja. Ketika wabah dekonstruksi membius kaum terdidik Indonesia, dan media-media dengan tradisi intelektual paling disegani macam Kompas dan Tempo amat bersemangat menyediakan rubrik-rubrik gaya hidup yang dihidup-hidupi spirit studi kebudayaan, yang memungkinkan tersedianya ruang bagi subkultur-subkultur yang selama ini terinjak, yang lewat kanon-kanon kebudayaan dan pengetahuan di belakang mereka giat mendakwahkan bahwa yang banal dan yang sublim itu tak begitu jelas batasnya, yang bisa memungkinkan sebuah tulisan tentang hura-hura di pantai Ancol sama takzimnya dengan ulasan pentas terakhir Rendra, musik India—bersama saudaranya, musik dangdut—tetaplah berada di posisinya semula: sebagai paria. Ketika kebiasaan-kebiasaan aneh minoritas anak kota semacam cosplay atau parkour—yang menurut pandangan saya sangat konyol—dirayakan dengan antusiasme berlebih, atau ketika tradisi-tradisi arkais hampir punah dilap-lap dengan penuh semangat konservasi, musik India yang bisa didengar di hampir sepanjang garis pantai di sekujur kepulauan Indonesia tetaplah sebuah folder besar budaya massa yang di-ignore jika dijumpai—kalau tidak malah di-delete karena disangka sejenis virus.



Ya, tentu saja bukannya tak pernah kita mendengar bahwa menjadi agak ke-India-india-an juga bisa terlihat keren. Apa yang dilakukan oleh penyanyi Tompi, misalnya.Tak lama setelah melejitnya lagu “Jay Ho” bersamaan dengan meledaknya film Slumdog Millionaire-nya Danny Boyle, Tompi dan Shanty meluncurkan sebuah single yang jelas terdengar dan terlihat seperti lagu bikinan A.R. Rahman itu. Pertanyaanya, apakah Tompi dan Shanty membuat lagu itu karena dorongan dan naluri eksploratif seorang musisi—sebagaimana saat gitar George Horrison mengadopsi suara sitar Ravi Shankar atau saat Eddy Vedder mencoba menjajarkan suara baritonnya dengan suara melengking musisi sufi asal Punjab, Nusrat Fateh Ali Khan? Saya terus terang meragukannya. Kalau mereka adalah para musisi pencari, Tompi dan Shanty tak perlu menunggu munculnya film tentang India yang dibenci orang India itu. Sebab, musik-musik A.R. Rahman sebenarnya telah merajalela di Indonesia jauh sejak belasan tahun yang lalu, ketika OST Dil Se tengah mengharu-biru radio-radio di sepanjang pantura Jawa, dari mulai Muara FM di Jakarta sampai Suara Giri FM di Gresik. Ya, terpaksa saya katakan, bagi orang seperti Tompi atau Santhy, dan mungkin sebagian besar dari kita, (lagu) India baru tampak menjadi keren jika ia muncul dari tempat yang bukan India. Panggung sebuah penghargaan film di Amerika, misalnya.



Cara pencerapan yang aneh? Tidak. Bukankah orang-orang (kota) Indonesia mengenal yoga dari instruktur-instruktur bulenya? Demikian juga, goyangan dada yang telah dilakukan Malaika Arora di atas kereta pada lagu “Chaiyya Chaiyya” di film Dil Se (1998), menjadi bahan tiruan di Indonesia justru lewat video klip lagu Beyonce.



***



Masa-masa dan pengalaman yang sulit bersama lagu-lagu India itu pula yang membuat saya menyukai “kegilaan” Briptu Norman. Saya merasa seperti menemukan teman seiring setelah sekian lama berjalan sendirian. Tiba-tiba saja, saya seperti melihat sebuah jembatan tak kasat mata tapi lempang yang membentang antara Gorontalo dan Lamongan. Apa yang dilakukan oleh Briptu Norman bagi saya ratusan kali lebih menarik dibanding goyangan triping ala Shinta-Jojo yang menjadi pageblug beberapa waktu sebelumnya. Bahkan, meskipun Pak Polisi itu melipsing lagu yang tak begitu saya sukai. (Dibanding lagu-lagu arransemen A.R. Rahman seperti di film Dil Se itu, yang menurut saya terlalu berisik dan kebarat-baratan, saya lebih menyukai gubahan-gubahan Anand-Milind atau Laxmikant-Pyarelal yang terasa lebih tradisional.)



Karena itu juga, saya turut gembira ketika media—terutama televisi—menempatkan mas polisi ini sebagai headliner program-program berita mereka.



Tapi, mengalaman-pengalaman sulit itu juga mengajarkan kepada saya bahwa tak boleh ada harapan berlebih berkait fenomena Briptu Norman—misalnya, kebangkitan musik dan film India di media dan kanal-kanal publik kita, atau munculnya “komunitas-komunitas kreatif-inovatif” yang dengan bangga mengakui budaya massa India sebagai sumber inspirasinya. Bagi saya, tak sulit untuk menemukan alasan kenapa kebanyakan dari kita tertarik dan menyanjung Briptu Norman dan videonya. Bukan karena ia menjogeti sebuah lagu India. Bukan pula karena ia seorang polisi dengan suaranya cukup bagus saat menyanyikan secara langsung lagu “Dolna”-nya Udith dan Latta di depan komandan dan rekan-rekannya. Melainkan karena kombinasi yang aneh antara keduanya. Ya! kita, media, menyukai Briptu Norman karena dalam dirinya kita menemukan dua hal yang sebelumnya tak terbayangkan muncul dalam satu kemasan: seragam Brimob yang (dicitrakan) garang dan lagu India yang (dipandang) kampungan. Kombinasi aneh yang menarik bukan? Itu sama menariknya dengan timpangnya ukuran lingkar pinggang dan lingkar dada Inong Melinda bagi bujangan pengangguran seperti saya. Juga, sama menakjubkannya dengan monyet dan topi pak taninya bagi seorang bocah.



Memang berhamburan kata-kata pujian semacam “kreatif” atau “manusiawi” atau bahkan ”awesome”. Tapi, bukankah begitu juga celetukan si bocah yang untuk pertama kalinya melihat topeng monyet? Jadi, seperti juga si bocah yang melihat monyet dan topi pak taninya, kebanyakan dari kita akan melihat Briptu Norman dengan wajah riang gembira tapi sekaligus tetap waspada dan menjaga jarak darinya. Dengan kata lain, kita menikmati aksi Briptu Norman, tapi tak berkeinginan untuk bergabung apalagi sama dengannya. (Hayo, siapakah bocah yang ingin menjadi seperti monyet dan topi pak taninya?) Kekaguman luar biasa Marisa Anita atau Tina Talisa kepada Briptu Norman, sangka saya, tak akan banyak berpengaruh bagi pandangan mereka terhadap musik India—persis seperti keranjingan kita kepada Shinta-Jojo sama sekali tak memiliki korelasi dengan berubahnya persepsi kita tentang musik tarling Cirebonan. Pujian-pujian dalam narasi yang berlebihan di kanal berita Trans 7 kepada “Polisi India kita” tak akan membuat mereka mengoreksi narasi bebal di program lain, di mana mereka menganggap bahwa munculnya Inspektur Vijay dan Tuan Takur adalah salah satu dari tujuh hal yang selalu muncul di film Bollywood. Malah mungkin, justru menguatkan. Dengan demikian, seseorang yang begitu girangnya menyaksikan video Briptu Norman berjoget India, pada waktu yang sama dan untuk waktu-waktu selanjutnya, bisa saja tetap akan menjadi seorang pembenci nomor satu Ridho Rhoma—tak perduli nama terakhir itu bisa berjoget India lebih baik dari Briptu Norman dan bernyanyi lebih bagus dan lebih mirip dengan para playback singer yang biasa menyanyikan lagu-lagu A.R. Rahman macam Sonu Nigam atau Abhijeet.



Sebagai penggemar lagu-lagu India, tentu saja hati saya menginginkan sangkaan-sangkaan saya ini tidak benar. Tapi, berkaca pada pengalaman, kepala saya agak sulit untuk mempercayainya. Pada akhirnya, mantra sakti yang diucapkan Mustofa tetap saja hanya akan jadi pegangan mereka yang sudah percaya. Daripada memiliki efek profetis, kalimat Mustofa itu tak akan pernah melebihi fungsi apologetiknya. Dan “kegilaan” Briptu Norman hanya sebuah pengalih perhatian dari kepenatan, seperti halnya lingkar dada Inong Malinda, atau wabah ulat bulu di daerah Tapal Kuda. Tak akan lebih dari itu.



ReviewReviewReviewReviewReviewMar 5, '11 8:54 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Other
1/

Saya tak lagi punya antusiasme sepertu saat masih di SMA dulu. Namun, ketika menemukan MNCTV (dulu TPI) akan memutar sebuah film India dengan judul yang belum saya kenal, yang dibintangi oleh Aamir Khan dan Kajol, saya bertekad menyediakan waktu untuk menontonnya. Lagi pula, saya sudah lama tak punya bahan untuk mengisi tandon Sceptic Tank saya. Jadi, siapa tahu, setelah nonton, saya bisa membuat resensi lucu-lucuan.

Film itu berjudul Fanaa (yang saya duga berarti “binasa”). Berkisah tentang seorang gadis Khasmir buta (Kajol) yang untuk pertama kalinya pergi ke ibu kota dan jatuh cinta dengan seorang pemandu wisata yang menawan tapi misterius (Aamir Khan), film ini agak tipikal film-film blockbuster India pasca-Kuch Kuch Hota Hai. Meski saya menyayangi kedua bintangnya (Kajol adalah gabungan dalam bentuk paling serpurna dari keindahan lokal Ida Royani dan kemegahan universal Caterine-Zeta Jones, sementara Aamir Khan adalah Slamet Rahardjo saya untuk kawasan anak benua India), saya merasa tak menyukai film itu—walau beberapa lagunya sangat saya sukai. Dan karena itu, saya memutuskan untuk tak jadi menulis resensi. Untuk apa menulis resensi film India yang tak saya sukai?

Yang justru terpikir adalah menulis tulisan ini. Sebuah tribute kecil-kecilan.

2/

Saya baru sadar, film India punya arti lebih besar untuk hidup saya daripada yang saya perkirakan. Itu sebuah berkah. Karunia yang besar. Jika kepala saya adalah sebuah lemari penyimpan, film India adalah salah satu harta yang tak akan pernah saya buang, seusang apa pun. Dan tak satu pun hal yang bisa mengambilnya dari saya. Tidak rasa snob, tidak juga intelektualitas, lebih-lebih pseudo-intelektualitas.

Mohon jangan dianggap berlebihan. Kecintaan saya, rasa memiliki saya, juga usaha-usaha saya untuk menjadi pembela (yang kadang terlampau bersemangat) film India adalah hal sepadan atas apa yang telah saya lakukan, alami, dan dapatkan, dari film India. Motif-motif yang mendasarinya, menurut saya, biasa saja, normal, tak jauh berbeda dengan, misalnya, seorang peminat klenik merawat keris wasiatnya, atau saudagar yang menyayangi uangnya, atau aktivis MLM mati-matian mempertahankan downline-nya, atau seorang enterpreneur memupuk karakter optimistis-patologisnya. Jika mereka merasa berhak dan pantas melakukan atas apa yang mereka lakukan terhadap hal-hal yang mereka sayangi, demikian juga saya atas film India.

3/

Paling tidak, ada tiga hal yang membuat film India saya sayangi, saya rawat, dan saya bela sedapat yang saya bisa. Pertama, ia sulit dapatnya; kedua, membuat saya merasa kaya; dan ketiga, menjadikan saya merasa istimewa.

a. Sulit Didapat

Mendapatkan film India tidak lebih mudah jika dibanding mendapatkan film porno. Itu pengalaman saya. Ya, barangkali sebagian dari kita (penonton, eksebitor, dan distributor) di sini memang menganggap film India layaknya film porno: disukai sekaligus tidak diakui, dikonsumsi tapi dianggap terlalu kotor untuk dibincangkan, ditonton sendirian kemudian dihinakan di depan banyak orang.

Seperti dikisahkan beberapa kabar yang pernah saya dengar, film India telah menjadi pesakitan di bioskop-bioskop Indonesia bersamaan dengan maraknya film-film Hongkong dan semakin dominannya film Hollywood. Meski begitu, masih menurut kabar yang saya dengar, berkat bertahannya bioskop-bioskop di tingkat kota kecil dan kabupaten hingga awal 1990-an, film-film India belum benar-benar tergusur. Saat masih SMP, kawan saya yang sekolah SMA di Tuban masih membawa pulang ceritanya tentang film-film India yang ditontonnya. Film India baru benar-benar tersapu (hampir) bersih saat bioskop-bioskop kabupaten dan/atau bioskop-bioskop kelas kepinding berguguran. Ya, tahun 2001, saya memang masih sempat menonton film India (judulnya Ghair, dibintangi oleh Ajay Devgan, Madhu, dan Amrish Puri) di bioskop Permata Jogja. Tapi saya yakin, hal itu bukan karena bioskop tersebut punya komitmen khusus terhadap film India, melainkan karena hanya film itu, dan beberapa film Indonesia yang dibintangi Inneke Koesherawati dan Sally Marcelina serta film-film Amerika agak mesum sejenis Private Lesson, yang mereka punya.

Hampir bersamaan dengan amblasnya film-film India bersama bioskop-bioskop yang biasa memutarnya, film India kemudian mendapat tempat di televisi. Bahkan, antara tahun 1995-an sampai 2000-an, tempat bagi film India di televisi terbilang sangat istimewa. Pada suatu masa, jadwal tayang total pemutaran film India di tv bahkan bisa mencapai 5-6 kali dalam sehari-semalam.

Lalu apa sulitnya mendapatkan film India, jika begitu?

Tunggu dulu. Dalam kurun sepuluh tahun antara tahun 1994 sampai 2003 (waktu yang saya pukul rata bertahannya film India di televisi), bisa jadi ada ribuan judul film nehi-nehi diputar di layar kaca kita. Tapi, percayalah, hal itu kini tinggal sejarah dunia penyiaran kita saja; sebuah bulan madu yang dinikmati secara berlebihan yang kemudian disusul sangat segera oleh perceraian yang amat menyakitkan. Persis seperti sejawatnya, musik dangdut, televisi-televisi kita menjadikan film India sebagai permaisuri sesaat untuk selanjutnya menjadikannya dayang-dayang—entah sampai kapan. (Saya tak punya data, tapi saya segera akan menampik jika ada yang mengajukan frasa “selera pemirsa” sebagai alasan.) Satu-satunya sebab yang bisa saya pikirkan kenapa film India tak punya nasib sebaik film Hollywood atau bahkan seperti tetangganya, film mandarin/Hongkong (yang semandeg apa pun, selalu punya tempat di layar televisi kita) adalah prasangka pengelola siaran—tentu melalui rekomendasi-rekomendasi AC Nielsen al-Kadzab laknatullah alaih.

Tapi betapapun televisi menyia-nyiakan film India, tidak bisa tidak, tabik harus diberikan kepada kotak ajaib ini. Sebab, dari situlah saya memulainya. Dari film-film India di televisi itulah saya merintis sinematek mini di kepala saya. Jika ada sebuah software komputer yang bisa melacak keseluruhan film yang pernah saya tonton, saya akan percaya jika 40% adalah film India (yang 90%-nya saya dapat di televisi). Banyak sampah yang tak layak simpan memang, tapi tak sedikit juga batu mutiara berharga. Di antara puluhan (atau bisa jadi ratusan) film-film Amittab Bachchan yang dengan atau tanpa sengaja saya lahap, yang kebanyakan bertema tentang anak muda pemarah (angry youth), saya mengingat dua judul film yang saya rasa berbeda, dan karena itu saya anggap istimewa. Yang pertama Saudagar, sebuah kisah cinta sederhana antara seorang pedagang gula merah kecil-kecilan dengan istrinya yang manja. Film kedua adalah Coolie, yang berkisah tentang Iqbal, seorang pemuda yatim, kuli stasiun, yang memimpin perlawanan sekelompok buruh kereta api, melawan penindasan. Sedikit mendekati tipikal film balas dendam, namun jadi begitu mengental di kepala karena Coolie dengan menawan menautkan bangkitnya kesadaran kaum kuli kereta api dengan gairah ke-Islam-man menegakkan kesetaraan.

Jika di televisi sudah jadi barang langka (hanya muncul sesekali pada dini hari, itu pun jika stasiun televisi telah kehabisan stok film monster Amerika atau vampire Cina atau saat Dolph Lundgren dan Mark Dacascos butuh mengaso) sementara di bioskop sama sekali tak ada bekasnya, lalu ke mana film India harus dicari? Yang tinggal di kota seperti Jogja, tentu pertanyaan itu terdengar mudah: rental film, tentu saja. Ya, saya awalnya juga menduganya begitu. Tapi, ternyata itu jawaban yang salah. Karena, dari sinilah tamsil bahwa mendapatkan film India tidak lebih gampang dibanding mendapatkan film porno saya mendapatkan.

Saat demam Kuch Kuch Hota Hai di awal 2000-an masih tersisa, rental-rental film Jogja masih memberi tempat bagi film India. Tapi, tentu saja itu bukan hal istimewa, karena film yang tersedia kebanyakan juga diputar di televisi—karena, pada saat yang sama, televisi memang masih memberi tempat untuk Shahrukh Khan dkk. Namun, satu-dua tahun berikutnya, ketika film India di televisi disapu oleh serial Taiwan dan film Jepang, film India juga seperti menguap dari rak-rak rental. Ya, tentu saja, apa yang mereka sebut sebagai “trend” adalah faktor utamanya. Tahun 2003 ke atas, film India adalah genre paling minor di segala jenis rental film (baik tipe boxoffice, tipe update, tipe Sketsa, atau tipe yang setengah mesum) di Jogja. Film India biasanya hanya jadi pelengkap dari rak “Asia” yang didominasi film-film dari kawasan Sungai Kuning, dengan judul baru yang minim. Dari yang minim itu, yang tampak layak tonton hampir atau sama sekali tak ada.

Sialnya, bersamaan dengan semakin tersingkirkan film-film India dari kanal-kanal selera massa, selera India saya justru tengah mengalami radikalisasi. (Bisa saya katakan, buku Pater Pancali dan majalah India Perspective adalah salah satu pemicu utamanya.) Saat itu adalah masa-masa yang menyiksa. Ketika saya mencoba bertanya kepada penjaga Rental Sketsa (rental film-nya pencinta film, paling tidak untuk waktu itu) apakah mereka memiliki koleksi menyimpan film India yang bagus, mbak-mbak penjaga sembari tersenyum kecut (senyum kecut yang tak pernah akan saya lupakan!) balik bertanya, “apa ada film India yang bagus?” Jawaban senada itu, bahkan pertanyaan balik yang sengit, tidak sekali-dua saya dapatkan. Tapi, tentu, selalu saja ada (meminjam metaforanya Franky Sahilatua) ‘bunga di tengah belukar’. Misalnya, di Teater Disc, rental yang tenar karena menyediakan hampir segala genre film (termasuk di dalamnya FFM, MILF, bukkake, ebony, bahkan kadang-kadang gay), bersama film-film non Hollywood macam City of God dan Bad Education, saya menemukan Lagaan, Legend of Baghat Singh, dan Menaxee: the Tale of Three Cities, tiga di antara film-film India terbaik yang pernah saya tonton.

Meski begitu, tak ada serumit kisah pencarian saya atas film Pater Pancali, yang kata dunia, merupakan salah satu pusaka terpenting perfilman dunia. Tak mau melewatkan hidup ini tanpa menonton film itu, saya memesan ke kerabat-kerabat yang di Malaysia, juga kepada teman di Jakarta yang sekolah film, pun kepada teman lain yang punya akses ke Pusat Kebudayaan India di Jakarta. Setelah bertahun-tahun gagal dan mulai merasa pasrah hanya bisa membaca bukunya, film itu ternyata dimiliki seorang penjaga rental film veteran yang aneh. (David Setiawan, dengan penuh terimakasih, paragraf ini khusus untukmu!).

b. Memperkaya

Film India adalah dana abadi bagi saya, investasi yang tak kunjung rugi, celengan yang berkali-kali dipecah tapi tak pernah kering. Itu baru-baru ini saja benar-benar saya sadari.

Awalnya, pengalaman dengan film India saya anggap sebagai takdir. Film India adalah bagian kecil dari batu Sisiphus saya yang mesti saya dorong di sepanjang tebing hidup saya, begitu pikir saya. Saya besar di sebuah desa terpencil yang dicurahi habis-habisan oleh budaya massa pesisir pantura Jawa. Jadi, bersama dangdut, ludruk, dan lagu-lagu slowrock Malaysia, film India (dan tentu saja lengkap dengan lagu-lagunya) adalah sesuatu yang terberi dari langit, seperti kulit gelap saya. Jadi, oke, saya akan menggembolnya sepanjang hidup saya. Mungkin akan tampak aneh, bahkan cacat, di mata orang lain. Mau bagaimana lagi? Yang penting, ini prinsip, saya tak perlu menyembunyikannya. Seperti sebuah codet di wajah, ia paling tidak bisa jadi tanda pembeda. Begitu kira-kira. Tapi, dengan sedikit sorot balik, saya segera tahu cara pandang itu kurang tepat. Film India bagi saya bukanlah takdir, tapi takdir baik. Ia bukan sekadar pemberian, namun nikmat (meski tak sebesar nikmat iman dan taqwa). Saya semestinya tidak mengucap alhamdulillah dengan hati pasrah, tapi alhamdulillah lengkap dengan sujud sukur.

Ini contoh saja. Saat saya SMA dulu, di mana selera musik adalah petunjuk paling jelas darimana kamu berasal, saya dianggap aneh karena begitu memuja Kumar Sanu dan Alka Yagnik, sementara kebanyakan dari teman saya menyukai KLa Project, Dewa 19, Roxette, Queen, Metalica, Guns ‘n Roses, atau Nirvana. Kini: edan apa tidak tahu KLa dan Dewa 19? Demikian juga, bersamaan dengan proses mengurban yang saya alami, Roxette, Queen, Metalica, Nirvana, dkk. juga pada akhirnya bukan lagi hal yang asing. Maka, pada tahun 2011 ini, jika saja ada petugas sensus yang melakukan kalkulasi tentang jenis musik apa yang didengar oleh seseorang selama 15 tahun terakhir, saya akan cukup percaya diri kalau statistik musik saya akan melebihi teman-teman SMA saya. Sebabnya, saya bisa mendapat apa yang mereka punya, tapi tidak sebaliknya. Lagu-lagu di film India, harta karun saya itu, adalah faktor pembedanya.

Jika kemudian statistik itu menyangkut film, saya rasa, film-film India saya juga akan jadi amunisi rahasia yang habisnya lama. Dengan simpanan memori atas ratusan film India yang saya tonton, paling tidak, hafalan saya atas nama aktor/aktris, judul film, nama sutradara, akan unggul dengan saudara-saudara saya yang hanya menonton film Hollywood dan/atau Hongkong. (Apalagi jika mengingat kebanyakan film India adalah film kolosal, hahaha....) Saya mungkin hanya akan kalah dengan teman-teman yang menonton film Hollywood, mandarin, sekaligus Bollywood, tapi juga menggemari horor Jepang—jenis film yang benar-benar tidak saya sukai.

Oke, uraian-uraian di atas tentu mengacu kepada kekayaan yang cenderung matematis, yang memakai paradigma pemuja otak kanan. Saya akan tunjukkan betapa film India juga memperkaya saya pada tingkat yang lebih subtil (tentu dalam standar saya sendiri). Kebiasaan saya menonton film India membuat saya memiliki kesempatan lebih besar, paling tidak dua kali lipat, mendapatkan sebuah cerita dalam banyak versi dibanding teman-teman saya yang hanya menonton film Hollywood. Untuk seorang yang menganggap diri sebagai pengarang, hal itu tentu sangat memperkaya saya. Penjelasannya begini.

Industri film India tampaknya, sedapat yang saya tahu, tak banyak berbeda dengan industri otomotif dan peranti lunaknya: padat karya, massal, dan (tidak seperti Hollywood) jauh lebih berorientasi domestik daripada untuk kebutuhan ekspor. Dalam industri yang macam begitu, tentu memproduksi sebanyak mungkin dan secepat mungkin jadi jauh lebih diutamakan dibanding memproduksi sebagus mungkin (meski, seperti mbak-mbak penjaga rental yang menyebalkan itu, jelas sesat dan menyesatkan jika menganggap film India tidak ada yang bagus). Ini mungkin yang menjadikan industri film India, dilihat dari sudut tertentu, tidak berbeda jauh dengan industri sablon di Bandung atau sentra kerajinan kulit di Sidoarjo. Begitu dapat tahu kalau film jenis ini atau itu sedang bagus di Amerika atau Hongkong, mereka segera bikin versi Indianya. Hak cipta? Ah, itu ‘kan hanya menguntungkan orang Eropa-Amerika. Terus bagaimana dengan tanggapan penonton yang disuguhi tontonan tiru-tiruan? Seperti para pedagang tas di Cibaduyut yang yakin kalau pembeli yang datang tak begitu tahu tentang Louis Vuitton, Channel, atau D&G, pembuat-pembuat film di India cukup percaya diri kalau kebanyakan penonton mereka tak menonton versi bulenya. Jika penonton bisa menangis, ikut menari, lalu keluar dari bioskop dengan bahagia, habislah perkara.

Tak heran, apa yang dipunyai Hollywood, Bollywood juga segera akan memilikinya. Jika Hollywood punya pemeran-pemeran Bond yang flamboyan, Bollywood cukup memadaninya dengan seorang Dev Anand. Saat John Travolta berdisco, Mittun Chakraborty segera saja memadaninya (let sing: I am a disco dancer!). Saat Amerika punya Stallone dan Van Damme, India punya Sanjay Dutt dan Sunil Shetty. Bahkan, ketika Amerika harus mengimpor langsung Jacky Chan karena tak bisa menirunya, Govindha dari India justru sukses bisa mengimitasi. Untuk saya yang memulainya justru dari Bollywood, India kadang terlihat lebih dulu dibanding Amerika. Sebelum Layar Emas RCTI dan Bioskop TransTV memutari film-film James Bond, Sinema India Jumat TPI sudah memperkenalkan saya dengan film-film detektifnya Dev Anand. Double Impact versi Salman Khan juga saya tonton lebih dulu dari versinya Van Damme. Demikian juga, French Kiss tiruan Ajay Devgan-Rani Mukherjee yang berjudul Pyaar To Hona Hi Tha jauh lebih awal saya tonton daripada French Kiss beneran yang dimainkan Kevin Kline-Meg Ryan. Akele Hum Akele Tum (yang berkisah tentang perebutan anak di pengadilan antara suami miskin dengan istrinya yang sukses) hampir 10 tahun lebih dulu dibanding Kramer vs Kramer yang ditirunya. Bahkan, karena begitu terkesannya dengan Ghost-nya India yang dibintangi Rahul Roy, yang saya tonton di awal usia belasan, sampai saat ini saya merasa tak perlu buru-buru untuk menonton Ghost-nya Patrick Swayze.

(Karena amat berpengalaman dengan film-film India tiruan ini, ketika masih jadi mahasiswa sastra, saya sama sekali tak kesulitan mencerna istilah ‘mimikri’.)

Tapi, seperti tas-tas Cibaduyut yang tak jarang lebih bagus mutunya daripada tas-tas impor yang ditirunya, begitu juga film-film India tiruan itu. Saya punya contoh Sirf Tum. Bertutur tentang gadis desa dan sopir bajaj New Delhi yang tidak saling mengenal namun saling jatuh cinta hanya lewat surat, film ini segera saja mengingatkan kepada You’ve Got Mail. Namun bagaimana Sirf Tum bisa mengubah dongeng romantis Amerika menjadi kisah cinta yang mengiris khas anak benua Asia adalah sebuah hal yang sangat istimewa—dan memperkaya, tentu saja. Mengubah kisah cinta sepasang pria-wanita terdidik New York menjadi kisah cinta sejoli sudra New Delhi, mengganti e-mail dengan surat, serta mengubah hubungan rumit dan menjengkelkan dua orang pedagang buku yang bersaing dengan hubungan yang mengaduk emosi antara sopir bajaj yang tengah kalut karena baru keluar dari pekerjaannya dengan penumpang perempuan yang tersesat karena baru pertama kalinya datang ke kota (mencari kekasih yang tak dikenalnya), menurut saya, adalah standar sempurna apa yang disebut adaptasi—terutama yang melibatkan perseberangan budaya. Karena Sirf Tum jauh lebih menyentuh ke-Asia-an saya, lagi pula hanya bisa saya temukan di televisi dalam sebuah kondisi kebetulan yang luar biasa, sementara You’ve Got Mail bisa saya tonton kapan saja saya sempat, maka dengan tegas saya menyatakan kalau film yang dibintangi oleh Sanjay Kapoor ini jauh lebih baik dari filmnya Tom Hank itu.

Sampai di sini, jika kebanyakan penulis kisah romantis hanya punya referensi You’ve Got Mail namun tidak punya Sirf Tum, sementara saya punya kedua-duanya, bukankah saya lebih kaya?

c. Menjadikan Istimewa

Ini adalah bagian dampak paling komplek namun paling penting yang bisa saya peroleh dari film India. Namun karena kuatir uraiannya nanti membuat tulisan ini bisa dua-tiga kali lebih panjang, sebaiknya saya menyingkatnya saja. Hanya karena menonton film India-lah saya bisa menulis tulisan ini. Dan itu sudah cukup membuat saya merasa istimewa.

4/

Sembari menirukan suara Kavita Khrisnamurty pada salah satu OST Pardes, tulisan ini saya tutup dengan sebuah dendang: I love my India/ Sajan mera India....


Sambilegi, 04-03-11






















Category:Movies
Genre: Action & Adventure
Machete, bagi saya, adalah etalase yang memamerkan kepada kita, hampir semua hal yang merepresentasikan apa yang disebut secara sederhana sebagai film Laga, Paha, dan Dada. Machete adalah instalasi yang disemangati dua hal yang paling lama bertahan dan paling banyak ditonton dalam industri gambar bergerak: kekerasan dan ketelanjangan. Sekujur film ini dibanjiri oleh darah yang muncrat, anggota tubuh yang penggal, senjata yang beradu, senapan meletup, mobil berguling, bangunan meledak, dan tentu saja perempuan-perempuan tanpa busana yang merajalela. Di sini, kekerasan dan ketelanjangan dirayakan. Dan, tak beda dengan film-film Barry Prima punya kita, ini kisah tentang jagoan yang dizalimi, mencoba bertahan, lalu membalas dendam, dan—tidak boleh tidak—meniduri para perempuan.

Dalam hal detail kekerasan, film ini rasanya membebaskan saya dari rasa penasaran yang selama ini tersimpan, sejak terakhir menonton film-film macam Jaka Sembung, Pertarungan Iblis Merah, atau Pembalasan Si Mata Malaikat pada pengujung usia SD. Meski awalnya takut setengah mati, tak bisa saya lupakan betapa buruk dan palsunya adegan pencungkilan mata Jaka Sembung oleh Kompeni Belanda. Juga perihal terpenggalnya kepala Si Mata Malaikat: mengapa begitu kepalanya putus, pundak Advent Bangun jadi menjulang tinggi? Sementara Pertarungan dua Iblis Merah yang semestinya penuh darah itu tak juga membebaskan dirinya dari muncratan kecap dicampur saus tomat. Machete, dibanding itu semua, tampak begitu paripurna. Golok dan peluru menembus tubuh dengan cara yang amat biasa (alami, maksudnya). Kepala-kepala menggelinding dengan normal. Darah muncrat dengan lancar, meski kadang terlalu banyak. Bagi yang pernah melewatkan malam-malam Jumatnya dengan film-film Mandarin di Layar Emas RCTI, dan menganggap film-film penuh muncratan darah macam Blade, The Killer, atau Peace Hotel terlalu suram, Machete menampilkannya dalam gambar yang terang-benderang. Meski demikian, tak usah kuatir menjumpai kekerasan ala fim pencacah (apa istilah Indonesia yang pasa slasher movie?) semacam Saw dan para pengikutnya atau film-film Jepang absurd punya Sono. Machete, dalam pandangan saya, merayakan kekerasan sebagai karnaval, bukan sebagai ritual (apa bedanya, lihat penjelasannya nanti).

Ketelanjangan? Aha..., tak perlu cemas mengalami kepenasaranan seperti saat menonton gelinjang Suzanna, Yurike Prastica, Sally Marcelina, atau Malvin Sayna saat menurunkan kembennya dan menyingkap pahanya (dan sudah sampai di situ saja). Tak usah kuatir kalau trauma kebugilan Peng Tan yang terpotong sensor menimpa kembali. Di Machete, Rodriguez menyuguhi kita Lindsay Lohan, Jessica Alba, dan beberapa lainnya, telanjang secara sempurna (walau, menurut nama terakhir, tubuh telanjang di kamar mandi itu bukan miliknya). Namun, buru-buru harus segera ditambahkan, kita tidak sedang membicarakan film-filmnya Bertolucci, atau Sinema Baru-nya Prancis, atau film-film Amerika-nya Kauffman yang berating R itu. Ketelanjangan dalam Machete tidak disajikan dalam kewajaran cerita, tak dikonstruksi logika-logika pembebasan, dan tak dibela oleh faham-faham antikemapanan. Perempuan-perempuan itu telanjang karena, dalam formula wajib B-Movie, memang harus ada perempuan yang telanjang (atau terlihat telanjang). Mereka bugil karena, dalam film seperti itu, penonton memang berhak untuk menonton perempuan bugil. Tak seperti, katakanlah, Monica Belucci atau Juliette Binoche yang telanjang hampir untuk dirinya sendiri, Jessica Alba dan Lindsay Lohan ditelanjangi justru untuk ditonton.

Bagi generasi yang besar di tahun ’90-an, yang tak henti diiming-imingi film-film seksi namun dipaksa untuk terus bersikap sopan, yang layar tancap dan video-video sewaannya dipenuhi perempuan-perempuan mendesah meski cuma dielus dengkulnya, yang disuguhi film-film laga yang tampak sangar dan penuh darah—meski yang muncrat adalah campuran kecap dan saus tomat, yeah...sebuah generasi yang dibujuk untuk onani namun secara bersamaan tak boleh diselesaikan, kekerasan dan ketelanjangan dalam Machete, rasa-rasanya, menyelesaikan semua ketidaktuntasan yang terpendam. Meski demikian, bukan berarti usai menonton film itu terus membuat saya buru-buru ke belakang. Tidak. Bukannya meraba selangkangan, saya justru dibikin memegang perut akibat tertawa. Ya, sebab secara keseluruhan, kepuasan akan kekerasan dan ketelanjangan itu disajikan untuk dimain-mainkan dan pada akhirnya ditertawakan.

Saya menyukai Machete dan memuja Rodriguez karena semangat main-mainnya.

***

Saya tahu Machete dari proyek main-main Rodrigues (bersama Tarantino) berjudul Planet Terror, yang dibikin sebagai tributnya kepada film-film kelas kambing yang membesarkan mereka. Machete membuka Planet Terror sebagai sebuah triller palsu, yang dijelaskan dengan sungguh-sungguh meskipun tidak ada barangnya (seperti “Tlon, Uqbar, Tortius”-nya Borges). Tak berharap film itu benar-benar dibuat, eh, mak bedunduk, iklan sungguhannya muncul di televisi Indonesia. Mulai jengah dengan semakin seriusnya Dedy Mizwar dengan proyek moralisnya dan Hanung yang semakin bersemangat merayakan ke-Islam-annya, saya menunggu Machete untuk jadi alasan datang ke bioskop. Tapi Machete tak muncul di bioskop-bioskop kesayangan Anda. Setelah mendapatkan bajakannya, saya segera tahu alasannya.

Selain cara membuatnya, semua yang ada pada Machete adalah main-main. Kita mulai dari para pemainnya. Dilihat dari para pemainnya, mulai dari Jessica Alba, Lindsay Lohan, Michelle Rodriguez, Jeff Fahey, Steven Siegel, hingga Robert De Niro, film ini jelas amat memenuhi syarat untuk dibikin film triller heroik tentang perjuangan Amerika melawan penjahat Rusia, atau Arab, atau Korea Utara, atau para alien berwajah kucing setengah belalang yang bisa berubah wujud jadi meja dan kursi. (Lebih-lebih jika pemain-pemain ini dipegang sutradara macam Uwe Boll, Mario Kassar, Michael Bay, Rolland Emmerich, atau James Cameron.) Namun, di tangan Robert Rodriguez, muncullah film jagoan yang justru anti-hero.

Mengesampingkan bintang-bintang besar itu untuk ditaruh di deretan belakang pelakon, ia justru menaruh Danny Trejo di barisan terdepan. Tahu Danny Trejo? Kalau tak biasa sabar menonton film hingga kredit terakhir, rasanya agak sulit mengetahui orang ini (meskipun begitu melihatnya di film, kita akan segera mengenalinya). Dalam kancah Hollywood, Trejo hampir tak pernah jadi tokoh baik. Namun begitu, ia juga bukan penjahat yang menonjol (semisal Dolp Lundgren dalam seri Rocky-nya Stallone atau Bolo Yeung dalam francais Blood Sport-nya Van Damme, atau WD Mochtar dalam film-film Rhoma atau Advent Bangun dan Yosep Hungan dalam film-filmnya Barry Prima). Trejo adalah pemeran penjahat yang ditakuti penonton jirih, tapi biasanya tewas sekali tebas oleh sang tokoh utama. Dalam khazanah film Indonesia, Trejo adalah aktor yang memerani jenis-jenis “penjahat buruk rupa suka tertawa”, yang muncul paling belakang dan mati paling awal. Wajah mengingatkan pada salah satu pemerkosa pada film-film Suzanna, Ia jauh dari sosok pahlawan klasik nan ideal. Dalam bayangan saya, Machete yang dimainkan Trejo mungkin sejenis Boneng dalam serial Rumah Masa Depan.

Oleh Rodriguez, Boneng yang kacangan itu disulap jadi pahlawan. Yang lebih menarik, Boneng si pahlawan ini mesti memberantas para bajingan yang biasanya muncul justru sebagai Jaka Sembung, si Jampang, atau semacamnya. Sebagai Machete, Trejo memerankan seorang mantan polisi federal Mexico yang tak lagi memiliki apa-apa selain dendam, setelah istri dan anaknya dibantai didepannya oleh sang penjahat. Steven Siegel, pahlawan kalem tapi ganas yang dipuja remaja putus sekolah dan pemuda pengangguran di seantero negeri berkembang itu, yang biasanya memerankan tokoh-tokoh yang mirip-mirip Machete, justru jadi Torres, bajingan sadis, pembantai keluarga Machete, yang tangannya tak pernah lepas dari susu para gadis. Jeff Fahey, yang biasanya jadi pahlawan flamboyan, bergeser sedikit jadi penjahat berpenampilan rapi dalam diri Booth.

Yang bertransformasi total adalah Robert De Niro. De Niro jadi penjahat tentu bukan hal baru. (Kurang apa jahatnya Travis Bickle dalam Taxi Driver atau Al Capone dalam Untouchable? Jika itu tak cukup, lihat juga Casino dan Cape Fear.) Namun, di Machete, De Niro muncul dengan cara yang benar-benar berbeda. Jika biasanya ia jadi penjahat keren, di Machete De Niro memerankan Senator McLaughlin yang komikal. Agak mirip dengan namanya, McLaughlin adalah bajingan konyol yang pantas ditertawakan: bermuka, berbicara, dan berpikir seperti Presiden Bush, ia mati dengan cara lucu oleh perangkap yang dibuatnya sendiri.

Lalu apa kabar para perempuan? Sorry untuk teman-teman pembela harkat perempuan, sebab di film Rodriguez memperlakukan mereka tak jauh beda dengan Ferry Angriawan dari Virgo Film memperlakukan aktris-aktrisnya. Persis dengan panduan cara pembuatan film eksploitasi, mereka adalah pemanis gambar sekaligus pelengkap agar si pahlawan kita tampak lebih gagah. Lindsay Lohan (sebagai April Booth), Jessica Alba (sebagai Detektif Sartana), dan Michelle Rodriguez (sebagai Luz) secara bergantian merasakan kejantanan Machete, sebelum kemudian membantu sang pahlawan memberantas musuh-musuhnya. Jika mereka kemudian muncul sebagai polisi, pejuang revolusi, perawat, hingga biarawati, jelas itu bukan wujud kesetaran gender. Sebaliknya, Rodriguez justru mendapatkannya dari genre woman exploitation dan, selebihnya, dari khazanah fetish-pornografi.

Dalam bercerita, Rodriguez mengikuti dengan hampir setia formula film-film genre eksploitasi. Seperti ribuan jagoan lainnya, jagoan-jagoan kita di Machete selalu saja bisa ditemukan hidup lagi, meskipun secara logis dan medis semestinya mati. Karena itu, tak usah kaget melihat Machete yang dibakar hidup-hidup di Mexico tiba-tiba saja telah berada di daerah perbatasan Amerika dengan tubuh utuh tanpa cela. Juga tak perlu kagum kalau Luz yang telah diratapi peti matinya tiba-tiba muncul kembali dengan menyandang senapan otomatis yang lebih besar dibanding yang dipegang Arnold dalam Commando. Soal memanfaatkan tubuh perempuan, Rodriguez juga tak menyimpang dari pakem-pakem yang telah dipakai oleh ribuan film “kerakyatan”. Karena ketelanjangan yang disajikan memang untuk penonton, maka penonton tak perlu diberikan alasan tentang ketelanjangan itu: mana suka dan kapan saja. Maka, boleh saja perempuan korban penculikan yang hendak diselamatkan Machete justru muncul tanpa sehelai benang. Tak usah dipikirkan kenapa tanpa sebab-musabat Detektif Sartana mandi telanjang justru saat judeg-judegnya mencoba menguak masa lalu Machete.

Namun, secara bersamaan, Rodriguez juga mempermainkannya. Karena semangat main-mainnya yang tak disembunyikan itu, kekerasan dan ketelanjangan yang disajikan Machete tak sampai membuat penonton muntah atas-bawah. Bukannya mual, saya justru tertawa terpingkal-pingkal saat melihat Machete meloncat dari jendela rumah sakit dengan bergelantungan pada usus lawannya yang terburai begitu panjang. Bukannya tegang, kita hanya dibikin tersipu (karena sedikit mengingatkan pada adegan klise film pendek—yang biasanya cuma sekeping itu) saat Machete “ngijeni” ibu-anak June dan April Booth untuk direkam guna membuat marah sang ayah. Adegan puncak, yaitu pertarungan antara Machete yang bergolok melawan Torres yang bersamurai, yang semestinya penuh ketegangan justru ditutup dengan adegan ger-geran. Dalam keadaan sekarat karena telah terhunjam golok di perutnya, bukannya bertahan untuk melancarkan serangan pamungkas, Torres justru memutar-mutar golok yang menancap di perutnya seakan pengorek kuping. Jangan lewatkan pula adegan Senator McLaughlin tiba-tiba saja berubah jadi Travis Bickle. Itu terjadi saat tokoh yang diperankan De Niro itu, tanpa alasan yang kuat, keluar dari limonya untuk merebut taksi kuning di depannya. (Saya tak tahu, apakah para pemuja Scorcese akan tertawa atau justru menyumpah-nyumpah melihat bagian ini). Perhatikan pula narasi yang menyertai tulisan-tulisan merah besar yang muncul begitu gambar terakhir melenyap: “MACHETE/ WILL RETURN/ IN/ MACHETE KILLS/ AND/ MACHETE KILLS AGAIN.”

Satu-satunya hal yang agak (sekali lagi ‘agak’, jadi jangan dilebih-lebihkan) serius dari Machete adalah disinggungnya isu imgrasi dalam kebijakan dalam negeri Amerika. Melalui sosok politisi ultra kanan pada diri Senator McLaughlin, yang menggambarkan para imigran sebagai wabah yang harus digebah, Machete mengejek habis-habisan sikap Amerika di perbatasan Mexico. Namun Machete tidak muncul untuk melawan itu, tak seperti Beyond Borders yang melawan ketimpangan dunia atau Kite Runner yang mengutuk ekstremisme agama sembari mengulurkan penebusan rasa bersalah ala Amerika.

Machete memang memimpin para imigran memerangi para Hawkis, tapi ia tak ada sangkut pautnya dengan itu semua. Bahkan saya tak benar-benar menangkap dalam keseluruhan film, apakah Machete melakukan pembalasan demi membela kebenaran dan keadilan—sebagaimana yang diperjuangkan oleh Luz dan dipilih oleh Detektif Sartana. Bagi Machete, orang-orang seperti Booth, McLaughlin, atau Torres harus mati, bukan untuk kebijakan imigrasi yang lebih longgar, melainkan untuk menuntaskan dendam. Karena itu, di akhir cerita, ia tak menggubris status resmi dan menjadi manusia nyata yang tercatat dalam statistik Amerika. “Aku tidak perlu menjadi nyata, karena aku sudah jadi legenda,” begitu katanya, sembari melumat bibir Jessica Alba.

***

Oke, resensi ini rasa-rasanya sudah tak berbentuk lagi. Jadi, sebaiknya diakhiri sampai di sini saja. Lagi pula, tentu lebih bermanfaat jika saya menulis yang jauh lebih jelas dan terlihat berguna. Yeah, begitu usai menonton Machete, saya memang sudah membayangkan sebuah adaptasinya. Novel berjudul Mat Dalil, berkisah tentang seorang resedivis Madura yang memimpin para pendatang haram di Selat Malaka. Lawannya Dul Imin, gembong mafia perdagangan manusia yang sekaligus juga oknum Kemenakertrans RI yang berkomplot dengan Rajababhu, seorang politisi garis keras UMNO keturunan India yang menguasai Jawatan Imigresen Malaysia. Ada yang tertarik (Mam, nDra, Bal)?


ReviewReviewReviewReviewReviewNov 22, '10 7:22 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Mahfud Ikhwan
Judul: Ulid Tak Ingin ke Malaysia

Penulis: Mahfud Ikhwan

Tahun Terbit: 2009

Penerbit: JB Publisher, Yogyakarta

Halaman: +- 400 hlm.



Adakah di antara kalian ingat dengan buku itu?


Ya, buku kuning bergambar perempuan yang menyedihkan dan penegas judul berbunyi “base on true story” yang tak kalah menyedihkannya itu. Buku yang dengan susah payah ditulis hanya untuk kemudian dilupakan, atau berusaha dilupakan. Karena itu, sebelum orang-orang (tepatnya, beberapa orang) benar-benar lupa, aku, sebagai orang yang terlibat dengan lahirnya buku itu, merasa sudah waktunya menulis tulisan ini—entah apa namanya dan jenisnya tulisan macam ini.


Buku itu aku susun dan kumpulkan dari surat-surat panjang (atau anggap saja semacam itu) yang ditulis kakakku, Cak Ulid. Jika ada yang belum tahu, dia seorang TKI—dan sepertinya akan terus begitu, sebagaimana TKI-TKI lain di desaku, Lerok. Dari mana dia punya energi dan “kemampuan” sehingga mampu menulis 400 halaman kuarto, font 12 Times New Roman, spasi 1,5? Kalau kalian merasa itu ganjil, demikian juga aku. Dia, setahuku, punya kemampuan menulis surat yang baik karena sudah sejak kecil dibiasakan begitu, sebagaimana banyak bocah Lerok. Tapi, kenapa hanya dia yang bisa menulis setebal itu, sementara sepanjang tahun ada ratusan bocah Lerok ditinggalkan bapak-emaknya? Membaca surat-suratnya, yang kemudian aku susun menjadi buku Ulid itu, dan menemukan betapa ia mencintai sandiwara radio, mudah sekali kita curiga bahwa dari budaya pop era ’80-an itulah ia memupuk kemampuan naratifnya. Tapi beralih dari narasi yang didengar (sandiwara radio) kepada narasi yang ditulis (buku) tentu saja bukan sebuah proses yang serta-merta.


Ya, ada sebuah tahapan penting dalam peralihan itu yang sayangnya tak diceritakan kepada kita di buku tersebut (aku tak tahu persis alasannya). Yang jelas, sebuah tali maya yang mengikatkan masa kecilnya dengan jagoan-jagoan sandiwara radio seperti Brama Kumbara dan Arya Kamandanu, pada satu masa menyambungkannya dengan Wiragaleng, tokoh utama dalam epos Arus Balik, bikinan Pramoedya Ananta Toer. Pertemuan itu tampaknya sangat mengesankannya, sehingga ia tak pernah bisa menceritakannya dengan baik kepadaku; ia selalu saja terlalu bersemangat saat mengisahkannya. (Sebagai mahasiswa sastra yang tahu bahwa kebanyakan mahasiswa sastra baru menemukan Arus Balik pada tahun ketiga kuliah atau bahkan setelah skripsi, aku bisa bayangkan betapa mengesankannya pertemuan Ulid, si TKI, dengan Wiragaleng, tokoh rekaan yang belakangan memiliki kedudukan hampir setara dengan nama macam Arcadio Buendia-nya Marquez.) Singkat cerita, Wiragaleng menuntut kakakku untuk melacak Minke, dan ia mendapatkannya—di perpustakaan-perpustakaan yang dikunjunginya di negeri seberang tempat ia menukang batu. Dari Wiragaleng dan Minke, ia mengenal lebih banyak tokoh-tokoh rekaan Pram, dan kemudian Pram itu sendiri. Hasil perkenalannya itu sebagian dibawanya pulang dan dibaginya kepadaku. Dan aku, akibat terpengaruh “pertemuan”-nya dengan tokoh-tokoh Pram itu, tiba-tiba saja merasa memiliki pilihan lebih sesaat lulus SMA: menjadi mahasiswa sastra.


Meski demikian, Ulid ditulis bukan karena tokoh-tokoh bikinan Pram itu. Ada pertemuan lain yang jadi pemantiknya, yaitu dengan Apu. Nama yang disebut terakhir itu adalah tokoh rekaan Banerji, seorang pujangga Bengala awal abad 20. Untuk kali ini, akulah biang keladinya.


Pada semester ketiga kuliah, aku menemukan sebuah buku aneh di Perpustakaan Fak. Sastra UGM. Di bagian rak yang berdebu karena jarang dirambah, aku sering melihat sebuah buku bersampul hitam dengan gambar Syiwa yang menari dalam lingkaran matahari berwarna keperakan, yang menurutku disetting dengan gegabah, jika kita memerhatikan bahwa gambar Syiwa itu tidak ditempatkan tepat di tengah sampul. Karena aku mengira buku itu sejenis buku keagamaan Hindu, aku tak pernah benar-benar memerhatikannya hingga waktu yang cukup lama. Aku baru tahu kalau prasangkaku itu salah ketika seorang teman yang sedang gelisah dengan keyakinannya dan mencoba mencari-cari—termasuk dengan mencoba mencarinya di buku hitam itu—mengatakan kalau buku itu telah menipunya. Saat itulah, setelah membaca pengantar panjang T.W. Clark (penerjemah buku tersebut ke dalam bahasa Inggris), aku buru-buru mencatatkan diri untuk menjadi peminjam buku tersebut berikutnya. Setelah tiga hari menyelesaikan membacanya, Pater Pancali, judul buku bersampul hitam itu, kemudian menjadi buku di perpustakaan Fak. Sastra yang paling sering aku pinjam.


Buku itu sangat mengingatkanku kepada desaku, Lerok, dan kakakku, Ulid. Desa miskin di pinggir hutan, ibu penyayang yang jadi pemarah karena begitu tertekan, ayah yang pandai bercerita namun tak cukup lihai dalam mengumpulkan rejeki, dan anak lelaki menderita yang terlalu mencintai barang-barang remehnya mengarahkan pada cerita lain yang sering aku dengar: cerita dari dan tentang kakakku dan desa kami di masa yang agak lalu. Hal itulah yang aku ceritakan kepada kakakku saat ia, untuk pertama kalinya, mengunjungiku di Jogja. Ia membaca buku itu lebih cepat dariku. Kesan apa yang didapatnya, tak benar-benar diceritakannya kepadaku. Namun, buku pinjaman dari perpus itu lepas dari tangan dan matanya dengan halaman-halaman penuh coretan. “Kopikan aku satu.” Itu saja katanya. Aku tak perlu mengopikannya, sebab pada sebuah pameran buku yang diikuti oleh Pustaka Jaya, buku hitam itu aku temukan bertumpuk-tumpuk tak dibeli orang. Aku beli dua, satu aku pajang dirak kosku, satu aku kirim ke Malaysia untuk kakakku. Dan tak lama setelah itu, mengalirlah surat-surat panjang darinya, dengan gaya narasi yang dengan mudah bisa dianggap sebagai “meniru” Banerji, penulis Pater Pancali. (Dalam hal ini, sangat tepat apa yang dikatakan Indi Aunullah, satu-satunya orang yang pernah menulis resensi Ulid.)


***


Kakakku tak serta-merta mengubah dirinya dari seorang TKI rendah diri menjadi penulis fiksi yang angkuh. Meskipun menceritakan hal-hal yang aku tahu sebagian besar memang benar-benar terjadi dan dialaminya, tapi ia tidak bercerita tentang Ulid, melainkan tentang Makeput (baca, Mahfud). Jelas, dalam hal ini, ia meniru Banerji; jika Banerji bersembunyi di balik nama Apu, Ulid berlindung di bawah nama Makeput. Selain itu, kelihatan kalau ia tetaplah seorang anak desa kebanyakan yang selalu rikuh kalau dianggap menonjolkan diri—meskipun alasan yang dikemukakannya adalah cerita ini memang didesikasikannya untuk Makeput atau Mahfud, teman yang disayanginya (yang itu bisa ditemukan pembaca dalam buku).


Kalau buku itu kemudian terbit dengan tokoh utama dan judul Ulid, itu tak lepas dari bujukanku yang keras sekaligus licik. “Kalau tokoh utama tetap Makeput, aku tak mau mengeditnya,” begitu ancamku. Dan akhirnya ia mau. Tapi, ia kemudian memukulku balik dengan telak: aku kecolongan di detik-detik terakhir ketika tiba-tiba saja ia memaksaku untuk mencabut namanya dari buku yang ditulisnya itu untuk diganti dengan nama Mahfud, nama yang semula aku hapus dari nama tokoh utama. Awalnya, ia menginginkan namaku di buku tersebut. Jelas aku menolak, karena memang merasa tak punya hak untuk menuruti keinginannya itu. Setelah berdebat panjang, nama Mahfud Ikhwan (nama teman kakakku) menjadi titik di mana aku menyerah. “Bukannya kau bilang,” demikian katanya dengan mematikan, “Mark Twain bukan nama asli? Demikian juga HAMKA, Multatuli, dan banyak lagi?”. Ya, kalian harus tahu, itu kekalahan yang menyakitkan buatku, sebab ia memukulku dengan informasi yang justru berasal dariku. Tapi, bagaimana lagi, ini bukunya. Ia boleh melakukan apa saja atasnya. Kalau kau keberatan namamu dipakainya, kau tak punya hak untuk memakai nama yang lain, bukan?


Hal lain yang menunjukkan kalau ia tak lain dan tak bukan adalah bocah lerok yang canggung dan tak juga memiliki egoisme (dalam kadar tertentu) khas penulis adalah tawarannya yang bertubi-tubi kepadaku untuk mengubah cara berceritanya jika aku berpendapat cara menulisnya tidak menyenangkan. Lagi-lagi aku menolaknya. Selain itu bukan hal yang patut aku lakukan, aku katakan berkali-kali kalau aku suka cara menulisnya. “Bagaimana kalau dikatakan orang mirip Banerji?” demikian tanyanya dengan ragu. Aku bilang, kenapa harus takut. Bukankah orang berbondong-bondong menulis ala Marquez atau Chairil Anwar atau Rendra? Ia belum sempat membaca Marquez, karena itu ia sempat ngeyel. Namun, aku berhasil membuatnya diam seketika saat kulancarkan jurus pamungkas dengan mengatakan kepadanya, “Rhoma Irama saja sangat bangga Soneta dianggap meniru Deep Purple.” (Aha...! mana mungkin dia bisa dia menolak hal-hal yang berhubungan dengan Rhoma Irama?)


***


Ulid, dalam pandanganku, seharusnya memang begitu: memakai bahasa yang sederhana dan pilihan kata bersahaja (tak ada ‘sore yang lengas’ atau ‘wajah-wajah lesi’, apalagi yang sejenis ‘dewi malam berjalan gontai ke peraduan’ di buku itu.) Untuk orang ujub yang menganggap rumit itu keren dan kegelapan sebagai tanda kedalaman, bahasa Ulid mungkin terlalu datar. Ya, tak ada puncak-puncak pencapaian kebahasaan di situ. Juga, tak ada usaha menambah kosa-kata—sebagaimana yang sekarang menjadi obsesi banyak penulis Indonesia. Kalau pun ada, itu adalah bahasa desanya yang diserap dari bahasa cakapan Malaysia. Kakakku menulis dengan bahasa yang sudah ada, bahasa yang dianugerahkan Tuhan dan kehidupan kepadanya, yang tak banyak berbeda dengan banyak orang Lerok (baik yang tetap bertahan di rumah maupun yang merantau ke Malaysia seperti dirinya). Bahasa Indonesia yang dipakainya menulis adalah bahasa yang didapatnya dari sandiwara radio, lagu-lagu Rhoma Irama, pelajaran Bahasa Indonesia sepanjang ia sekolah, dan bahasa Indonesia lawas yang didapatnya di perantauan—yang oleh sebagian kita di Indonesia dianggap aneh atau tak dipakai lagi. Karena itu, jangan heran jika Ulid banyak memakai metafor yang merujuk kepada hal-hal yang diakrabinya, misalnya “seperti Brama Kumbara menghadapi para begundal kelas teri”. Beberapa frasa, seperti ‘sepelemparan batu’ atau ‘dua penanakan nasi’ jelas-jelas “dicuri” dari khazanah sandiwara radio (kakakku seharusnya mengucapkan terima kasih dan salam takzimnya kepada orang-orang macam Niki Kosasih dan S. Tijab).


Oh ya, yang patut disampaikan, terutama bagi yang belum tahu isi buku ini, tak kurang dari 3/4 buku ini adalah tentang hubungan yang rumit antara Ulid dengan sandiwara radio. Bahkan, pada 50 halaman kedua, tak ada yang diomongkan selain sandiwara radio. Aku kira kakakku tak keberatan jika dikatakan kalau Ulid adalah ‘cerita tentang Ulid dan sandiwara radio dan beberapa hal lainnya’—sebab itulah, aku sempat mengusulkan judul panjang yang agak sok: “Saat Ferry Fadly Telah Menghilang dari Radio, Ulid pun Mulai Mengembara”.


Untuk generasi yang lahir di awal 80-an, yang survive melewati era Pelita Kelima, dan besar dengan suara Ferry Fadly terngiang-ngiang di telinga, Ulid kuyakin akan jadi kuda tunggangan yang menyenangkan untuk mengembara ke masa lalu—kira-kira seperti Fever Pitch-nya Nick Hornby bagi pemuja Arsenal sebelum era Arsene Wenger. Bagi yang tak segenerasi dengan kakakku, seperti aku, kita mungkin akan sedikit pontang-panting mengikuti kegesitannya pindah dari satu sandiwara radio ke sandiwara radio lain, dari jagoan satu ke pendekar yang lain. Tapi jangan kuatir. Atas ijinnya, aku sering berinisiatif menambah anak kalimat bagi nama-nama atau judul-judul yang mungkin hanya bisa dikenali oleh kakakku dan orang-orang yang tumbuh sezamannya.


Namun, seperti yang aku katakan tadi, selain menggambarkan hubungan yang rumit antara Ulid dan sandiwara radio, Ulid juga menggambarkan hal-hal lain yang tidak ada yang lain kecuali hal-hal, benda-benda, dan cita rasa masa ‘80-an. Ia mencatut lagu-lagu yang didengarnya, acara-acara televisi yang ditontonnya, dan pengalaman-pengalaman sepele namun berkesan dalam baginya. Dalam banyak bagian, hal-hal ini dimasukkan oleh kakakku ke bukunya sama persis dengan cara ia memasukkan tata bahasa dan kalimat dalam keseleruhan Ulid: apa adanya, sebagaiaman yang ditangkapnya. Karena Rhoma Irama dan kasidah adalah irama yang baling banyak diperdengarkan di desaku, sebuah keadaan yang belum berubah hingga hari ini, maka musik, lirik, dan idiom-idiom dari dua hal itulah yang banyak ia pakai. Dan ketika musik Malaysia menyerbu desaku pada awal 90-an, yang dimulai oleh “Isabella”-nya Seacrh, maka tak ada pilihan lain kecuali kakakku memasukkannya dalam cerita. Ia sempat mencoba bergaya dengan memasukkan lagu grup Dewa, tapi segera ketahuan kalau ia memang tak benar-benar mengetahuinya. Karena itu, sia-sia kalau kalian mencari Fariz RM atau KLa Project. Jelas nama-nama itu tak masuk hitungannya.


***


Tapi apakah Ulid Tak Ingin ke Malaysia melulu bicara tentang Ulid dan usahanya yang terus-menerus untuk tak pergi ke Malaysia--yang akhirnya tak berhasil itu? Sekilas tampak seperti itu. Namun, jika dicermati lebih jauh, Ulid jelas tak hanya berkisah tentang Ulid saja. Ada “tokoh” lain yang tak kalah pentingnya di dalam Ulid, yaitu Lerok, desa kami. Lerok memang bukan nama orang. Tapi sebagaimana tokoh dalam sebuah cerita, Lerok dilengkapi oleh karakter, dan karakter itu—di sepanjang novel—terus berubah. Meminjam cara pandang Stantonian (nama yang tak asing di fakultas-fakultas sastra di universitas mana saja di Indonesia), eksistensi "tokoh" Lerok di dalam Ulid, dikuatkan oleh hal-hal yang melingkupinya, seperti bukit-bukit, hutan, jubung pembakaran gamping, bengkuang, televisi, hingga listrik. Kakakku, sadar atau tidak, membutuhkan bukit, hutan, jubung, bengkuang, televisi, dan listrik, bahkan batu-batu dan kayu-kayu, hadir dalam ceritanya karena ia ingin menghidupkan “tokoh” Lerok.


Lerok adalah sebuah desa terpencil dan miskin. Tempat ini punya bukit-bukit, hutan, jubung-jubung pembakaran gamping, dan bengkuang. Lerok bisa hidup, namun tetap miskin. Dan ketika dunia di luar sana bergejolak oleh kebutuhan untuk mengkonsumsi, Lerok yang awalnya tenang itu ikut bergejolak dan akhirnya turut serta dalam rombongan besar itu. Karena Lerok tak memiliki hal yang lebih untuk bisa memenuhi kebutuhan itu, Malaysia kemudian dilirik. Dan setelah mengenal Malaysia, lambat-laun Lerok pun berubah. Wajahnya yang dulu terlihat samun jadi lebih cerah. Tingkahnya yang awalnya kalem jadi lebih lincah. Uang ringgit, listrik, barang elektronik, juga jalan-jalan yang bagus dan kendaraan-kendaraan yang melewati, adalah hal-hal yang bertanggung jawab terhadap perubahan itu.


Dan kakakku berusaha dengan tekun mencatat perubahan Lerok itu. Dalam banyak bagian, ia tidak menyukai perubahan itu. Sebab, untuknya, perubahan-perubahan itu datang bersama perginya hal-hal yang disukainya: sandiwara radio, jubung, bengkuang, juga bukit-bukit dan hutan, dan terutama bapak dan emak kami, dan—akhirnya—dirinya sendiri. Meski demikian, ia berusaha keras untuk tak meratap. “Ia tak merasa harus menghalangi yang hendak berubah atau bahkan yang akan hilang. Tapi ia pasti akan berdosa jika sampai melupakan,” demikian kakakku menjelaskan posisi dirinya atas perubahan itu.


***


Membahas sebuah pekerjaan yang kamu terlibat di dalamnya, apalagi dalam hal tulis-menulis, adalah sebuah hal yang tak lazim. Tapi, entah kenapa, aku merasa harus melakukannya, dengan mengabaikan apakah hal itu lazim atau tidak, bahkan soal pantas atau tidak. Aku juga mengabaikan tanggapan atas bobot bahasan ini mengingat hubungan yang tak terpisahkan antara pembahas dengan apa yang dibahasnya. Jika karena persoalan conflict of interest kalian tak percaya dengan apa yang aku tulis ini, tak apa. Aku santai saja. Kalian tahu, itu tak ada bedanya dengan ketidakpercayaanku dengan kebanyakan resensi (buku atau film) yang ditulis sekadar untuk memperoleh duit 200-350 ribuan atau untuk dapat buku atau tiket bioskop gratis.


Tapi kalau boleh memberi saran, aku sarankan kalian membaca buku kuning yang malang ini. Aku tak yakin kalian akan memperoleh kesenangan dari buku itu—meskipun tulisan panjang ini adalah usaha terakhir untuk meyakinkan siapa pun kalau buku kuning itu sebenarnya jauh lebih menarik dibanding sampulnya dan label “base on true story”-nya (meminjam komentar seorang pembaca Ulid bernama Juwita Kartini Sibuea). Aku juga tak menjamin pembaca memperoleh inspirasi tertentu, sebab kakakku memang tak sedang menulis sejenis buku chicken soup. Tapi, paling tidak, dengan membaca buku ini, kalian menyenangkan kakakku yang masa kecilnya kurang bahagia itu. Ya, syukur-syukur bisa menambah uang sakunya untuk tak terlalu banyak menanggung hutang kepada penerbit yang menerbitkan bukunya itu. (Jika kalian tak cukup punya energi untuk melakukan advokasi kepada para TKW yang disiksa majikannya, paling tidak kalian telah berbuat baik dengan meringankan hutang seorang TKI pria bernama Muhammad Maulid.)


Atau, paling tidak, dengan semakin terbacanya buku kuning tersebut, nama Mahfud Ikhwan (teman kakakku yang malang yang namanya dipinjam untuk buku itu) akan lebih banyak dikenal. Kurasa, itu tindakan yang cukup budiman, bukan?



*sebuah fragmen dari embrio novel berjudul BEK, yang sedang dipersiapkan bersama oleh M. Isnani Anshari dan Mahfud Ikhwan.





Blog EntryOct 4, '10 11:27 PM
for everyone

 

  

Tanggal 30 September, saya seharusnya telah menyelesaikan sebuah novel baru, mengeprintnya, mengkopinya menjadi empat, menjilidnya, lalu mengirimkannya ke Cikini Raya. Tapi, sudah sejak dua hari lalu, saya telah menyerah (huh, jalan yang telah ditemukan itu rupanya masih sulit dilewati...). Sebagai pelarian, saya memutuskan akan membuat sebuah resensi film bergenre woman exploitation tahun 1980 berjudul Escape From Hell. Pikir saya, itu pasti akan jadi tulisan yang pas untuk menyambut Hari Eksploitasi Pancasila tahun ini. Namun, pada siang tanggal 30, saya justru begitu menggebu ingin menulis sebuah ikhtisar dengan judul (di kepala) “Gombal dan Revolusi”, akibat sepanjang pagi membaca tulisan William Frederick yang lucu tentang pakaian para pemuda pada masa Revolusi. Tapi, sebelum soal gombal itu terealisasi, hasrat menulis saya pindah lagi. Kali ini, setelah menonton MTV di sore hari, saya ingin bicara tentang lirik-lirik lagu Sheila On 7—sebuah hal yang sudah sangat lama ingin saya lakukan.

 

Tapi, pada 1 Oktober dini hari, yang saya tulis justru sebuah obituari.

 

***

 

Seorang bocah dengan seragam hijau-kuning (khas TK Aisyiyah Bustanul Athfal) berdiri di atas tumpukan batu. Umurnya belum 5 tahun. Matanya sembab, seperti habis menangis. Cara berdirinya canggung, seakan enggan dibidik kamera. Begitulah ingatan saya tentang—sepanjang yang saya tahu—foto pertama saya. Tidak seperti foto kebanyakan anak-anak masa itu yang diambil oleh Khumaidi, tukang potret keliling satu-satunya di dunia yang dikenal di desa saya, foto itu hasil jepretan Pak Yudho. Dialah satu-satunya orang yang punya kamera—selain juga orang pertama yang punya motor Vespa—di desa saya kala itu.

 

Hingga agak besar, hanya sedikit yang saya tahu tentang Pak Yudo. Nama lengkapnya Yudho Premono. Jika dibandingkan dengan nama macam Muslihan, Asmuri, Sulhan, Barto atau sejenis Mahfud Ikhwan, Sofiyul Halim, Kirom Annajad, jelas Yudho Premono bukan nama asli orang pelosok pantura Lamongan. Lebih-lebih jika melihat sosoknya: kulit putih, kacamata minus, dan kumis yang dicukur rapi yang bersambung dengan janggut mengelilingi mulut. Ya, dengar-dengar, ia orang Jogja. Ia datang ke desa saya kira-kira pada paro akhir 70-an, mengikuti istrinya, Idjemilah (Bu Djem), yang jadi guru SD Negeri di desa saya. Konon, ia seorang wartawan di Surabaya. Mungkin karena itu, ia punya kamera dan agak jarang terlihat di rumah.

 

Saat duduk di kelas 1 SD, saya mendapat masalah berkait Pak Yudho. Waktu itu wali kelas dan guru saya satu-satunya adalah Bu Djem. Entah karena saat itu sedang kesal dengan bu guru, atau cuma ingin nakal saja, saat istirahat sekolah, sembari berlari ke rumah untuk makan, saya dan beberapa teman spontan meneriakkan kalimat “Bu Djem, Budho! Bu Djem Budho!” (maksudnya adalah ‘Bu Djem istri Pak Yudho’, meski dengan mudah terdengar semakna dengan ‘Bu Djem beragama Budha’). Bu Djem yang kami kira masih berada di kelas, tak disangka-sangka, ternyata berpapasan dengan kami di jalan—dari arah yang berlawanan—dan tentu saja mendengar teriakan-teriakan kami. Maka, ketika seisi sekolah telah bubar pada jam 11, kami, kira-kira berlima waktu itu, dipaksa Bu Djem untuk tinggal, berdiri di depan kelas, dihardik, dinasihati, dan dipukuli papan penggaris sampi setengah dua siang.

 

Pada awal 90-an, saat Keluarga Yudho adalah satu dari sekitar tiga orang di desa kami yang memiliki televisi (plus batreinya tentu saja), rumahnya menjadi tempat berkumpul orang-orang. Anak-anak seusia saya berkepentingan dengan televisi, yang menginjak remaja berkepentingan dengan anak-anak gadis keluarga Yudho yang mulai mekar, sementara orang-orang dewasa berkepentingan dengan papan-papan catur yang tersedia di beranda rumah. Saya pribadi, selain televisi, koleksi majalah Kuncung dan koran Berita Yudha milik keluarga ini adalah hal yang tak kalah menarik. Namun, hingga lulus sekolah dasar, saya tetap tidak mengenal secara pribadi Pak Yudho. Sebab, sampai saat itu, ia tetap jarang berada di rumah.

 

Saya lebih banyak akrab dengannya justru saat mulai meninggalkan rumah, yaitu saat mulai sekolah SMA di luar daerah. Rumahnya masih menjadi tempat berkumpul orang, seperti dulu, meski pemilik televisi kini semakin banyak. Tapi, alasan saya sering main ke sana bukan lagi karena televisi, bacaan, catur, atau—seperti kebanyakan remaja seusai saya—anak-anak gadis keluarga itu. Saya pulang dari pondok sebulan sekali. Dan jika saat pulang itu berpapasan dengan Pak Yudho di jalan (jika ia kebetulan berada di rumah), undangan setengah memaksa agar saya datang ke rumah selalu saja saya dapatkan. Ya, harus dengan bangga saya katakan, saya termasuk sedikit orang di antara teman-teman seusia saya yang datang di rumah itu karena diundang datang. Tentu saja, saya menyanggupi datang.

 

Pak Yudho tak menyembunyikan rasa gembira dan bangganya dengan pilihan saya untuk sekolah di SMA Negeri—tidak seperti kebanyakan anak desa saya yang sekolahnya berafiliasi dengan ormas atau malah sama sekali tak sekolah. (Sikap yang sama ia tunjukkan kepada seorang sepupu saya yang SMA Negeri lebih baik dari saya.) Dan karena rasa bangganya ini, saya (juga sepupu saya itu) selalu dipersilakan duduk di kursi, menonton televisi dari posisi paling nyaman, dan tak jarang mendapat tawaran kue atau bahkan makan malam. Tapi, tentu saja, hal terpenting dan paling menyenangkan yang saya dapatkan dari kunjungan yang kerap di rumah itu adalah cerita-ceritanya yang melimpah (sering berlebih), pikiran-pikirannya yang “merongrong”, dan sikap-sikap rada aneh yang belakangan saya kenali sebagai sebentuk idealisme. Dari sinilah, saya mengenal Pak Yudho lebih baik dan lebih personal.

 

Seperti yang pernah saya dengar waktu kecil, ia memang pernah menjadi wartawan. Seusai lulus Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Massa (Stikosa) Surabaya, ia jadi wartawan di sebuah media bernama (kalau tak salah) Surabaya Ekspress. Tapi cerita yang paling saya kenang dan saya sukai adalah saat-saat ia menjadi manajer penjualan Coca-cola di Sidoarjo. Ia mengklaim kalau ia adalah penjual Coca-cola di Indonesia generasi pertama. Klaimnya yang lebih hebat, ia punya andil besar dengan rasa Coca-cola khas Indonesia yang hingga hari ini bisa kita cicipi. Menurut cerita Pak Yudho, pada masa-masa awal peredarannya, Coca-cola begitu seret dijual. Selidik punya selidik (tentu oleh Pak Yudho), keseretan penjualan itu akibat rasanya “seperti uyuh coro”, karena hanya kecut getir saja, manisnya kurang. Maka, Pak Yudho merekomendasikan kepada bagian produksi untuk mengubah minuman Amerika itu menjadi lebih ter-Indonesia-kan, yaitu dengan menambah kadar kemanisannya. Rekomendasi itu diterima. Dan, setelah lebih manis, jadilah Coca-cola seperti yang sekarang ini kita tahu.

 

Mendekati masa-masa akhir SMA, hubungan kami menjadi lebih akrab lagi. Jika bertemu, ia tak habis-habis bertanya (atau lebih tepatnya tak lelah memancing jawaban) ke mana saya akan kuliah usai SMA. Ia bahkan pernah melakukan lebih jauh dari itu. Karena tahu saya berasal dari keluarga kurang mampu, ia coba memberi solusi dengan menawari saya ikut bekerja dengannya sembari kuliah di Surabaya (saat itu, ia bekerja sebagai kepala personalia sebuah perusahaan cleaning servis di Surabaya). Meski kemudian saya memutuskan untuk mengundi nasib ke Jogja, ia tetap memaksa saya untuk membawa serta kartu namanya (yang merupakan kartu nama pertama yang pernah saya lihat). “Siapa tahu sewaktu-waktu kamu membutuhkan,” demikian katanya waktu itu.

 

Meski intensitasnya menurun drastis, saat saya telah kuliah di Jogja, kami masih sesekali mengobrol. Seiring dengan rumahnya yang kini jadi jauh lebih sepi (mungkin karena televisi telah dimiliki oleh hampir setiap rumah dan warung kopi lebih disukai untuk tempat berkumpul, atau bisa jadi serangkaian kagagalannya di politik tingkat desa—yang nanti akan kita ketahui), ia menjadi tampak lebih kesepian dan pikirannya jadi terkesan semakin melambung-lambung. Yang masih sama, ia amat berbangga dengan kuliah saya. Setelah saya bekerja dan semakin jarang pulang ke rumah, bisa dikatakan kami sama sekali tak lagi menjalin kontak. Lebih-lebih setelah ia dan keluarga memutuskan untuk meninggalkan desa dan pindah ke Tuban—hingga ajal menjemputnya.

 

***   

 

Bagi saya, Pak Yudho adalah sosok yang unik—meski orang-orang cenderung menganggapnya aneh. Bicaranya yang menggebu (tak jarang meledak-ledak) namun tetap tertata, sangat membius, dengan mimik yang antusias dan gerak tangan yang aktif, membuatnya jauh lebih tampak terdidik dibanding siapa pun lawan bicaranya.

Mungkin dari sinilah orang-orang menghormatinya tapi juga sekaligus mengambil jarak dengannya. Soal orang-orang yang mengambil jarak, bisa jadi juga karena dipicu oleh satu hal yang sering dianggap kebanyakan orang di desa saya sebagai kekurangannya: ia tak cukup bisa “membaur”. Memiliki pembawaan yang supel dan budi bahasa yang halus, Pak Yudho adalah orang yang mudah mengambil hati orang yang diajaknya bicara. Selain itu, ia adalah salah seorang jago catur di desa, yang kala itu merupakan jenis modal berharga untuk mencari banyak teman. Tapi, yang disebut membaur, oleh orang-orang di desa saya ternyata tak hanya sekadar kepandaian bergaul, tapi juga kesanggupan mengalami dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di desa kami; misalnya, saba masjid dan aktif dalam organisasi keagamaan. Tepat di sinilah ia dinilai kurang oleh banyak orang.

 

Sejauh kenangan saya, Pak Yudho memang punya masalah dengan organisasi keagamaan, terutama dengan ormas terbesar di desa saya. Suatu ketika, pada sebuah pagi di Bulan Puasa, ia menyebar lembar-lembar kertas di sepanjang jalan utama desa. Isinya, saya ingat betul, serangkaian kata-kata kasar. Yang diserangnya adalah pengumuman waktu sahur di corong masjid yang menurutnya terlalu pagi (Masjid Jami’ di desa saya biasa mulai membangunkan orang sahur pada jam setengah dua malam). Tentu saja pamflet caci-maki itu berbuah caci-maki balasan, bukan saja dari jamaah ormas terbesar, tapi juga dari ormas yang lebih kecil—yang menganggap pengumuman sahur itu sebagai hal yang sangat membantu. Dalam banyak perbincangan dengan saya pun, selain mentalitas penduduk desa kami yang sulit, hal yang paling menjadi sasaran bidiknya adalah instititusi-institusi ormas keagamaan. Term yang disukainya dan sering dipakainya adalah ‘kyai macan’, yang biasanya dipakainya sebagai metafor pemimpin umat yang korup, sewenang-wenang, dan serakah (terhadap uang dan kedudukan).

 

Tapi, bukan semata karena sikapnya dengan institusi ormas keagamaan saja ia dianggap sosok yang “berbeda”. Tindakan-tindakan politiknya juga. Orang sedesa yang seusia dengan saya atau di atas saya tentu ingat apa yang dilakukannya ketika pada sebuah pemilihan kepala desa di awal 90-an ia mencalonkan diri untuk pertama kali. Saat itu, ia menuliskan program-programnya di sekujur tembok depan rumahnya yang berada di samping jalan desa dengan tulisan yang besar dan mencolok. Selain di tembok, tulisan yang sama juga ia tuliskan di topi bambu lebar yang biasa dipakainya untuk ke kebun, juga di sebuah papan triplek yang menjelang hari H Pilkades sering ia bawa berkeliling desa dengan memakai Vespa-nya. (Jika Pilkades sekarang memakai prosedur kampanye, saya yakin Pak Yudho adalah orang pertama yang melakukannya.)

 

Mungkin karena dianggap “berbeda”, ia bisa menjadi sosok alternatif bagi sebagian orang. Pada Pilkades awal 90-an, ketika sang pesaing didukung penuh oleh warga Nahdliyin, Pak Yudho mendapat dukungan dari kalangan Muhammadiyah dan minoritas sangat kecil abangan. Dengan hanya meraih 350-an suara dari 1500-an suara yang diperebutkan, ia gagal maju jadi kepala desa. Meski begitu, jumlah suara itu saya dengar cukup untuk membuat beberapa orang petaruh yang memandang rendah dirinya bodol-bodol. Saat 8 tahun kemudian ia maju kembali, dengan lawan yang berbeda namun dari kelompok yang sama, dukungan kepadanya membesar. Meski demikian, angka yang naik signifikan itu tetap tak mampu membawanya ke tampuk kepemimpinan tertinggi desa.

 

Bagi remaja seperti saya, juga beberapa remaja gelisah lainnya, kealternatifan Pak Yudho terasa lebih kompleks dan lebih memiliki banyak dimensi. Ia sehari-harinya adalah seorang perawat ayam yang tekun. Dari kebiasaan ini, ia menelurkan kader-kader peternak modern yang sampai saat ini masih terlihat jejaknya di desa. Saya seorang perawat ayam yang sangat buruk, tapi termasuk sedikit orang yang punya kekuatan ekstra dalam mendengar uraian-uraiannya yang idealis dan impian-impiannya yang kadang terlalu utopis. Ambil contoh, ia punya keinginan mengubah sistem literasi latin yang dipakai di Indonesia. Menurutnya, huruf latin terlalu bertele-tele penulisannya (tentu yang dimaksud di sini penulisan dengan tangan) sehingga membuat kita banyak membuang waktu. Karena itu dibutuhkan bentuk huruf baru yang bisa ditulis dengan lebih ringkas dan efektif. Kepada saya dikatakannya bahwa ia sudah memiliki alternatif pengganti yang ia beri nama Huruf Heroik, yang dikembangkannya dari sandi-sandi morse di Pramuka. (Mimpi itu diwujudkannya ketika awal tahun 2000-an ia menerbitkan sebuah buku, meski dengan mutu cetak yang buruk, yang ia beri judul Huruf Heroik.)

 

Lima tahun terakhir, saat saya semakin jarang pulang, saya tak tahu bagaimana perkembangannya, seperti apa pendirian-pendirian terakhirnya, juga mimpi-mimpi apa yang masih diperjuangkannya. Namun, sayup saya dengar, kalau ia masih seorang oposan yang tangguh: seorang diri ia menentang sebuah program yang dilakukan pemerintah desa. Konon, itulah salah satu sebab ia hengkang dari desa. Tapi, saya tak tahu sejauh mana kebenaran kabar itu.

 

***

 

Saya terlahir sebagai seorang keras kepala, yang secara naluriah cenderung menolak pengaruh dari luar. Tapi, sulit dimungkiri kalau tak ada jejak Pak Yudho dalam kepala saya. Ia termasuk orang yang paling awal membantu saya membedakan antara agama dan institusi agama dan bagaimana cara bersikap kritis terhadap masing-masing. Ia juga saya yakini berperan dalam mengasah sikap oposan saya (terutama terhadap kekuasan—apapun itu wujud kekuasaannya).

 

Ketika sedang mengerjakan Ulid dan membutuhkan sebuah karakter yang serupa Nyai Ontosoroh bagi Minke atau Rama Cluring bagi Wiragaleng, saya sempat kepikiran Pak Yudho. Tapi, entah kenapa—mungkin karena berusaha untuk sebisa mungkin mengambil jarak dengan Ulid—saya kemudian memutuskan untuk menciptakan sosok Bu Sofi. Namun, jika mengingat kembali komponen-komponen yang menyusun karakter Bu Sofi, saya tak yakin benar apakah karakter ini benar-benar bebas dari bayang-bayang Pak Yudho. Untuk itulah, setelah mendengar kabar duka tersebut, tak ada yang lebih saya sesali kecuali bahwa saya tak sempat memberikan satu eksemplar Ulid kepadanya. Yang tak termaafkan, tak hanya sekadar lupa memberikan Ulid sebagai ucapan terima kasih, saya bahkan tak mengingat kalau saya punya hutang satu eksemplar buku kepadanya—sebab dulu saya diberinya buku Huruf Heroik secara cuma-cuma.

 

Saya tahu, selama hidupnya Pak Yudho mendapat perlakukan yang tak setimbang dengan apa yang sudah dilakukannya—terutama untuk desa pungutnya itu. Ia juga selalu saja kekurangan orang yang mau mendengar dan mengerti mimpi-mimpi dan pikiran-pikirannya. Jika hidup dalam sebuah kisah fiksi, Pak Yudho mungkin adalah tokoh yang tragis. Tapi, siapa pun yang tahu fiksi akan sependapat dengan saya kalau tokoh yang tragis jauh lebih dikenang daripada tokoh jenis apa pun. Tokoh yang tragis selalu memunculkan sejenis heroisme yang lebih mendalam dan mengesankan dibanding seorang tokoh superhero sekalipun. Tokoh tragis adalah hero yang paling sejati. Dan karena itu, saya selalu menyukai tokoh tragis, Pak Yud.

 

Tokoh tragis terbesar Amerika, yaitu Pak Tua-nya Hemingway, mungkin saja dianggap remeh oleh para nelayan kebanyakan yang melihatnya cuma membawa pulang tulang-belulang ikan. Namun penulis kisah itu, juga beberapa pembaca yang jeli, tahu belaka bagaimana Pak Tua itu, seteleh bermalam-malam lamanya, berhasil menundukkan ikan merlin terbesar di Perairan Karibia, sebelum kemudian dilanjutkan dengan melawan sekawanan hiu, juga rasa haus dan keputusasaan. Saya harap, dan saya cukup yakin, Pak Yudho adalah Pak Tua itu bagi Dia yang Maha Pencerita.

 

Akhirnya, jika saja surga terdiri atas unit-unit kesatuan sejenis desa, saya berharap Tuhan bermurah hati mempercayakan salah satunya kepada Pak Yudho agar ia bisa mewujudkan program-program yang dulu pernah dituliskannya besar-besar di dinding depan rumahnya sekaligus membentuk sebuah masyarakat yang menulis dengan Huruf Heroik.

 

Selamat jalan, Pak Yud.   

 

 

 

Jogja, 02 Oktober 2010, dinihari.


ReviewReviewReviewReviewJul 13, '10 4:11 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Comedy
Entah kenapa, setiap menemukan sebuah film India yang menarik, saya selalu dengan reflek segera menengok ke perfilman Indonesia. Ada kalanya tengokan reflek itu akan dilanjutkan oleh sebuah studi komparasi imajiner. Namun, yang lebih banyak terjadi adalah munculnya pertanyaan bernada keluhan, “kapan ya...?”

***

Ketika pertama kali menonton Lagaan (2001), saya langsung teringat dengan, paling tidak, dua film perjuangan kita yang pernah tenar di era masa kecil saya: Naga Bonar dan Tjut Nya Dien. Lagaan, film tentang perjuangan sekelompok penduduk desa di India untuk lepas dari membayar pajak kepada penguasa kolonial Inggris lewat permainan kriket, mengingatkan kepada dua film masa Orba tersebut paling tidak dalam satu hal: pendekatannya yang berbeda untuk sebuah film perjuangan. Namun, film yang dilakoni dan dibiayai aktor tenar Bollywood Aamir Khan itu tetap saja menerbitkan sebuah pertanyaan: kapan Indonesia bisa bikin film perjuangan tanpa melibatkan keris dan bedil ya?

Tapi, perasaan setelah menonton Lagaan jauh lebih baik dibanding sesudah menonton The Legend of Bhagat Singh (2002). Film garapan sutradara Rajkumar Santoshi ini dan dibintangi Ajay Devgan ini, dalam ukuran ideal saya tentang sebuah film (India), tempatnya berada di bawah dibanding film India yang pertama saya sebut tadi. Tapi, luar biasanya dan gilanya—sehingga saya harus memaki, “wassyu!! Kok bisa ya India bikin film begini?”— film ini berkisah tentang sepakterjang Bhagat Singh, seorang pemuda Sikh yang kemudian memilih menjadi komunis-anarkis dan memilih jalan kekerasan (sembari mengentuti cara ahimsa ala Gandhi) dalam menghadapi pemerintah kolonial Inggris. Bhagat Singh, yang di film digambarkan membaca Lenin sesaat sebelum digantung, langsung mengingatkan saya kepada Tan Malaka, atau Haji Misbach, atau Semaoen. Dan, wow, bayangkan betapa indahnya masa saat di sebuah bioskop di Indonesia kita menemukan poster film berjudul “Dari Penjara ke Penjara” atau “Haji Merah”, atau “Setelah Hikayat Kadiroen”, atau semacam itu. Tapi, hmm..., itu kapan...?

Perasaan yang sama saya alami setelah menonton Gandhi, My Father (2007). Film ini membikin ngatuk karena bertele-tele, tidak fokus, dan terlalu banyak maunya; ditambah lagi, pada DVD bajakannya yang saya beli di Mangga Dua teks subtitlenya malas-malasan keluar. Tapi, film yang diproduseri Anil Kapoor, aktor populer India sekaligus salah satu pemodal tim F1 Force India ini, mengangkat hal yang mencengangkan tentang Mahatma Gandhi. Dari Gandhi, My Father, saya baru tahu kalau di balik kesuksesan Gandhi Jee menjadi bapak tidak hanya bagi bangsa India tapi juga bagi seluruh umat manusia, salah satu nabi abad ke-20 kita ini ternyata gagal total menjadi bapak bagi anak kandungnya sendiri. Jangan bayangkan, kegagalan itu soal kegagalan untuk bisa seperti Nehru yang sukses mengkader anak dan keturunannya menjadi pemimpin India berikutnya. Dalam film itu diperlihatkan, Gandhi bahkan gagal menjadikan Harilal, anaknya, sekadar sebagai orang baik. Kenthir ra? Sekarang, mari kita bayangkan sebuah film Indonesia yang bercerita tentang kebiasaan mabuk Pangeran Diponegoro, atau sebuah film tentang brengseknya HOS Tjokroaminoto dalam mengurus uang iuran anggota SI, atau tentang betapa sulitnya Soekarno menahan hasrat kelelakiannya, atau sebangun dengan itu. Maka, lagi-lagi, saya tak punya kata lain selain pertanyaan setengah putus asa, “kapan ya?”

Dan pertanyaan serupa itu sekali lagi muncul ketika saya belum lagi menyelesaikan menonton 3 Idiots (.....).

***

Sebagai anak yang besar di sebuah masyarakat yang terkondisikan memuja Amittab Bachchan, Dharmendra, Mittun Cakraborty, atau Sanjay Dutt, atau Sunny Deol dan terbiasa dihantar tidur oleh suara Latta Mangeskar, Udith Narayan, Kumar Sanu, Kaveeta Krishnamurti, Alka Yagnik, hingga (yang sempat ngetop di MTV) Alisha Chinoy, saya, tak bisa tidak, selalu punya sisi romantik dengan film India dan/atau budaya massa dari negeri yang melahirkan peradaban tua Mohenjodaro- Harappa itu. Namun, belakangan, setelah mulai terjangkiti snobisme ala komunitas penonton film di Jogja, dan terutama setelah munculnya Shahrukh Khan mania beriring dengan meledaknya film-film “menyedihkan” seperti Kuch Kuch Hota Hai dan Kabhi Khusyi Kabhi Gham, saya—tanpa sengaja dan tak tahu benar mengapa—menjaga jarak dengan film-film mutakhir Bollywood, sekaligus mencoba mengubek-ubek rental dan kolektor film untuk mencari film-film India menakjubkan namun tak tahu judulnya dan nama pemainnya yang kebetulan terpirsa secara tidak utuh di layar televisi (terutama SCTV) pada dini hari. Maka, ketika teman-teman serumah saya sedang asyik sembari tertawa-tawa membincangkan tentang 3 Idiots, yang di belakangnya diembel-embeli dengan status “film India”, maka yang tebersit di kepala saya adalah sebuah film konyol tentang orang-orang bodoh yang kemudian dicontek habis oleh sebuah sinetron Indonesia. Atau, kalau tidak, tentang film-film Bollywood menyebalkan yang dimainkan oleh penari-penari latar bertubuh kekar yang naik pangkat menjadi aktor yang tak bisa lain selain menyetir mobil sport mewah untuk kemudian berjingkrak sambil mengendus tengkuk lawan main perempuannya. Makanya, ketika mereka mengajak untuk menonton (lagi), saya usulkan untuk memutarnya setelah jumatan saja. (Dalam memori saya, tak ada waktu yang lebih sempurna menonton film India dan goyangannya kecuali Jumat siang.)

Beberapa menit film berjalan, tak terlihat ada yang istimewa, kecuali gambar panorama sepanjang jalan menuju Shimla yang muncul di menit-menit awal. Belum-belum, saya mendapati adegan tokoh yang lupa pakai celana karena terburu-buru. Itu sedikit mengentalkan keyakinan kalau prasangka awal saya punya gelagat benar. Tapi, setelah seperempat jam, saya mulai sadar, saya menonton film India yang berbeda.

Alkisah, Ranchoddas “Rancho” Syamaldas Chanchad (Aamir Khan), Farhan Qureshi (R. Madhavan), dan Raju Rastogi (Sharman Joshi) adalah tiga mahasiswa teknik di Imperial College of Engineering (ICE), sebuah sekolah teknik terbaik di India. Tinggal dalam satu kamar di asrama mahasiswa, ketiganya, dengan karakter dan latar belakang yang berbeda, segera menjadi biang kerok di kampus dan kelas-kelas yang mereka ikuti. Dari sanalah sebutan Tiga Idiot mereka peroleh. Dengan Rancho sebagai inisiator, tiga serangkai ini mencoba menggoncang sistem pendidikan kampus yang kaku dan jumud, yang direpresentasikan dengan telanjang oleh sosok Rektor ICE, Viru Sahastrabuddhe (Boman Irani), yang mereka katai sebagai “virus”, dan Cathur Ramalingam, seorang mahasiswa asal Uganda yang tukang hafal, tergila-gila dengan peringkat, dan penjilat kelas berat. Tetapi, Rancho dan kawan-kawan juga menantang sistem berpikir umum tentang pendidikan, kecerdasan, dan terutama tentang sukses. Film ini, lewat mulut salah satu tokohnya, mengejek motif para mahasiswa teknik India yang kuliah hanya dengan satu cita-cita: diterima sebagai teknisi di perusahaan Amerika.

Ya, ini bukan film terbaik atau bahkan bukan film India terbaik yang pernah saya tonton. Tapi, yang jelas, seperti deretan film-film India yang telah saya daftar sebelumnya, film ini sukses membuat saya ngungun untuk kemudian bertanya, “kapan Indonesia bisa bikin film kayak begini?”

***

Yang pertama harus saya utarakan ketika bicara tentang film ini adalah 3 Idiot telah membawa saya kepada pengalaman yang sama sekali baru dalam menonton film India.

Selepas booming Kuch Kuch Hota Hai (1998?), rasa-rasanya berlimpah sekali film dengan latar belakang kampus dan dunia intrauniversiter. Namun, film-film macam itu—setahu saya—hanya meminjam kampus sebagai tempat kisah-kasih dua remaja berpaut dan kemudian meraja. Lebih dari cinta dan tari, tak ada. Baru di 3 Idiots inilah saya menemukan kehidupan kampus, panorama ruang kuliah, hingga sesak pengap asrama, muncul di layar lebar dengan cara yang jauh lebih layak dan semestinya. Kita bisa dapatkan suasana kelas, perdebatan, hingga kegelisahan intelektual dan masa depan yang serupa dengan, ambil contoh, With Honor, Dead Poet Society, atau Good Will Hunting. Ditambah adegan-adegan mabuk-mabukan di malam hari, botol-botol anggur di bawah kursi, dan gojek-gojek kere seputar Tuhan dan agama, membuat suasana kampus di 3 Idiots menjadi lebih lengkap lagi. Maka, bagi mereka yang pernah menghuni bedeng-bedeng di pojok fakultas, atau yang pernah menumpang tidur, mandi, cuci, hingga nggarap skripsi di markas-markan unit-unit kegiatan mahasiswa, 3 Idiot akan menjadi sebuah alat nostalgia yang lumayan menjanjikan. Ini pengalaman baru yang pertama.

Pengalaman baru lain yang saya dapat dari film ini adalah humor yang melumuri sekujur film. Sejak TVRI menayangkan serial kolosal Haidir Ali di awal ‘90an, yang kemudian disusul dengan Mahabharatta dan Ramayana di TPI, dan kemudian banjir film Amittabh Bhaccan-Sridevi hingga tahun 2000-an, film India jenis komedi adalah yang paling saya hindari. Eksyen, kolosal, drama, drama banget, atau triller bolehlah, tapi dengan komedi India saya selalu bermasalah. Dalam bayangan saya, film komedi India tak bisa lepas dari sosok opsir polisi India yang berkumis hitler dan bercelana pendek atau seorang adik ipar yang berambut seperti petruk yang setiap kata-katanya memakai kalimat, “demi kakak ipar” sembari menggoyang-goyangkan kepalanya. Bayangan itu semakin diperparah lagi dengan suara cempreng yang biasanya diberikan oleh penyulih suara—maklum, kita hidup di negeri yang industri penyiaran, dan terutama pemerintahnya, begitu menganggap enteng pemirsa. Dalam bayangan seperti itulah, 3 Idiot memacak saya dengan humor-humor, yang menurut saya, tak saya temukan dalam film-film India yang pernah saya tonton sebelumnya. Menyebabkan pesawat terbang mendarat darurat dengan pura-pura kena serangan jantung, atau lupa memakai celana karena terburu-buru, atau kesetrum karena mengencingi kabel berlistrik, adalah adegan-adegan konyol yang bisa ditemukan di film-film India sejak masa aktor Govindha. Demikian juga dengan adegan-adegan komikal lain yang banyak bertebaran. Tapi ketika Rancho menjelaskan definisi mesin di depan dosen dengan cara yang ringkas dan mudah dimengerti, dengan mencontohkan resleting celana, sembari mengontraskannya dengan definisi ala buku ajar yang rumit dan berputar-putar, itu adalah humor yang canggih. Demikian juga ketika film ini menampilkan kemiskinan keluarga Raju Rastogi. “Melihat rumah Raju, mengingatkanku kepada film hitam-putih tahun 50-an,” demikian kata Farhad, sang narator film. Maka, setiap adegan yang berlatar di rumah raju, film muncul dalam hitam-putih, dalam komposisi yang, tak bisa tidak, mengingatkan saya dengan rumah yang dihuni Sarbhajaya dan dua anaknya, Durga dan Apu, pada film Pater Pancali (1954) garapan Satyajit Ray—yang kebetulan file-nya belum saya hapus dari folder film saya. Itu humor yang mengocok perut sekaligus getir-mengiris. Apakah itu humor Hollywood? Jika jenisnya adalah Forrest Gump, mungkin saja. Yang jelas, sama sekali berbeda dengan humor-humor ala American Pie dan film-film epigonnya, yang jadi referensi paling sahih sekaligus satu-satunya bagi film-film komedi Indonesia belakangan ini. Mungkinkah humor-humor ini dipinjang dari film-film Eropa? Entahlah, saya tak tahu. Tapi tak menutup kemungkinan, tanpa saya ketahui—mengingat referensi film India saya yang sangat terbatas karena amat tergantung dengan selera importir film Indonesia keturunan Punjabi—humor itu bisa jadi telah ada dalam film-film India terdahulu. Atau, kalau tidak, sumber humor di film ini berasal dari tradisi humor India secara umum, mengingat film ini—kata Almukarrom Wikipedia—diadaptasi dari novel laris India Five Point Someone.

Namun, yang paling penting dari semua pengalaman baru itu adalah apa yang mau disampaikan oleh film ini. Film ini, oleh sutradaranya, Rajkumar Hirani, ditujukan untuk menjadi komentar sosial atas realitas yang terjadi di ranah pendidikan India, khususnya pendidikan tinggi. Seperti yang bisa ditangkap dalam dialog antara mahasiswa Rancho dan Pak Rektor Viru, India dihantui oleh angka bunuh diri pelajar tertinggi di dunia. Hal ini, menurut Rancho, dan tentu saja menurut film ini, dikarenakan pendidikan di India memperlakukan peserta didiknya seperti mesin; dengan ujung dari semuanya semata adalah pekerjaan dan kesuksesan material. Film ini mengecam kebiasaan menghafal, cara pengajaran yang teksbook, sistem rangking yang tidak hanya melahirkan persaingan yang tak sehat, tapi juga kebiasaan saling memakan di antara sesama, dan tentu saja sebuah cara berpikir yang menyamakan pendidikan dengan selembar ijazah. Ya, ya, bagi yang pernah menonton dan kemudian memuja Dead Poet Society pasti akan menganggap tak ada yang baru dari film macam begitu. Menurut saya juga demikian. Yang baru adalah: sebuah film yang senada Dead Poet Society, dengan tampilan yang lebih menyenangkan, telah muncul di dalam khazanah perfilman India; sebuah film yang belum dimiliki Indonesia.

***

Ini film India yang menyenangkan. Semua orang saya kira akan menyukainya. Karena itu, tak heran jika 3 Idiots menjadi pemecah rekor box office di India pada awal tahun 2010 ini. Tak heran juga, sebelum saya memulai menulis tulisan ini, di sebuah warung kopi yang buka sampai dini hari, saya menemukan sekelompok pengunjung cekakak-cekikik menonton film ini, menyusul puluhan akun di facebook yang memasang status kalau si pemilik status baru saja menonton film ini.

Meski masih banyak film India yang menurut saya lebih bagus, saya juga tak keberatan mengakui kalau saya menyukai film ini. (Ah, kalau dilihat dari nada keseluruhan tulisan ini, mungkin lebih tepat jika saya sangat menyukai film ini). Film ini, selain lucu dan menghibur, disajikan dalam racikan cerita kuat, dengan scene-scene yang saling berjalin, juga dengan karakter-karakter yang dibangun sangat rapi sekaligus masuk akal. Saya tak tahu sejauh mana novel Five Point Someone karya Chetan Bhagat menyumbang keseluruhan cerita film, namun untuk hal ini penulis naskah Abhijat Joshi patut mendapat pujian. Tentu saja harus dikatakan kalau ada bagian yang terlalu dilebih-lebihkan, seperti adegan Rancho menolong kelahiran Mona, putri tertua Viru, dengan memakai vacuum cleaner. Ah, itu MacGyver banget. Juga ending yang, meski tak gampang ditebak, sungguh terlalu memuaskan itu. Ya, bagaimanapun, yang kamu tonton adalah film India, Fud. Sebab, bisa jadi, seperti tarian dan adegan-adegan mengharukan yang selalu berhasil, adegan yang dilebih-lebihkan dan ending yang amat memuaskan itu adalah bagian dari ke-India-an yang memang harus dipertahankan.

Meski di situs Internet Movie Database (IMDB), ada sebuah ulasan yang mencaci maki film ini, salah satunya karena memasang Aamir Khan yang telah melewati kepala empat untuk memerankan mahasiswa, saya berani katakan kalau Aamir Khan melakukan pekerjaannya dengan baik. Sebagai Rancho, ia tampak 20 tahun lebih muda dari umurnya—hal yang tak bisa dilakukan oleh Shahrukh Khan di Kuch Kuch Hota Hai. Di mata saya, tampilan wajah Aamir Khan di 3 Idiots tak banyak berbeda dengan tampilannya di Ghulam (...), sebuah film berjenis balas dendam yang mengharu biru India (dan desa saya). (Ada yang ingat adegan Aamir Khan menarik sapu tangan dari gigitannya sembari melemparkan pandangan nyalang ke Rani Mukherjee, kemudian menggumam: “Hei, kya bol ti tu”?) Sementara itu, Kareena Kapoor, yang menurut saya tampilannya selalu menggangu film yang dibintanginya, juga tampil jauh lebih baik saat memerankan Phia, putri Pak Rektor Viru, yang dicintai Rancho. Meski demikian, yang paling membekas dari film ini di kepala saya pastilah tingkah laku dan cara bicara Omi Vaidya, yang memerankan Cathur Ramalingam, musuh dari 3 Idiots. Siapa yang telah menonton film ini, saya yakin, kata “tuchuk-tuchuk”, sekaligus mimik muka yang menyertainya, tak akan bisa dihapus dari ingatan dalam waktu yang lama.

***

Belum lama ini kita diharu-biru oleh film Laskar Pelangi (dan sekuel-sekuelnya), yang bercerita tentang perjuangan anak-anak Belitong untuk sekolah dan mencapai cita-citanya. Sebelumnya, kita juga punya Denias, yang berkisah tentang seorang bocah pedalaman Papua yang rela melintasi lembah, gunung, dan hutan untuk bisa sekolah. Dua film ini punya pesan sama yang jelas: sekolahlah meski apa pun yang terjadi, sebab hanya dengan sekolah hidupmu akan berubah. Kedua film ini sukses, bahkan sukses besar, terutama secara komersial.

Dan karena justru itulah, selepas menonton 3 Idiots, muncul pertanyaan di kepala saya: kapan Indonesia punya film kayak begini?

Denias (...) maupun Laskar Pelangi (...) bukan film yang buruk. John de Rantau pada film pertama dan Riri Riza untuk film kedua telah melakukan pekerjaan terbaik yang bisa dilakukan oleh sutradara Indonesia di mana pun. Namun, bagi saya, kedua film itu terlalu lurus. Film-film pendidikan kita ini dibuat seakan Paulo Freire tak pernah menulis risalah-risalah pendidikannya. Film-film itu dibikin seolah-olah kecaman-kecaman keras Ivan Illich terhadap sekolah tak pernah kita dengar. Atau, dalam kalimat yang lebih keras, film-film ini muncul seakan-akan “Sajak Sebatang Lisong”-nya Rendra belum pernah diterbitkan. Film-film ini, dalam benak saya, sama sekali menganggap kalau dunia pendidikan kita baik-baik saja.

Ya ya ya, tentu saja orang-orang seperti Arie Sihasale atau Mira Lesmana tak akan terima dengan pendapat saya ini. Saya rasa, mereka akan katakan, “karena ada masalah dengan pendidikan kita, maka kami membuat Denias dan Laskar Pelangi.”
Okelah. Menggugah kesadaran masyarakat pinggiran untuk menyekolahkan anak adalah tindakan mulia. Demikian juga, sungguh perbuatan budiman untuk menyemangati anak-anak agar pergi sekolah, apapun yang terjadi, agar kelak bisa menjadi orang-orang berguna bagi nusa dan bangsa. Namun, tindakan ini menjadi berbahaya jika khalayak sampai menerima pesan bahwa yang jadi biang masalah sebenarnya adalah kesadaran masyarakat yang rendah tentang pentingnya sekolah. Lebih fatal lagi jika film ini hanya membuat para birokrat menangis, tanpa sadar bahwa kebijakan yang mereka bikin telah membuat sekolah menjadi amat mahal dan tidak menyenangkan. Yang lebih berbahaya adalah film-film macam begini mempercepat reifikasi di kepala sebagian besar kita bahwa “sekolah adalah wajib, sehingga semahal apa pun harus kita tebus” dan “sekolah yang tinggi akan menjamin kesuksesan seseorang”. Efek lebih jauh—dan ini jelas telah terjadi di masyarakat—para orangtua hanya akan memasukkan anak mereka ke sekolah yang memungkin anak mereka sukses seperti yang mereka harapkan. Jika ini terjadi, ujung-ujungnya adalah apa yang digambarkan secara getir oleh 3 Idiots, ketika Keluarga Qureshi memaksa anak mereka yang suka fotografi dan ketika Pak Rektor Viru memaksa anaknya yang suka menulis untuk sekolah teknik.

Saya menyukai Denias dan Laskar Pelangi. Tapi, berdasar pengalaman saya sekolah sejak umur 3 tahun hingga 23 tahun, saya membutuhkan film tentang pendidikan yang lebih dari macam itu. Membayangkan ada seorang sutradara Indonesia menggarap film ala Dead Poet Society mungkin hanya khayalan, sebab film macam itu sepertinya agak berat untuk menjaring lebih banyak penonton. Memikirkan ada penulis naskah yang senada dengan Not One Less-nya Zang Yimou mungkin juga berat, sebab sepertinya film macam begitu kurang dramatis untuk menguras air mata para pejabat. Maka, saya rasa, saya merindukan ada seorang sutradara atau penulis naskah untuk membuat film yang riang, ringan, tapi sekaligus kritis macam 3 Idiots.

Ada nggak ya? Kapan...?


--Selepas Piala Dunia 2010


ReviewReviewMay 2, '10 2:52 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Comedy
Film: Alangkah Lucunya (Negeri Ini)
Sutradara: Dedy Mizwar
Penulis: Musfar Yasin
Pemain: Reza Rahadian, Asrul Dahlan, Dedy Mizwar, Slamet Rahardjo, Jaja, Miharja
Produksi: Demi Gisela Citra Sinema
Tahun: 2010

1/
Setelah hampir setahun tidak berkunjung ke bioskop, saya akhirnya nonton lagi. Di tengah obrolan di warung kopi, sembari guyon soal keberhasilan saya menjadi penulis pesanan, tiba-tiba saja terpikir untuk membuat sedikit perayaan. Lebih-lebih ketika seorang teman mengatakan kalau ia tak tahu, hingga hari itu, bagaimana cara antri tiket bioskop. “Ya, sudah. Ayo nonton. Sekarang.” Setelah gagal berangkat malam itu juga—dikarenakan tak tahu persis jam putar film—saya dan teman yang belum pernah masuk Studio 21 itu akhirnya nonton besoknya. Yang kami tuju adalah film Dedy Mizwar terbaru, “Alangkah Lucunya (Negeri Ini)”.

Dari judulnya, saya tak berharap film ini akan lucu. Itu sebuah repertoar—kalau bukan malah gerutuan. Apalagi pada siang sebelum nonton film saya nonton di acara gosip Dedy Mizwar bersungut-sungut karena premier filmnya diputar di studio yang sonnya busuk. Namun komentarnya lebih pedas justru saat ia mendengar filmnya dikomentari dengan cara yang aneh oleh Menteri Sosial. Dari caranya yang sinis menanggapi tanggapan Mensos, saya tahu nanti malam saya tidak akan menonton film lucu. Ini adalah filmnya Dedy Mizwar yang marah. Lebih marah dari Dedy Mizwar yang membuat “Naga Bonar Jadi 2”. Dan (pasti!) lebih marah dari Dedy Mizwar yang pada Pemilu kemarin nekad mau mencalonkan diri menjadi wakil presiden bersama Jendral Saurip Kadi. Tapi demi memiliki alasan untuk pergi ke bioskop menonton film Indonesia, kami tetap berangkat. Sebab, jika bukan film Dedy Mizwar, bukankah lebih baik menunggu ada 3GP berisi adegan vulgar Dewi Persik atau Andi Soraya beredar?

Tapi, tanpa saya sangka, kelucuan sudah saya temukan sebelum masuk gedung bioskop. Di tiket, judul film itu terbaca sebagai “Alangkah Lucunya Dunia Ini” (tanpa kurung). Ya, benar-benar lucu dunia ini! Karena itu, dengan tidak berharap terlalu banyak akan bisa tertawa saat menonton, hal lucu sebelum masuk studio dan beberapa gelak tawa yang ditimbulkan oleh beberapa dialog dan celetukan dalam film telah mencukupi buat saya—jika yang dicari adalah “lelucon”. “Seperti habis nonton film Warkop minus bikini dan pantai; lucu tapi tak tahu mau cerita apa,” demikian simpul saya begitu bubaran. “Bukannya memang begitulah film-film Dedy Mizwar?” timpal teman saya. Namun, kami berdua sepakat, pesan yang paling jelas dari film ini adalah “daripada beternak cacing, mending beternak kucing, karena kucing adalah hewan kesayangan Nabi.” Yang sudah menonton film ini pasti setuju dengan kesimpulan ini.


2/
Saya menyukai Dedy Mizwar, sampai kapan pun, dan apa pun kata orang. ‘Kejar Daku Kau Kutangkap” saya tonton sesering saya mengaji, sementara kebanyakan koleksi VCD Indonesia lawas saya adalah film yang ada Dedy-nya. Kemunculan film-film Dedy saya tunggu seperti para fanboy konyol menunggu Lucas bikin kelanjutan “Star Wars”. Saat dibikin muak dan putus asa oleh acara televisi, sinetron-sinetron religius bikinan Demi Gisela Citra Sinema (DCGS) adalah tempat pelepas dahaga saya. Saya memang hanya lamat-lamat mengingat “Hikayat Pengembara” (sinetron religius pertama garapan Dedy), tapi saya mengikuti tuntas “Lorong Waktu” (1-6, dan putar ulangnya), “Kiamat Sudah Dekat” (serial), “Demi Masa”, dan “Para Pencari Tuhan” (1-3).

Seperti yang pernah dituturkan Dedy sendiri, ia mulai mendalami agama (Islam) setelah penggarapan Sunan Kalijaga (1985). Setelah lama tak muncul bersama runtuhnya industri perfilman Indonesia, hasil ketekunananya terhadap agama segera terlihat begitu ia muncul di jagad sinetron—sebagai aktor, kadang sutradara, tapi yang paling utama sebagai produser (dengan DCGS sebagai kendaraannya). Sinetron-sinetron pertamanya memperlihatkan bagaimana Dedy mendekati agama dengan karya-karya pada awalnya. “Hikayat Pengembara” dan “Lorong Waktu” adalah serangkaian perenungan yang bersifat esoterik, yang lebih cenderung menukik masuk ke dalam diri (Dedy) daripada ditujukan kepada orang lain (penonton). Hal ini diperkuat oleh fakta bahwa banyak episode merupakan hasil pengembangan dari anekdot-anekdot sufi atau kisah-kisah profetik yang dikenal luas di kalangan Islam. Saya menduga, pada fase ini muncul karena keengganan pada Dedy untuk menggurui penonton yang, dalam hal agama, mungkin lebih alim darinya. Fase ini cukup panjang. “Lorong Waktu” bahkan bercokol di televisi dalam 6 kali bulan puasa.

Lalu, muncullah film “Kiamat Sudah Dekat” (2002?). Selain menjadi penanda kemunculan kembali Dedy Mizwar di jagad film Indonesia setelah sekian lama menghilang, film ini juga jadi fase baru bagi sinema agama ala Dedy. Digarap dengan penyutradaraan dan sinematografi ala kadarnya, KSD adalah film agama yang enteng, ringan, namun juga menyenangkan. (Saya selalu terkenang kalimat “Pliss Allah!” yang diteriakkan tokoh Fandi sejak pertama menonton film itu hingga saat menulis uraian tak jelas ini). Tapi lebih dari itu, di film ini pula Dedy, menurut saya, mulai berdakwah kepada orang lain—dalam artian, mulai menjadikan filmnya sebagai tontonan yang menuntun.

Beberapa tahun kemudian—mungkin 3 tahunan—“Kiamat Sudah Dekat” muncul dalam bentuk serial di televisi. Hampir tak beda secara sinematografi dengan filmnya, dengan segera, bagi saya, serial ini tampak jauh lebih berat—dan jelas lebih bagus—dibanding filmnya. Kalau filmnya “hanya” bicara soal belajar salat, sunat, dan mengaji (dan tetek bengek kesalehan—sebut saja—individual-skriptural), maka edisi sinetronnya merambah ke penyantunan anak yatim, hingga keadilan sosial (yang banyak disebut sebagai kesalehan sosial-kontekstual). Lepas dari semangat dakwahnya yang makin kencang, fase ini, bagi penggemar Dedy Mizwar (dan, ehm, tontonan yang baik) seperti saya, merupakan fase terbaik. Jika karya sebelumnya, “Lorong Waktu”, terlalu artifisial dan kurang original—akibat terlalu banyak anekdot sufi yang dipinjamnya, serial “Kiamat Sudah Dekat” adalah karya yang paling bagus, rapi, tapi juga lucu sekaligus haru, dalam menghubungkan agama dan keadilan sosial yang pernah ada di Indonesia. (Bravo untuk sang penulis naskah, Musfar Yasin!!)

Di antara ini, Dedy membuat “Ketika” (?)—dengan Musfar Yasin sebagai penulisnya. Sedikit unsur agamanya, namun dakwah sosial-kemanusiaannya semakin keras saja. Sedikit pembeda film ini dengan film dan sinetron-sinetronnya sebelumnya adalah munculnya visi tentang, ah sebut saja, kesalehan nasional (kesalehan yang kira-kira bersifat kebangsaan). Meski masih dalam bayangan yang amat samar, negara-bangsa muncul dalam “Ketika” sebagai hal yang perlu diperbaiki. (Dan karena itulah mengapa korupsi, ikon Indonesia yang paling populer itu, menjadi benang merah cerita). Ya, setelah mulai terusik untuk memperbaiki umat, pada fase ini, Dedy Mizwar mulai terpanggil untuk memberi sumbangsih kepada negara dan bangsanya. Hasrat yang mulia tentu saja.

Sinetron “Para Pencari Tuhan” kemudian menyusul muncul. Terlihat seperti hendak kembali ke jenis “Lorong Waktu”, PPT, yang ditulis Wahyu HS (penulis “Lorong Waktu”), ternyata adalah sintesis bagus antara perenungan-perenungan sufistik ala “Lorong Waktu”, dorongan kepada kesalehan individual ala KSD (film), dan kesalehan sosial ala KSD (sinetron). PPT tak hanya bicara tentang pencarian kebenaran oleh tiga bekas penjahat kacangan (Baron, Juki, dan Chelsea) yang mencoba sadar, tapi juga tentang orang-orang miskin dan terpinggirkan (Asrul dan Udin Hansip) yang mencari keadilan Tuhan. Namun, untuk pencinta drama, PPT juga menyediakan kisah cinta berliku antara Aya dan Azam. Tak hanya lebih rumit dari kisah cinta Si Doel dan Sarah yang legendaris itu, hubungan Aya dan Azam, di beberapa bagian, menyajikan kecerdasan dan kedalaman yang—menurut saya—jarang ada tandingannya di film Indonesia.

“Naga Bonar jadi 2” (NB2) lalu menyela. Film ini memang dimaksudkan jadi sekuel Naga Bonar-nya MT Risyaf yang legendaris itu. Tapi, sungguh, film ini hampir tak ada hubungannya dengan naskah cemerlang bikinan Asrul Sani tersebut. Prekuel dari NB2, tak lain dan tak bukan, adalah film-film dan sinetron Dedy Mizwar sebelumnya. Namun, yang paling dekat secara genealogis dengan NB2 adalah “Ketika”, yang sama-sama ditulis oleh Musfar Yasin. Bila pada “Ketika” bayangan tentang negara-bangsa yang mesti diperbaiki masih tampak samar, maka pada NB2 negara-bangsa tampil dengan lebih telanjang dan siap untuk dihajar (meski, seperti yang akan kita lihat, belum sekeras dan sevulgar yang dilakukan oleh Dedy dengan “Alangkah Lucunya”). Vero, seorang teman yang biasa menulis tentang film, menyesalkan nada mashgul dan muram dalam diri Naga Bonar yang dulunya cuek dan dekonstruktif itu. Namun, saya membela dengan mengatakan kalau Naga Bonar mulai menjadi tua dan mengeras, dan ia telah tampak capai dengan apa yang dimukainya saat ini, persis seperti Dedy Mizwar. Naga Bonar, di tangan Dedy Mizwar, adalah Dedy Mizwar itu sendiri, adalah seorang tua yang mulai geram, yang tidak saja semakin tidak bisa mengerti dengan apa yang terjadi di sekitarnya tapi juga karena merasa tidak dimengerti.

Dan, Naga Bonar yang geram inilah yang kemudian muncul di sebuah jumpa pers di tengah hiruk-pikuk Pemilu 2009. Katanya, dengan meminjam mulut dan muka Dedy Mizwar, ia mau maju sebagai calon wakil presiden bersama seorang bekas tentara yang tersingkir, Jenderal Saurip Kadi. Ibas, teman saya, seorang pembahas politik yang bersemangat sekaligus apresiator film yang buruk, cemas dengan kenyataan itu. Ia, yang masih terus mencari kebenaran itu, takut kehilangan tontonan yang disukainya, PPT jika Dedy terlalu sibuk berpolitik, apalagi jika sampai terpilih (untungnya tidak—meski, malangnya, kita cuma dapat SBY). Saya juga cemas, bahkan setelah Dedy Mizwar tak pernah bisa lebih maju dari status “berniat menjadi kandidat calon wapres”. Saya takut, Dedy Mizwar menjadi semakin radikal saja.

Kekuatiran saya segera tampak pada PPT musim terakhir, yang dibikin setelah pencalonan Dedy. Meski tetap setia dengan kesalehan ritual dan kesalehan sosial khas produk DGCS, PPT musim ketiga menjadi sangat politis. Digerakkan oleh benang cerita tentang pemilihan ketua RT, PPT musim terakhir kemarin adalah melulu parodi politik atas Pemilu 2009 (saya bahkan menemukan sosok SBY pada Pak RW, yang peragu, sok cerdas, tapi manipulatif). Tapi, ini sinetron sahur, teman. Mana ada berkah sahur yang lebih baik dari sinetron seserius itu? Jadi, bagi saya, ini sama sekali bukan masalah. Namun, diam-diam, saya semakin kuatir.

“Alangkah Lucunya (Negeri Ini)” (2010) kemudian menjawab kekuatiran itu.


3/
Sementara saya sedang muak-muaknya dengan hal-hal politis, AL(NI) tidak hanya terlalu politis tapi juga terlalu vulgar sebagai film sosial-politik. Omongan dan dialog soal koruptor dari para tokohnya, baik Muluk (Reza Rahadian) dan terutama Syamsul (Asrul Dahlan), terdengar seperti muncul dari megaphone para demonstran bayaran: sumbang, dangkal, diulang-ulang, dan karena itu klise. Muka-muka yang dimunculkan di layar oleh Dedy dan dikonstruksi oleh naskah Musfar Yasin terlalu emosional dan sekaligus putus asa—dan itulah wajah keseluruhan film ini. Sudah begitu, film ini gagap sebagai sebuah cerita—dan karena itu saya seperti habis melihat film (sejenis) Warkop. Film ini seperti ular yang memakan buntutnya sendiri: tak jelas juntrungnya. Dan, ah, iklannya itu lho... (untuk soal ini, terima kasih pada sebuah catatan yang saya temukan di dinding seorang teman di facebook).

Saya tidak terkejut dengan apa yang saya temukan di bioskop. Sejak melihat NB2, dan kemudian mengikuti PPT edisi terakhir, saya sudah memperkirakan film macam begini ini pasti akan muncul juga dari tangan Dedy Mizwar. Saya hanya sedikit menyesalkannya—terutama karena saya sangat menyayangi Dedy Mizwar dan menganggap Musfar Yasin adalah orang yang membuat saya berangan-angan menjadi penulis skenario.

Meski begitu, harus saya tegaskan, saya tidak keluar dari bioskop dengan marah—karena sudah membayar untuk menonton “Democrazy” edisi layar lebar. Saya tetap keluar dengan perasaan yang sedikit lega (lega, tapi sedikit, apa hayo?). Sebab di film ini kita menjumpai Slamet Rahardjo, Dedy Mizwar, Jaja Miharja, dan Tio Pakusadewo, yang itu jelas tak bisa disamakan dengan Mucle, Isa, dkk. di “Democrazy”. Menonton Slamet Rahardjo dan Dedy Mizwar dalam satu scene adalah sebuah pengalaman terbesar untuk pencinta film Indonesia dalam sepuluh tahun terakhir. Jaja Miharja sama menyenangkannya dengan apa yang sudah ia tunjukkan dalam “Rindu Kami Pada-Mu”. Sementara Tio Pakusadewo tetap bersinar seperti biasa—macam apa pun peran yang dimainkannya.

Saya, meski secara keseluruhan tak begitu menyukai film ini, juga tak akan keberatan bertengkar dengan orang yang mencerca film ini secara keseluruhan. Bukan saja karena tidak semua bagiannya buruk, tapi karena di beberapa bagian film ini justru sangat berhasil (baca, lucu tapi juga mengiris). Meski berkali-kali menonton film tentang tekyan, gelandangan, dari berbagai masa, dari berbagai negara, dengan berbagai jenis, (dari yang realis seperti “Salaam Bombay”, liris semisal “Daun di atas Bantal”, sampai yang dilebih-lebihkan macam “Slumdog Millionair”), lanskap sangar Jakarta di belakang gedung-gedung tingginya yang ditunjukkan oleh AL(NI) tetap saja menggetarkan saya. Saya yang dibilang oleh beberapa teman terlalu membenci Jakarta, setelah melihat gambar-gambar sadis di AL(NI), merasa selama ini terlalu lunak. Jika penonton yang datang ke bioskop ingin tertawa, asal mau tertawa dengan cara yang pahit, saya rasa juga akan mendapatkannya. Misalnya, calon anggota dewan (Edwin) yang membawa laptop 15 juta-annya ke rumah cewek idamannya ternyata hanya ingin memperlihatkan wallpaper akuariumnya. Juga saat lagu Indonesia Raya dinyanyikan dengan ditutup ucapan “amin”. Bukannya terdengar lancang, saya justru menemukan kalau kata “amin” yang “remeh” itu dan dilakukan dengan penuh tawa lagi sembrono oleh para pencopet kecil itu telah mengubah sebuah himne yang gagah menjadi doa ratapan yang memelas (coba nyanyikan ulang: “...Hiduplah Indonesia Raya... Amin....”). Bagi saya, itu terdengar sama memelasnya dengan saat orang Islam mengucap ayat terakhir al-Fatihah: “Lindungilah kami dari jalan orang-orang yang Kau murkai dan orang-orang sesat...”. Dan tentu saja pertentangan yang konyol lagi sarkastis antara beternak cacing dan beternak kucing.

Tapi, saya juga sama sekali tak menyesal menonton AL(NI) karena, rasa-rasanya, saya baru saja menonton kelanjutan PPT jauh lebih cepat dari seharusnya (puasa masih lama bukan?). Ya, film ini amat dekat dengan PPT edisi terakhir. Kesinisannya terhadap negara, dialog tanpa jawab antara kesalehan individual dan kesalehan sosial, juga anomali-anomali dalam agama yang selama ini dianggap tak ada, dan—tentu saja—celetukan-celetukan nakal dan kocak yang mengguncang iman sekaligus ikat pinggang, semuanya tampak akrab di mata dan kuping saya yang biasa nonton PPT. Apa yang bisa kita temukan dalam AL(NI), semisal tukang warung yang selalu mengingatkan pelanggannya yang para bajingan untuk mengucap bismilah sebelum makan, koordinator copet yang garang namun memiliki sisi kenabian, kaum tua yang keras namun menyembunyikan keraguan, kaum muda yang ingin melawan tapi dengan cara yang canggung, juga penganggur yang menggugat negara sekaligus Tuhan, hampir semuanya bisa kita temukan padanannya pada PPT. Saya tak heran saat menemukan koordinator pencopet yang garang dan dingin itu (yang dimainkan dengan nikmat oleh Tio) memajang gambar Masjidil Haram besar di ruang tamunya. Sebab, di PPT saya sudah temukan tokoh Baha (pelaut pemabuk yang dermawan sekaligus berjasa membetulkan arah kiblat masjid) dan Robin (perampok budiman yang mengkoordinir para anak buahnya sembari berzikir memohon keadilan Tuhan).

Dan PPT lebih kental lagi muncul pada AL(NI) karena sebagian pemain PPT juga ambil bagian di AL(NI). Dedy Mizwar dan Asrul Dahlan yang mengambil peran cukup besar di film ini menjadi representasi paling jelas dari nafas PPT—lebih-lebih karena karakter Syamsul (yang terdidik, menganggur, dan karena itu penuh dengan gugatan) yang dimain Asrul Dahlan serupa benar dengan karakter Asrul di PPT. Dan lengkap sudah nuansa PPT ketika di ujung cerita, Udin Ngaga atawa Udin Hansip, ikon paling populer PPT selain Asrul Penganggur, muncul sebagai petugas Satpol PP.


4/
Dunia mungkin semakin reot dan makin tidak nyaman, sehingga orang-orang yang pada dasarnya berhati baik merasa memanggul tanggup jawab untuk turut memperbaikinya. Oleh karena itu, orang-orang semakin gemar berceramah, dan dai-dai bermunculan seperti tokek sehabis hujan. Hadis populer “ballighu anni walaw aayat” (artinya: sampaikanlah walau pun—yang kamu tahu—cuma satu ayat) dipraktikkan dengan cara yang setepat-tepatnya, yang belum pernah saya temukan sebelumnya. Orang-orang berlomba-lomba bikin buku nasihat.

Entah karena mulai terbiasa dengan “nasihat satu ayat”, atau memang, bersamaan dengan semua ini, segitu itulah kapasitas sebagian dari kita kini, dunia menjadi semakin bebal saja. Tanda-tanda tak lagi bisa dipahami. Metafora tak lagi punya guna. Kata-kata bersayap tak bisa dimengerti. Sindiran terdengar seperti sapaan. Peribahasa tak lagi terpakai. Puisi disingkirkan oleh iklan paling vulgar. Dan lagu-lagu liris digusur oleh lirik-lirik mentah.

Maka, pliss..., jangan heran jika kevulgaran terjadi di mana-mana, termasuk dari orang-orang baik lagi gelisah yang selama ini setia bersembunyi di balik benteng tanda dan metafora. Dari Devon, di pelosok Manchester, Inggris, sana, Matt Bellamy, penulis lagu untuk bandnya, Muse, menjelaskan semua perubahan lirik-lirik lagu-lagunya, dari gelap-liris-skeptis di album-album awal menjadi terang-vulgar-optimis, dalam satu baris di lagunya ‘Unnatural Selection’ (“Resistance”, ‘09): “I wanna speak in a language that they’ll understand.” Kiranya, itulah yang dilakukan oleh Iwan Fals dengan lagu-lagu terakhirnya (ah, sedih rasanya membandingkan lagu-lagu dalam “Cikal” dengan lagu-lagu pada “50:50”). Juga Goenawan Mohamad, pada Caping-caping terakhirnya, terutama di seputar Pemilu 2009, yang terang-jelas (namun, menurut saya, menyesatkan) itu. Pun Taufik Ismail, yang berubah dari penyair liris yang mengiris menjadi serupa klerik yang fanatik. Dan, tentu saja, Dedy Mizwar dengan AL(NI)-nya.

Tapi, meski tidak nyaman dengan film terakhir Dedy Mizwar, bagi saya, AL(NI) adalah kucing di jagad film Indonesia yang dipenuhi cacing. Pada saat kita tak kunjung punya sapi atau kambing, maka benar belaka kata para pemain kartu kepada Muluk di film ini, “daripada beternak cacing yang halal-haramnya belum jelas, piara kucing saja, karena kucing adalah binatang kesayangan Nabi.” Tapi, sesuai peringatan MUI, karena daging kucing kurang bergizi, maka sebaiknya dilihat sajalah, jangan dimakan.

5/
Untuk Pak Dedy, cobalah beternak Unta. Sebab selain menguntungkan, kata teman saya, Ajianto, “Unta itu binatang Islam.”***



ReviewReviewReviewFeb 24, '10 2:15 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Sports
Judul : King
Sutradara : Arie Sihasale
Pemain : Mamiek Prakoso, Aryo Wahab, Wulan Guritno, dll.
Naskah : Dirmawan Hatta
Tahun Rilis: 2009


King bukan film (tentang) anak-anak malang. Bahkan, lebih banyak adegan yang mengundang gelak tawa dibanding scene-scene yang mengundang air mata. Tapi, percaya atau tidak, selepas 15 menit film berjalan, saya tak bisa menghitung berapa kali saya menangis. Saya cengeng? Mungkin. Tapi percayalah, saya justru menangis di bagian-bagian yang saya yakin tak direncanakan untuk menjadi peruntuh hati. Bagaimana mungkin adegan orang-orang desa bersorak-sorak di depan televisi yang menayangkan bulu tangkis membuat Anda menangis? Tapi, sungguh, saya menangis.

Dirmawan Hatta, penulis naskah film ini, telah dua kali merontokkan hati saya. Pertama, saat ia (kalau tak salah, bersama Armantono) menggarap Rindu Kami Padamu (punya Garin). Tiga serangkai bocah kurang kasih sayang di film ini memukul saya berkali-kali, terutama si bisu, Rindu (yang selalu memiliki banyak hal untuk dikatakan itu). Dan kini di King. Hatta, seperti yang dilakukannya di RKP, kembali menyodorkan tiga bocah: Guntur, Raden, dan Michelle (benar begini ‘kan menulisnya?).

Tapi, sorry, tak ada satu pun dari mereka yang menawan hati saya. Tiga serangkai di King, tak seperti di RKP, terlalu tipikal bagi saya (baik secara watak maupun karakter fisik). Tak ada yang istimewa dari bocah miskin yang bercita-cita jadi juara. Tak terlalu mengherankan melihat bocah kribo yang mengabdikan dirinya hanya untuk cita-cita temannya. Dan, tak ada yang aneh dari gadis kecil setengah bule yang baik hati. Mereka terlalu rapi direncanakan. Jadi, begitulah, tak ada kejutan.

Tejo yang Menawan

Tapi film ini memiliki Tejo, bapaknya Guntur. Dan inilah karakter yang meremukkan hati saya (berkali-kali!). Lewat setiap kalimat yang diucapkannya, air mukannya, tatapannya yang dingin, bahkan kediamannya. Hatta berhasil merancang sebuah karakter yang secara tepat merepresentasikan kebanyakan “bapak budiman” khas Indonesia yang jarang sekali muncul di layar lebar kita: seorang bapak yang dingin, bahkan kasar, tanpa ciuman dan pelukan, tak menyisakan sedikit pun pujian, tapi menyerahkan tubuh dan jiwanya hanya untuk anak (-anak)-nya. Dan Mamiek Prakoso, pelawak yang penggawa Srimulat dan kakak kandung Didi Kempot (seniman Jawa terpopuler setelah Ronggo Warsito) itu, dengan sangat cemerlang menerjemahkannya dalam setiap adegan yang dimainkannya—hal yang membuat saya bisa mengerti mengapa Arie Sihasale (produser dan sutradara) begitu murka saat mendapati Mamiek, yang dia taruh di pemeran utama muncul sebagai nominasi pemeran pembantu pria terbaik di FFI tahun kemarin.

Ya, ya, harus jujur saya katakan, cengkeraman karakter Tejo atas saya, amat diwarnai alasan-alasan personal. Meski demikian, ada banyak hal yang bisa saya bagi dari diri Tejo kepada siapa pun yang membaca tulisan ini. Misalnya ini. Karakter bapak yang dingin, yang mencoba menebus kegagalannya di masa lalu dengan keberhasilan anaknya, yang tak pernah habis mengkritik anaknya baik saat gagal maupun berhasil, dapat kita temukan di banyak film, dari seluruh penjuru dunia. Tejo, bapaknya Guntur itu, memiliki semua karakter tersebut. Namun, ia punya kelebihan yang tak dimiliki oleh kebanyakan bapak di dunia dan bapak-bapak yang pernah muncul dalam film-film Indonesia. Apa itu? Keangkuhan khas seorang bapak Indonesia (lebih khusus, Jawa).

Apa pula ini?

Begini. Menurut saya, orang Indonesia adalah salah satu makhluk di muka bumi yang paling miskin ekspresi, baik dalam tindakan, lebih-lebih lewat kata-kata. (Ingat, kita tak memiliki kalimat asli Indonesia yang sejajar dengan kalimat “I love you” lho; sementara kata “maaf” atau “ngapunten” yang ada pada kita, justru lebih banyak dipakai untuk maksud “excuse me” daripada “I am sorry”. Itu pula kenapa kita adalah bangsa yang sangat kaya dengan lambang, dan terlalu menganggap penting disiplin tubuh—lebih dari bangsa mana pun di dunia.) Dan dari semua manusia Indonesia yang miskin ekspresi, yang termiskin adalah ekspresi seorang bapak (terutama kepada anaknya). Ingat cara komunikasi Bupati Blora kepada putranya, Minke, di Bumi Manusia? Kalau Anda pembaca Pram, tentu tak lupa cara Pak Mastoer, guru sekolah liar itu, kepada anak sulungnya, Si Moek? Begitu itulah cara kebanyakan bapak-bapak kita bersikap kepada anaknya. Dan, Tejo, yang dimainkan Mamiek secara luar biasa, merepresentasikan karakter kebanyakan bapak Indonesia itu dengan sempurna. Ia dingin muka, namun hangat hati. Ia terlihat abai, padahal mengerti semua hal tentang anaknya. Ia tak berhenti mengkritik, tapi tak berhenti membicarakannya dengan bangga di depan orang lain. Ia tak banyak bicara, tapi melakukan segalanya. Ia menjaga jarak, tapi itu lebih karena ia tak ingin membebani sang anak dengan hutang budi. Ia tampak tak peduli, namun sebenarnya memiliki cara sendiri untuk mencintai. Ia sok tahu apa yang dibutuhkan anaknya, sebab ia memang tahu semuanya. Karena itulah, Tejo, yang seorang bapak Jawa, tak membutuhkan ungkapan verbal dan bahasa tubuh untuk menunjukkan betapa cita-cita Guntur adalah tujuan hidupnya. Namun, begitu hal verbal dan bahasa tubuh itu muncul, meski dalam wujud yang amat minimal, di situlah muncul adegan-adegan terhebat dalam film ini.

Tapi karena ini bukan tulisan tentang karakter manusia Indonesia, maka mari kita kembali ke film.


Guntur, satu-satunya Jagoan

Meski saya menganggap bahwa menawannya karakter Tejo berasal muasal dari naskahnya, tapi tentu saja kesuksesan Mamiek Prakoso memerankannya adalah anak kunci yang memungkinkan wayang keluar dari kotaknya. Selain Mamiek, Ario Wahab juga amat bagus memerankan Carik Raino. Saya tak pernah mendengar bahwa ia punya latar belakang Jawa Timur, namun dialog ala Tapal Kuda-nya dengan Mamiek sangat hidup (ingat obrolan di beranda rumah Raino?). Masuk dalam kelompok ini juga adalah Yati Soerachman yang memerankan Nenek Raden. Si Soem Koening ini tak pernah kehilangan sinar aktingnya meski lama berkubang dengan peran babu di sinetron-sinetron. Dan, oh ya, tentu saja Asrul Dahlan, si Padang yang saya luput mengingat namanya itu (Dedy Mizwar seharusnya mulai menyiapkan sebuah cerita berseting Sumatra yang bisa menempatkan “anak didiknya” ini sebagai pemeran utama).

Bagaimana dengan para bintang anak? Seperti telah saya singgung sebelumnya, mereka terlalu biasa dalam memerankan karakter yang juga biasa. Bisa jadi karena saya belum lama ini menonton Litle Miss Sunshine (2006) secara berulang-ulang dan kemudian mendapati bahwa seorang aktor anak-anak pun bisa mencapai level tertinggi keaktoran seperti yang ditunjukkan Abigail Breslin di film itu, saya merasa, apa yang ditunjukkan oleh para bocah di King bisa kita temukan setiap hari di FTV-FTV di tv. Saya tak pernah merasa terlibat dengan apapun yang ditunjukkan si pemeran Guntur, Raden, dan lebih-lebih Michelle. Meski demikian, saya tak begitu mempersoalkan keterbatasan para kanak-kanak ini. Mereka malah harus kita ucapi terima kasih karena kehadiran mereka tak mengganggu film—seperti yang kebanyakan dilakukan oleh para kanak-kanak di film Indonesia.

Tentu ini tak lepas dari kendali sang sutradara, Arie Sihasale—satu lagi nama yang perlu mendapat kredit tinggi dalam King. Selain mampu mengatur para pemain anak-anak bermain proporsional (meski tak terlalu seberhasil Riri Riza dalam Laskar Pelangi), dan memunculkan sinar cemerlang Mamiek Prakoso, Arie berhasil melahirkan sebuah film yang amat jarang muncul di layar lebar kita: film olahraga—dengan mutu yang bagus. Meski suasana pertandingan adalah hal yang mudah ditemukan dalam film-film liburan ala Hollywood, apa yang ditunjukkan King adalah hal yang jarang ada—jika bukan sama sekali belum ada—di film Indonesia. Dan menjadi lebih langka lagi, karena apa yang diangkat King adalah olahraga bulu tangkis, sebuah film genre olahraga yang, rasa-rasanya, tak mungkin dibikin Hollywood.

Satu lagi yang bisa dicatat dari besutan Arie adalah kegandrungannya kepada keindahan Indonesia. Arie meneruskan apa yang dulu dilakukan oleh John de Rantau di Denias (yang mengeksploitasi habis eksotisme Papua) dengan menyajikan lanskap menakjubkan di pedalaman Jawa belahan timur. Saya bahkan hampir yakin, Taman Blauran Banyuwangi dan Kawah Ijen ditentukan lebih dulu sebelum sang sutradara “menakdirkan” Guntur, yang aslinya berasal dari Pantai Utara Jawa Tengah itu, justru muncul dari sebuah desa kecil di tepian Alas Blauran di Tlatah Blambangan. Karena keyakinan inilah saya segera mengubur pertanyaan jahil di awal film: apa mungkin ada sebuah desa terpencil di pelosok Banyuwangi begitu menggilai bulu tangkis tanpa sedikit pun menyinggung bahwa di desa itu sepakbola atau bolavoli juga digandrungi?

Saya juga mencoba menepikan pertanyaan: apa mungkin Kota Banyuwangi-Alas Blauran-Kawah Ijen bisa ditempuh dengan sekali kayuh sepeda oleh para bocah? Itu karena Arie berhasil menyumpal keceriwisan saya dengan gambar-gambar menakjubkannya; gambar yang tidak diambilnya dari Papua, atau Kalimantan, atau savana di Timor Barat, atau Balitong (seperti yang ditunjukkan Riri Riza), yang untuk sebagian besar dari kita masih sebagai “dunia di luar sana”; ia mengambil gambar-gambar indah itu dari remah-remah tanah Jawa—pulau yang begitu sesak dan telah cemar ini. Selain itu, secara keseluruhan, film ini telah mengabulkan doa lama saya, yaitu munculnya film Indonesia bergenre olahraga yang sangat-sangat Indonesia, sebagaimana Amerika memiliki film-film tentang baseball dan American football (sumpah! saya banyak menumpahkan air mata hanya untuk alasan ini). King, dengan cara luar biasa, memenuhi ekspektasi saya tentang film anak-anak ala Indonesia yang menyamai Air Bud, yang enteng, sederhana, berakhir bahagia (dengan adegan akhir berupa sorak-sorai dan gelar juara), tanpa perlu adegan-adegan konyol, dan—yang paling penting—tidak ada adegan penyiksaan.

Dalam hal keentengan dan kesederhanaannya pula film ini lebih saya sukai dibanding Garuda di Dadaku-nya Ifa Ifansyah atau il fenomenon Laskar Pelangi. Garuda bagi saya terlalu urban dan mengawang, sementara LP menurut saya (yang belum baca bukunya itu) terlalu berbelit-belit. Dibanding dua sejawatnya, King jauh lebih tegas sekaligus lebih berhasil dalam menyampaikan pesan mulia bahwa “siapa pun bisa jadi juara jika berlatih dan bekerja keras” (kenapa Sozzis tak ikut menyeponsori film ini ya?). Jika LP, misalnya, terpecah konsentrasinya karena membagi perhatian antara perjuangan Bu Mus, heroisme tragis Lintang, dan glorifikasi terhadap sosok Ikal, maka King jauh lebih fokus dan bersetia dengan usaha dan gelar juara Guntur. Arie (tentu dengan Hatta) berhasil menggiring semua karakter di film, dan semua detil cerita, hanya untuk sebuah adegan puncak: saat Guntur dipeluk Liem Swie King.

Meski begitu, saya tetap mau protes sama Arie. Mengapa Wulan Guritno yang cemerlang itu hanya ia pakai alat untuk melogiskan munculnya seorang tokoh pelengkap bernama Michelle—hanya agar formula klasik tentang kombinasi sahabat di sebuah cerita fiksi memenuhi standar? Itu sungguh mengganggu saya. Dan, oh, masyaallah, betapa ia ceroboh dalam memanfaatkan para tamu istimewanya. Saya belum lama ini menonton Mike Tyson di Hangover. Tak bagus amat. Meski demikian, Tyson tak menyakitkan mata, tak seperti yang dilakukan Haryanto Arbi dan rombongan legenda bulu tangkis lainnya. Wagu tenan. Lebih buruk dari para polisi di adegan penangkapan pada sinetron-nya Raam Punjabi. Tamu ya tamu. Juara dunia ya juara dunia. Tapi, ya mestinya tetap diatur lah, Bung Arie. Eric Cantona dan John McEnroe adalah sedikit contoh bahwa para juara di gelanggang olahraga tak mesti tampil amburadul di depan kamera. Mereka para juara dunia kita, lho. Mereka adalah pusaka terbesar kita dalam khazanah olahraga. Maka, seyogianya, jangan tampilkan mereka di layar layaknya figuran seharga 50 ribuan.

Tapi, ah, lupakan paragraf di atas. Saya menyukai King. Saya suka naskah Hatta. Saya jatuh cinta dengan akting Mamiek. Saya sungguh menikmati sajian Arie Sihasale. Dan karena itu, saya sama sekali tidak menyesal menjulurkan lidah kepada hantu deadline saya hanya untuk menonton King dan menulis ulasan ini.***


*Tulisan ini adalah produk jadi pertama yang dihasilkan dari Acer kecil saya. Meski papan kuncimu terlalu kecil dan terlalu lembut untuk jari kasarku, kau sangat menyenangkan, teman!


Category:Movies
Genre: Cult
Perjuangan dan Do’a
Sutradara: Maman Firmansjah
Cerita: Rhoma Irama
Pemain: Rhoma Irama, Ricca Rachim, WD Mochtar, Soultan Saladin
Musik: Soneta Group
Tahun: 1980


Dalam sebuah talk show televisi belum lama ini, Rhoma Irama menyatakan ia tak pernah merasa dirinya aktor, meski ia telah main di lusinan film. Sebab, Rhoma merasa tak pernah berakting. “Saya selalu memerankan diri saya sendiri,” demikian ia beralasan. Ia menambahkan, semua filmnya hampir-hampir biografis. Tulang punggung cerita atau adegan-adegan dalam film-film Rhoma banyak diambil dari riwayat hidup, pengalaman-pengalaman pribadinya, dan tentu saja ideologi sang Raja Dandut. Sebagai contoh, dalam “Berkelana” (1978), adegan sang ayah (Rahmat Hidayat) yang menghantamkan gitar si anak bandel, Rhoma, ke pohon hingga hancur berkeping-keping tak lain adalah pengalaman masa kecil Rhoma yang nylonong ke film. Jika Anda lebih banyak tahu tentang Rhoma Irama, maka semakin mudah Anda menemukan bahwa Rhoma yang fiktif terlalu banyak memiliki kemiripan dengan Rhoma yang nyata.

Dan dari serangakaian pengalaman panjang menonton film-film Rhoma Irama, “Perjuangan dan Doa” adalah salah satu film Rhoma yang paling dekat dengan perjalanan hidup Rhoma sesungguhnya.

***

“Perjuangan dan Doa” berkisah tentang perjuangan Rhoma (tentu saja diperankan Rhoma Irama) dalam menghadapi tuduhan amat serius: mengkomersilkan agama. Tuduhan yang beredar luas di media dan masyarakat ini berdampak tak kecil bagi Rhoma secara pribadi, juga bagi eksistensi grup musiknya, Soneta. Pesantren di mana Rhoma dulu pernah belajar membahas dengan serius tuduhan atas Rhoma itu dan berhasrat untuk meminta penjelasan langsung Rhoma. Seorang santri senior bernama Ahmad (Soultan Saladin), didorong oleh rasa dengki, menjadi pelopor bagi terselenggaranya sebuah “pengadilan” atas Rhoma. Keadaan diperburuk oleh kondisi internal Soneta yang bergolak, sebab ada sebagian kecil personel yang mulai meragukan integritas moral pemimpinnya. Dan yang tak kalah gawat, jalinan kisah-kasih Rhoma dengan Lela (Ricca Rachim) juga ikut terancam akibat isu ini. Hal ini karena ayah Lela, Pak Mansyur (WD Mochtar), yang pemabuk berat, marah besar setelah dinasihati oleh Rhoma. Bagi Pak Mansyur, Rhoma tak berhak menasihatinya, karena baginya Rhoma hanya seorang penjual agama, yang akhlaknya tak lebih baik darinya.

Bagi yang menggemari film Rhoma dikarenakan aksi-aksi pencak Betawinya, mungkin karena kejantanananya, atau karena perjalanan cinta sang Raja yang penuh liku, dan tak jarang pilu, “Perjuangan dan Doa” mungkin bukanlah film yang teramat istimewa. Film ini tak banyak dihiasi oleh adegan perkelahian, semisal “Darah Muda”, “Badai di Awal Bahagia”, atau “Kemilau Cinta di Langit Jingga”. Lebih-lebih adegan perang-perangan, macam film kolosal “Satria Bergitar”, “Jakaswara”, atau tembak-tembakan ala cowboy seperti “Pengabdian”. Dalam “Perjuangan dan Doa”, adegan yang hampir mendekati perkelahian hanya saat Riswan, seorang personel Soneta yang kedapatan mabuk dan main perempuan, marah saat dinasihati Rhoma dan mengacung-acungkan pecahan botol bir ke arah ketuanya itu. Tapi, ya, hanya sampai di situ saja, karena sesaat kemudian Riswan terduduk karena menyesal. Kurang seru bukan?

Bumbu kisah cinta film ini pun tak rumit-rumit amat, tak seperti, misalnya, “Berkelana”, box office-nya Rhoma yang bercerita tentang kisah-kasih sopir dan anak majikannya itu. Atau “Gitar Tua”, yang dengan sangat sadis membutakan mata sang pahlawan kita semua, sembari pasrah menyerahkan sang kekasih tercinta dikawini oleh kakak kandungnya. Bumbu cinta dalam “Perjuangan & Doa” tak sedramatis itu. Tak mulus-mulus amat, tentu saja. Sebab, dalam film ini ada sosok orang ketiga bernama Ahmad, seorang santri senior yang cerdas namun tendensius sekaligus penuh api cemburu. Dan jangan lupakan, Pak Mansyur. Calon mertua ini berbalik memusuhi sang superstar akibat termakan kabar soal isu penjualan agama oleh Rhoma. Juga karena si Rhoma, yang belum lagi jadi menantunya, tak henti-hentinya mengkhotbahinya tentang haramnya minuman keras. Namun, para penghalang itu tak benar-benar membuat si pahlawan utama mesti berdarah-darah—seperti dalam banyak film Rhoma lainnya. Ahmad akhirnya memeluk Rhoma dengan takzim setelah sebuah perdebatan sengit tentang hukum musik dalam pandangan fikih. Sementara Pak Mansyur menjabat tangan Rhoma dengan hangat setelah sebuah adegan pertobatan yang mengharukan.

Namun yang senang dengan film dan menggilai sejarah film, “Perjuangan dan Doa” sungguh tak bisa dilewatkan. “Ini film penting, Coy!” begitu kira-kira kalau seandai Budi Anduk diminta komentarnya. Namun jika Anda menyukai kajian pop, film ini adalah sebutir permata. Sungguh, seandainya film dan musik (pop) memiliki tempat yang semestinya dalam kajian kebudayaan kita (dari dulu sampai kini), sebagaimana—misalnya—sastra dan seni rupa, sementara dangdut diperlakukan dan dipandang sebagai sebuah gejala budaya sebagaimana sejarah musik dunia mencatat Rock n’ Roll atau British Invasion , maka “Perjuangan dan Doa” adalah sebuah peristiwa budaya. Dari sisi historis dan cultural, jelas berlebihan jika menyamakan film ini dengan Indonesia Menggugat-nya Soekarno. Tapi, sejauh yang saya tahu, sungguh sangat proporsional jika menyamakan “pengadilan” atas Rhoma dalam “Perjuangan dan Doa” dengan Pledoi HB Jassin tentang Polemik ‘Langit Makin Mendung’, sementara sebuah baris dialog Rhoma dalam film ini tentang ideologi dan misi yang diemban Soneta sama pentingnya dengan kredo puisi Sutardji Calzoum Bachry tentang kemerdekaan kata dalam pengantar O, Amuk, Kapak.

Ya, film ini seharusnya diberi judul “Pledoi dan Kredo”. Karena memang dua hal itulah isi film ini. Behind the Scene film ini adalah serangan bertubi-tubi dari banyak sisi terhadap musik Soneta dan pribadi Rhoma. Dari para pembenci dangdut, Rhoma dan Soneta-nya diserang karena cita rasa gado-gado musik bikinannya, sementara dari pihak yang (mungkin) muak dengan seruan Rhoma yang sok moralis lewat lirik-lirik lagunya Rhoma tak lebih hanya seorang penjual ayat semata. Dan film ini, seperti yang diungkapkan banyak sohibul hikayat, adalah pembelaan sekaligus penegasan atas corak musik dan ideologi Soneta.

Untuk tahu bahwa film ini sebuah pledoi, tak perlu dengan analisis njelimet yang diakhiri oleh sebuah kesimpulan hermeneutis. Sebab, pledoi itu memang tampak telanjang di film, dan menjadi bagian penting dari plot. Pada salah satu bagian, Rhoma mesti menghadapi sebuah undangan debat mengenai kedudukan musik dalam Islam yang diadakan oleh pesantren tempat Rhoma dulu nyantri. Taruhannya tentu saja nggak main-main. Tak hanya reputasi Rhoma sebagai superstar terkenal sekaligus musisi pendakwah yang akan dipertaruhkan, juga jalinan kasihnya dengan Lela akan terancam jika Rhoma tak bisa melewati forum ini dengan mulus. Sebab, Ahmad, si penggagas debat, sedang menunggu kehancuran Rhoma di forum ini, dan ujungnya, ia bisa mendapatkan Lela, salah satu santri pesantren itu sekaligus pacar Rhoma.

Selain jadi bagian penting dari alur cerita, pledoi itu jadi menonjol karena waktunya yang amat panjang dalam film. Dari durasi film yang tak sampai dua jam, debat di mana Rhoma “diadili” itu memakan waktu tak kurang dari 25 menit, tanpa dipotong adegan lain. Dalam sken yang dibikin menegangkan ala adegan pengadilan dalam “Kramer vs Kramer” itu, Rhoma menjawab, tentu saja dengan tenang dan penuh keyakinan, gugatan-gugatan fikhiyah mulai dari kedudukan musik dalam Islam, keraguan atas manfaat dibanding mudaratnya musik dangdut bagi umat, hingga yang paling khusus tentang “penjualan” ayat-ayat al-Qur’an dalam lagu-lagu Soneta. “Dalam kasus lagu ‘Laa Ilaaha Illallaah’, saya tidak memasukkan Surat Al-Ikhlash dalam lagu. Ayat itu saya baca di luar lagu. Sementara yang saya iringi dengan musik adalah terjemahan atas Surah Al-Ikhlash tersebut. Jadi, saya rasa saudara-saudara tahu perbedaan antara ayat dengan terjemahan ayat.” Begitu salah satu jawaban panjang lebar Rhoma atas tuduhan penjualan ayat. Atas munculnya pengaruh buruk yang bisa saja dimunculkan oleh musik dangdut yang dibikinnya, Rhoma menjawab dengan jurus jitu: niat. Ia mengutip hadis popular, “Innamaa a’malu binniyaat, wainnamaa liqullimriin maa nawa…”—bahwa semua urusan mesti dikembalikan kepada niatnya. Dan, seperti yang diduga, niat Rhoma menciptakan musik tak lain kecuali untuk “amar ma’ruf nahi munkar”, mengajak kepada kebaikan dan mencegah keburukan. Dan Rhoma menegaskan, “jika ada penggemar Soneta yang terjerumus, itu adalah akibat kesalahfahamannya atas lagu tersebut.”

Tapi bukan pledoi itu saja. Yang tak kalah penting, film ini juga menjadi corong Rhoma untuk menyampaikan kredo kesenian dan landasan ideology musiknya. Seperti yang ditegaskannya kepada para personel Soneta maupun kepada khalayak dalam debat yang mengadilinya, Rhoma mengatakan bahwa Soneta adalah Sound of Muslim, berazaskan Islam, dengan misi amar ma’ruf nahi munkar, guna membendung derasnya pengaruh musik setan yang datang dari Barat. Mendengar rangkaian kalimat yang gagah itu, sebagian dari kita—termasuk saya—mungkin saja tak bisa menahan senyum (atau bahkan tertawa terbahak-bahak). Tapi, begitu mengingat bahwa dalam sejarah kebudayaan kita tindakan mendefinisikan kesenimanan adalah sesuatu yang langka, lebih-lebih di ranah musik, maka senyum atau bahkan tawa itu sebaiknya segera diikuti oleh gerak manggut-manggut. Lebih-lebih jika mengingat bahwa tengah 70-an musik Indonesia tak lain adalah sebuah pengulangan sepersis-persisnya apa yang sedang dianggap keren di Amerika atau Inggris, maka sebuah pernyataan melawan yang disertai dengan kesadaran untuk menjadi beda seperti yang dinyatakan oleh Rhoma adalah sebuah revolusi, serevolusioner—maaf jika dianggap berlebihan—Mukadimah LEKRA 1950 yang menolak kelatahan budaya para penggagas Surat Kepercayaan Gelanggang. Lepas bahwa perlawanan itu tak lebih dari sebuah mimikri dan revolusi itu lebih tepat jika dianggap sebagai sebuah modifikasi (sebagaimana yang ditunjukkan dengan amat menarik oleh William H. Frederick dalam bahasannya tentang Soneta dan Rhoma), kredo itu pasti dirumuskan oleh seorang jenius. Dan, film ini menjadi penting sebagian karena dua hal itu.

***

Yang tak suka bertele-tele dengan diskusi tentang musik dan agama, juga mungkin mual-mual dengan kata dan wajah Rhoma yang sok suci itu (ampun, Bang Haji….), film ini tetap menyisakan kesenangan pada soundtrack-soundtracknya. Dan bagi saya yang mendudukkan Rhoma seperti para snobis memuja Mozart, film ini termasuk film Rhoma dengan OST terbaik. Ada tak kurang 10 lagu yang semua, tentu dalam kacamata penggemar Soneta, jadi hits—dengan beberapa di antaranya dikenal bahkan di luar komunitas menyuka dangdut. Siapa tak tahu lagu ‘Haram’? Mana ada penonton layar tancap yang tak tergetar dengan ‘Kerudung Putih’ yang romantis tapi juga transendental itu? Dan tentu saja lagu ‘Menunggu’, yang baru-baru ini diledakkan (kembali) oleh Sonet-2 Band dan diklaim Bang Haji sebagai revolusi dangdut kedua.

Tapi yang perlu mendapat catatan lebih tentu saja adalah dua lagu aneh: ‘Ghibah’ (sebuah repertoar sepanjang delapan menit) dan ‘Nafsu Serakah’(lagu paling keras yang pernah ditelurkan Soneta). Pada dua lagu yang senyata-nyatanya adalah rock ditambah suling ini, alih-alih terlihat sebagai penghalau musik setan dari Barat, Rhoma dan Soneta-nya malah tampak sebagai si murid berbakat yang murtad. Alhasil, dua lagu inilah yang paling sering dijadikan rujukan para pengulas musik jika ingin menengarai adanya jejak musik rock pada musik dangdut, atau lebih spesifik lagi hubungan intelektual-spiritual antara Rhoma Irama, seorang ‘malaikat’ dari Timur, dengan Richie Blackmoore, gitaris grup cadas Deep Purple yang layak disebut sebagai salah satu setan musik paling berbakat yang pernah dilahirkan Barat.

Yang terakhir, namun tak boleh dilupakan, film ini menampilkan WD Mochtar dalam penampilannya yang paling mengerikan (dalam arti sebenarnya). Sebagai Pak Mansyur yang pemabuk, WD Mochtar muncul dengan wajah berminyak, kumis baplang, mata merah, tubuh sempoyongan, dengan botol Anker Bir di tangan kiri dan kanan. Tak akan ada yang tak ngeri bila menontonnya. Dan tak akan ada perempuan yang tak membencinya jika melihatnya. Singkatnya, dalam film ini, kita akan menemukan penjahat paling penakutkan yang pernah ada di film Indonesia. ***


Catatan: Selain “Kramer vs Kramer”, semua film yang disebut di atas adalah film yang dibintangi Rhoma Irama.


Category:Movies
Genre: Drama
Judul : Ponirah Terpidana
Sutradara : Slamet Rahardjo Djarot
Cerita/Naskah : Slamet Rahardjo Djarot
Pemain : Christine Hakim, Nani Vidia, Slamet Rahardjo Djarot,
Tahun : 1983

Apa yang bisa kita ingat dari karakter-karakter perempuan dalam film Indonesia? Saya berani bertaruh tak akan lepas dari 4 hal yang saya sebut ini: 1) wajah cantik, tapi nangisnya nggak selesai-selesai; 2) wajah jelek, jahatnya minta ampun; 3) bodi semok, dan murahnya bukan main; 4) gabungan ketiganya, tapi dengan kaki mengambang dan tangan bercakar. Hampir demikianlah perempuan-perempuan kita dalam film Indonesia. Dan, sepenting apapun karakter mereka dalam jalinan cerita film, mereka tak lain adalah pelengkap saja dari sebuah dunia nyata yang dikemudikan para pria--yang bisa saja menjelma sebagai modal, sutradara, atau para penonton seperti saya.

Tapi hampir. Artinya, masih ada karakter perempuan-perempuan yang diluar empat tadi. Kita masih memiliki, paling tidak, Cut Nyak Dhien ("Cut Nyak Dhien"), Ambar (3 Hari untuk Selamanya), dan tentu saja Ponirah dan Trindhil ("Ponirah Terpidana").

Entah apa yang diinginkan oleh Slamet Rahardjo, sedikit dari sutradara Indonesia yang selalu menyisipkan visi dan ideologi di antara gulungan seluloidnya, saat bikin "Ponirah Terpidana". Amat mungkin ia semata sedang mengeksplorasi tentang sebuah mitos Jawa tentang 'bahu lawean' (perempuan pembawa sial). Atau bisa jadi "Ponirah Terpidana" adalah sebuah tragedi psikologi seorang manusia (perempuan) yang dihantui rasa bersalah--sebagaimana ia membikin "Kodrat", tiga tahun kemudian. Atau mungkin yang lain. Tapi, di mata saya yang tak tertarik feminisme ini, "Ponirah Terpidana" adalah film cerita “paling perempuan" yang pernah saya temukan dalam khazanah sinema Indonesia. "Pasir Berbisik"? Lewat…

***

"Ponirah Terpidana" bercerita tentang Ponirah (Nani Vidia), seorang gadis yang sejak kecil dianggap oleh bapaknya, Djabarudi (Bambang Hermanto), sebagai pembawa sial, karena ia dianggap berkontribusi atas kematian ibunya dan kakak kandungnya. Besar di bawah asuran Trindhil (Christine Hakim), babu di rumahnya yang kemudian menjadi seorang pelacur, Ponirah tumbuh bersama perasaan bersalah akibat stigma yang ditanamkan bapaknya. Dan, rasa bersalah itulah yang kemudian membawanya pergi ke Jakarta mengikuti bajingan pengecut merangkap germo bernama Jarkasi (Ray Sahetapy), meninggalkan Trindil yang telah renta dan putus asa sekaligus menghindari sang paman, Guntoro (Ricky [Ricchi?] Richardo dan Slamet Rahardjo), yang tak memiliki tujuan hidup selain membuntuti keponakannya. Cita-citanya besar: menjadi pelacur paling mahal di dunia. Tujuannya jelas: menuntaskan rasa bersalahnya dengan membalas dendam kepada seisi dunia.

Diawali oleh gambar-gambar khas film 80-an, yaitu deru kereta api dan nguik suara ambulan, film ini tampak seperti sedang hendak mengulangi—untuk kesekian kali—klise-klise masa itu: perempuan yang lemah dan laki-laki yang hatinya patah. Apa yang istimewa jika Anda melihat adegan seorang perempuan yang mengejan dengan menjerit mengerang? Apa pula yang baru melihat seorang pria membentur-benturkan kepalanya ke tembok setelah ditinggal mati istrinya akibat melahirkan? Maka, jika kita sebelumnya tak pernah membaca sinopsis atau ulasan tentang “Ponirah Terpidana”, niscaya kita akan segera menyangka bahwa kita sedang menonton film drama tragedi yang begitu-begitu saja. Tapi, tak menunggu lama, pembeda film ini dengan drama tragedi biasa itu muncul. Trindhil, si babu yang setia, itulah pembedanya. Bagi Djabarudi, tuannya, Trindhil hanyalah tempat penumpahan makian dan ayunan tendangan. Tapi, tidak untuk si genduk yang menyebabkan ibunya, istri Djabarudi, meninggal. Pada saat Djabarudi menghabiskan sisa hidupnya hanya untuk meratapi kematian istrinya dan dengan konyol mengutuki anak perempuannya sebagai pembawa sial—hingga bocah perempuan yang ditolaknya, bahkan tak diberinya nama—Trindhil adalah malaikat penjaga yang perkasa bagi bocah perempuan malang itu. Trindhil membesarkannya dengan jiwa dan tubuhnya, melindunginya dari amukan bapaknya dengan taruhan nyawa, dan kemudian memberinya nama: Ponirah. “Bapakmu laki-laki lemah, Nduk!” kata Trindhil kepada Ponirah, saat si genduk telah besar.

Bagaimana Trindhil menyelamatkan Ponirah kecil dari bapaknya telah cukup untuk menunjukkan kalau Slamet Rahardjo sedang mengetengahkan perempuan jenis berbeda di filmnya. Tapi Slamet ternyata tak berhenti di situ. Trindhil (yang bagi saya menjadi penampilan terbaik Christine Hakim selain Cut Nyak Dhien) tampak lebih perkasa ketika ia memilih menghidupi Ponirah dengan menjadi pelacur. Ia tentu saja tak membanggakan pekerjaan macam begitu. “Ah, saya kan cuma tukang pijit,” katanya, suatu ketika. Tapi, yang membedakan perempuan ini dengan karakter perempuan lain (terutama tokoh pelacur) dalam film-film Indonesia pada umumnya, dari dulu hingga saat ini, Trindhil tak digelayuti rasa bersalah. Jelas ia menunjukkan bahwa ia terpaksa melakukan ini—karena tak ada pilihan lain. Tapi tak terlihat sama sekali kalau ini pilihan yang sama sekali hina. Sebab baginya, yang terpenting adalah membesarkan Ponirah, bocah malang yang ditolak bapaknya itu.

Perihal pekerjaan pelacur, sepertinya Slamet Rahardjo memang member perhatian lebih, dengan sikap dan pendekatan yang berbeda tentu saja. Jelas, Slamet tak ingin menunjukkan kalau itu adalah tempat terbaik di dunia. Namun, ia jelas tak menyajikan pelacuran sebagai tempat paling terkutuk yang pernah ada. Tempat itu, di luar perempuan-perempuan yang tertawa cekikikan dan lelaki-lelaki urakan berseliweran, juga alunan musik bercitarasa kampungan, tampak seperti dunia di luar sana pada umumnya. Ada kehidupan yang berjalan normal. Ada hubungan antarmanusia yang berlaku seperti di tempat-tempat lainnya juga. Ada kesedihan, tapi tak sulit menemukan kebahagiaan di sana. Di samping pasangan-pasangan yang berkasih-kasihan, tampak perempuan-perempuan merumpi, penyair-penyair pecundang membaca puisi, dan anak-anak yang bermain. Ada tawa yang dibuat-buat dan perih (seperti yang pernah digambarkan dalam lagu ‘Kupu-kupu Malam’-nya Titiek Puspa), tapi juga kita menemukan senyum yang lepas. Semuanya tampak berjalan biasa. Dan, pada bagian ini, saya jamin, siapa pun yang menonton film ini tak akan bisa melupakan sosok Wiwik (Lina Budiarti—yang entah untuk keberapa kalinya bermain sebagai perempuan binal). Pelacur kenes yang meminta anaknya sendiri memanggilnya dengan sebutan “mbak” ini meminta Ponirah menjaga anaknya karena malam itu ia hendak merayakan kedatangan pelanggan ke-500-nya. “Aku akan kasih gratis sampai pagi,” kata Wiwik sembari terkikik. Pelacur juga butuh bahagia, kira-kira begitu nalarnya.

Sama halnya dengan Wiwik, Ponirah juga butuh bahagia. Dan sebenarnya ia telah mendapatnya saat menghabiskan masa kanak-kanak dan remajanya bersama Trindhil, di tempat pelacuran itu. Namun, kebahagiaan itu itu mulai terusik ketika Guntoro, pamannya, muncul untuk mencarinya. Itu mengingatkannya pada rasa bersalahnya atas kematian kakak laki-laki yang amat disayanginya, Permadi. Namun kebahagian itu benar-benar terancam ketika Jarkasi, laki-laki lembut berbibir merah, masuk dalam kehidupannya dan Trindhil. Trindhil yang ingin Ponirah bahagia amat tertarik untuk menjodohkan Jarkasi dengan anak asuhnya. Tapi di mata Ponirah, yang sejak awal mencium kebusukan niat Jarkasi, Trindhil hendak menjualnya. Dan prasangka ini benar-benar melukai Ponirah.

Tapi jangan segera salah sangka dulu. Ponirah tak menyerah begitu saja sembari menunggu seorang laki-laki ganteng baik hati menyelamatkannya. Ponirah bukan perempuan seperti itu. Jelas, Ponirah telah hancur hatinya. Putus asa tampak jelas dari keputusannya untuk ikut Jarkasi ke Jakarta. Namun, Ponirah tak jatuh menjadi pasrah. Ia bertekad untuk menjadi pelacur termahal di dunia, dengn Jarkasi sebagai germonya. Tapi ia ingin menentukan siapa pembeli pertamanya. Ia juga dengan enteng menolak usul Jarkasi untuk mengubah namanya menjadi lebih “keren”. Dan yang paling penting, ia ingin menyelesaikan semua masalahnya dengan tangannya sendiri. Ia tidak menunggu. Ponirah adalah, dalam bahasa saya, perempuan dengan rencana. Dan karena itu, Ponirah—seperti juga Trindhil—berbeda dengan perempuan-perempuan kebanyakan dalam yang ada dalam jagad sinema kita.

***

JB Kristanto mengatakan, setiap film Slamet Rahardjo adalah sebuah peristiwa. Dan saya sepakat dengan itu.

Secara cerita dan penyutradaraan, tentu dengan sedikit catatan dan ganjalan, Ponirah Terpidana amat kaya dengan detail. Dan, detail itu, terutama unsur-unsur Jawa (dari mana mitos tentang “bahu lawean” berasal), dengan amat pas muncul. Suasana suburban di Solo dan Jogja juga tampil dengan memesona—dan itu segera membuat film semacam Mengejar Mas Mas tampak seperti bikinan anak SMA. Terkhusus lokalisasi, dalam sejarah film kita yang banyak mengangkat tema atau tokoh pelacur, penggambarannya dalam Ponirah Terpidana adalah salah satu yang paling menyakinkan. Bagi yang suka sikap main-main dan ironi, di sini juga ada. Hengky Sulaiman, aktor kondang yang juga ambil bagian dalam film ini, dicatut sebagai nama pelanggan wiwik yang ke-400, lengkap dengan olok-oloknya. Lalu, puisi Chairil Anwar yang berkumandang di tempat mesum itu. Aha…, saya jadi curiga, jangan-jangan pada kenyataannya memang begitulah para penyair kita.

Para pemeran bermain sangat baik. Bambang Hermanto sempurna sebagai laki-laki ringkih. Christine Hakim tak ada yang menyamainya. Slamet Rahardjo juga tak diragukan. Demikian juga Ray Sahetapy yang masih belia. Jarkasi, si germo berkedok pangeran itu, dengan sangat pas dimainkannya. Tapi sayangnya tak semua. Nani Vidia bermain dengan kikuk, terutama kalau sudah berbicara. Mendengarnya bilang, “mbok” berkali-kali amat menyakitkan kuping, semenyakitkan saat mendengar Sandy Aulia merengek-rengek dalam Eifell I’m In Love. Dan karena kekurangannya ini, Nani Vidia mencemari karakter Ponirah. Jika seharusnya Ponirah menjelma sebagai femme fatale di ujung cerita, Nani Vidia justru membuatnya menjadi tampak sekadar sebagai remaja disorientasi saja.

Tapi bagaimana pun, merujuk pada JB Kristanto, Ponirah Terpidana adalah sebuah peristiwa. Dan menontonnya adalah sebuah pengalaman berharga. Oh ya, untuk para feminis, ternyata kalian bukan yang pertama di Indonesia...


Category:Movies
Genre: Education
Setelah bertemu dengan temannya teman yang mengaku memiliki 3 dari 4 buku tetralogi "Laskar Pelangi" namun sama sekali tak bisa mengingat siapa penulis buku itu, saya teringat dengan janji saya kepada seorang teman bahwa saya, suatu saat, akan membaca buku(-buku) Andrea Hirata tsb. Sembari tetap mencoba menunda janji itu (entah karena apa, saya tidak tahu), saya memenuhi janji saya pada diri sendiri untuk, pada akhirnya, menonton film "Laskar Pelangi". Dan, hari Minggu (11/10/09) kemarin saya menontonnya.

***

Film Bagus

Laskar Pelangi (LP), seperti yang saya duga jauh-jauh hari, adalah film yang bagus. Sebagus, tentu saja, film-film anak bikinan Riri Riza sebelumnya: “Petualangan Sherina” dan “Untuk Rena”. Bagus gambarnya, bagus pemainnya, dan, yang pasti, bagus semangatnya. Film yang, menurut saya, memang mesti ada dalam sejarah perfilman Indonesia.

Pertama, saya hampir yakin, karena lanskap yang disajikan oleh film inilah (tentu setelah buku “Laskar Pelangi”) Belitong—yang sebelumnya bukan apa-apa—belakangan ini ramai dibicarakan keindahannya (baik ditulis di koran maupun diliput di tv). Pantai-pantai Belitong yang ditangkap kamera tampak begitu memesona lagi misterius. Padang rumput yang luas di sepanjang jalan yang dilewati anak-anak menuju sekolah seperti memberitahu saya kalau di Indonesia ada sebuah stepa indah yang tak kalah cantik dengan stepa-stepa di Scandinavia. Dan lanskap sebuah kecamatan di Belitong akhir tahun 70-an adalah yang terbaik yang pernah saya temukan dalam film Indonesia berseting masalalu.

Tentu yang bikin lebih indah adalah para pelakonnya. Anak-anak lokal Belitong itu begitu alami. Dengan mereka yang bermain, film ini bisa mendapatkan nafas neo realisnya—tentu dengan berusaha sedikit lebih keras melupakan semangat Hollywood-nya. Pada karakter Lintang, Ikal, Kucay, dkk, saya menemukan padanan Apu (“Pater Pancali”, Satyajit Ray), Lewa (“Surat untuk Bidadari”-nya Garin), atau Ali Mandegar (“Children of Heaven”-nya Majidi), atau bocah-bocah lain sejenis mereka.

Cut Mini, seperti yang banyak dibicarakan orang sebelumnya, bermain luar biasa sebagai Bu Mus. Makanya, saya kini bisa mahfum jika seorang penggemar LP, seperti diceritakan seorang teman kepada saya, murka ketika secara kebetulan dia melihat Cut Mini merokok di sebuah kafe. Ia tentu tak rela rokok Cut Mini itu sampai melobangi kerudung sederhana Bu Mus. Dan, hemm..., harus saya katakan, saya tak bisa membendung air mata saat Bu Mus tertatih keluar sekolah sesaat setelah mendapati Pak Harfan meninggal di mejanya. Ya, tentu saja air mata itu leleh karena kita kehilangan pahlawan kita, Pak Harfan. Tapi, air mata itu tak terbendung jika pahlawan kita yang lebih besar, Bu Mus, amat terpukul dengan kematian itu. Dan Cut Mini mampu menghadirkan dengan sempurna keterpukulan Bu Mus itu.

Tapi saya menyukai Ikranagara lebih dari semuanya. Orang inilah, boleh percaya boleh tidak, yang menjadi magnet terbesar yang menarik saya untuk menonton Laskar Pelangi lebih awal (dari yang saya rencanakan). Saya ingin tahu, setelah sekian tahun tak main film, seperti apakah orang ini bermain lagi. Saya penasaran, bisakah aktor, sutradara, penulis, ini mengubah pandangan saya yang tak bisa memisahkan dia dengan Markum (tokoh fiktif paling luar biasa dalam seratus tahun film Indonesia)? Dan, wow, Ikra ternyata bisa. Ia mengubah diri jadi Pak Harfan yang idealis, keras kepala, lagi penuh wibawa. Dan hal itulah yang membuat saya, dengan lega, bisa melupakan untuk sementara karakter Markum yang criwis, crigis, dan nggatheli dalam “Kejar Daku Kau Kutangkap”-nya Chairul Umam itu.

Sedikit cacat dalam sisi ini adalah adanya Tora Sudiro (Pak Mahmud, guru SD PN Timah). Saya dengar, ini karakter tambahan (tak ada dalam novel). Jika tujuannya untuk memperkuat karakter Bu Mus—sebagai guru yang merelakan apapun demi sekolah dan murid-muridnya, termasuk di dalamnya menjadi perawan tua—tentu saja Riri Riza berhasil dengan Pak Mahmud-nya. Sayangnya, Riri memakai Tora. Orang ini, setelah dipuji habis-habisan dalam “Arisan” dan cukup lumayan pada “Otomatis Romantis”, rasa-rasanya hanya menjadi perusak setiap film yang ikut dibintanginya. Jika di “Nagabonar Jadi 2”, ia menodai kecemerlangan Dedy Mizwar dan Wulan Guritno, di “Laskar Pelangi”, Tora, dalam hemat saya, mencemari setiap adegan yang memunculkan Pak Mahmud, lebih-lebih kalau Pak Mahmud-nya ini ngomong.

Semangat “Negatif”

Saya mendengar pujian terhadap LP (buku maupun film) sebagian besar ditujukan pada spirit yang dibawanya. Orang-orang bilang, film ini sangat inspiratif. LP, seperti yang banyak disebut-sebut, mengajarkan semua anak, semiskin apa pun, jangan pernah takut untuk bermimpi dan bercita-cita. LP juga menunjukkan bahwa siapa yang berusaha, dia pasti akan mendapatkan hasilnya. Kira-kira arabnya, "man jadda wajada". Dan tentu saja saya menemukan spirit yang banyak disanjung itu dalam (film) LP. Semisal keteguhan Pak Harfan dan Bu Mus dalam mengajar. Atau semangat dan kesungguhan Lintang. Itu pasti mengesankan siapa pun. Lebih-lebih para orang tua--yang kini punya rujukan untuk menggetak anaknya biar bersemangat untuk sekolah: “Lintang yang melarat saja semangat sekolah, masa kamu nggak!”

Tapi benarkah se-“positif” itu spirit yang dibawa LP? Mohon maaf, setelah menonton, saya meragukannya. Dan karena saya tak begitu gandrung dengan hal-hal yang bersifat positivistik, keraguan itulah yang justru membuat LP jadi tampak lebih bagus di mata saya. (Meski, untuk saya, dalam genre film pendidikan dan bercerita tentang anak-anak, LP tampak terlalu meanstream jika dibanding, misalnya, “The Education of Litle Tree” [1997, Richard Freidenberg], lebih-lebih dengan “Not One Less” [1999, Zhang Yimou])

Maka, di samping menemukan perca-perca semangat “positif”, seperti yang banyak dibicarakan orang itu, saya juga menemukan aura “negatif” (tentu, dalam tanda kutip) pada LP. Pasalnya, beberapa menit setelah kredit terakhir film ini, Riri Riza justru terdengar seperti berbisik: “hei..., kerja keras dan kapasitas itu tak ada hubungannya dengan keberhasilan, Bung.” Dengan kata lain, “siapa menanam (tak selalu) akan mengetam.”

Pesan itu menggema dari penggambaran pahlawan terbesar kita dalam LP, Lintang. Anak inilah yang tampak paling bersungguh-sungguh di sepanjang film. Ia datang ke sekolah paling awal dari tempat yang paling jauh. Ia mesti melewati buaya untuk sampai ke sekolah. Ia tak pernah melewatkan waktu senggangnya kecuali untuk membaca. Ia murid paling cemerlang. Pokoknya, ia memiliki semua prasyarat untuk semua jenis kesuksesan. Tapi, siapakah yang sukses (tentu dalam pengertian yang banyak dipakai orang) di ujung cerita? Siapakah yang hendak berangkat ke Paris? Jika mengikuti rumus para positivis, tentu yang datang ke Belitong untuk pamit pada ke Paris bukannya Ikal, tetapi Lintang. Tapi, Ikal-lah yang pamit ke Paris. Siapakah Ikal di sepanjang film ini? Pada sepanjang film, anak ini tak lebih dari si pemimpi. Kerjanya cuma merengek pada Bu Mus agar ia bisa membeli kapur. Lalu, lap!, saat gede jadi doctor (melebihi dokter). Dan, ah betapa tragisnya (jika ditilik dari kacamata para pencari motivasi), saat Lintang—yang jadi nelayan seperti bapaknya dulu—menasihati anaknya untuk tak pernah lelah berusaha dan tak takut untuk bermimpi, "seperti Paman Ikal".

Antara “Bocah Kecil dan Sepedanya” dan “Pak Tua dan Laut”

Tapi, karena itulah Lintang menjadi pahlawan saya yang paling sempurna. Lintang, dalam khazanah tokoh fiktif saya, saya tempatkan sama dengan Pak Tua-nya Hemingway (dalam “The Old Man and The Sea”). Kayuhan sepeda Lintang, kesabarannya menunggu buaya menepi, dan kecerdasannya yang tak terperikan, yang tampak tak terganjar apapun, amat mengingatkan saya dengan Pak Tua yang “gagal” membawa bahkan sekerat pun dari daging ikan merlin raksasa yang berhasil ditangkapnya meski telah berusaha dengan taruhan nyawanya.

Dalam kalimat yang lain, Lintang adalah Sisifus yang tidak pernah mengeluh. Lagi pula baik budi serta rendah hati. Maka, bukannya bilang kepada anaknya, “jane Paklikmu Ikal kae nbiyen bodo, mikire mung wedo’an, mung bejo wae saiki mangkat Paris”, Lintang malah bilang, “contohlah pamanmu Ikal.” Luar biasa, bukan?

Maka, takzim harus diberikan kepada Riri Riza. Sengaja atau tidak, lewat Lintang, Riri membuat LP tak se-”positif” yang banyak dibicarakan orang. Dengan Lintang, Riri menyelamatkan saya—dan semoga lebih banyak lagi penonton LP—dari ikut-ikutan bergabung dalam barisan (meminjam plesetan Nurhady Sirimorok) “Laskar Pemimpi”. Melalui Lintang, Riri Riza membuat kita tetap sadar bahwa memang demikianlah hidup: tak selalu sesuai hitungan, sering meleset dari kalkulasi, dan kerap kali aneh.

Category:Movies
Genre: Drama
Catatan:

Mengingat AAC telah menjadi masa lalu di benak kita, juga tak lagi menarik untuk dibicarakan, saya masukkan tulisan ini ke blog sebagai bagian dari film bekas. Tulisan ini pernah saya mayakan di milis kanibal@yahoogroups.com. Tak banyak ditanggapi,sebagaimana kebanyakan tulisan saya (walau seorang ibu-ibu/mbak-mbak, setelah mendapat email forward dari seorang teman, mencerca saya habis-habisan). Perlu ditambahkan juga, resensi ini juga ditulis berdasar 3 file bajakan yang waktu itu laris manis.

+++

Dalam acara-acara gosip di televisi, saya mendengar, Ayat-ayat Cinta (AAC) merupakan sebuah usaha Hanung Bramantyo—yang dipungut dari Kang Abik—menunjukkan bahwa Islam adalah agama kasih sayang dan sangat menghormati perempuan.

Begitu menonton, saya segera menemukan apa yang banyak disebut itu. Pertama, ketika Fahri, mahasiswa S-2 al-Azhar, anak penjual tape dari Indonesia itu, dengan tulus menolong Noura yang terjatuh bersama keranjang buahnya. Adegan kedua, saat dengan gigih dan penuh dalil, Fahri membela perempuan bercadar—yang kemudian ketahuan sangat cantik—yang memberikan tempat duduknya kepada dua “kafir” amerika. Adegan lain, kali ini dalam bentuk dialog verbal, yaitu ketika Fahri menerangkan kepada wartawan Amerika bahwa Islam sangat menghormati perempuan. Dari tiga sken itu, saya rasa, Kang Abik maupun Hanung sudah cukup untuk bisa mendada bahwa AAC memang sarat dengan pesan bahwa perempuan amat dibela dalam Islam.

Tapi benarkah demikian?

Saya menemukan hal yang berbeda. Apa yang bisa Anda lihat saat penjahat berwajah dan bernama India memukulu, dan belakangan diketahui memperkosa, anak angkatnya yang Sunda itu? Apa yang Anda lihat saat menemukan laki-laki kasar bercambang di KRL yang mencaci maki perempuan dan bisa melayangkan pukulan sambil mengucap shalawat nabi? Saya sangat dihantui dua adegan itu. Ia mengingatkan saya kepada film-film “B” (B-movie) Hollywood yang dipenuhi tokoh-tokoh teroris yang bercambang, bernama Arab, sekaligus bodoh. Film ini, AAC, dengan demikian, justru mengingatkan, dan tampaknya malah mengekalkan, apa yang hendak dilawannya: stereotip bahwa Islam itu kasar, membenci perempuan, agresif, dan bodoh! Memang ada Fahri yang tampan, santun, dan penuh cinta di sepanjang film ini. Namun ia jadi tawar takberasa karena ditimbun oleh kebengisan Bahadur, kekasaran penumpang brewok di KRL, dan kebodohan ayah kandung Noura. Bahadur dan tokoh-tokoh sejenisnya—jika dihitung dalam durasi film—ini memang bagai titik-titik nila saja bagi sebelanga susu yang ditawarkan Fahri. Namun, titik-titik nila ini, bagi jamaah di luar jamaah pengagum AAC, bisa dianggap mewakili samudera nilai di belakang sana. (Dalam hal ini saya menggugat, apa asyiknya berdakwah kepada orang-orang yang sudah kuat iman? Bukankah hanya akan mengulang-ulang?)

AAC justru sukses menunjukkan bahwa Islam, dalam banyak bagiannya, masih mengalami problem dengan dunia patriarkhi. Sejauh yang saya cermati, AAC dengan sangat gamblang mempertontonkan bahwa Islam (atau tepatnya, laki-laki Islam) membela perempuan bukan karena perempuan memang berhak dibela—sebagaimana manusia, apapun jenis kelaminnya, berhak dibela. Perempuan dibela, dalam hal ini, lebih didasarkan pada rasa kasihan. AAC menunjukkan pada kita, perempuan patut dibela karena mereka mahluk yang lebih lemah dari laki-laki.

Para penonton AAC harus jujur, film ini dipenuhi tokoh-tokoh perempuan lemah lagi rapuh yang patut dikasihani. Ada Maria Kirgis yang bahenol tapi penyakitan. Ada Noura yang tak berdaya. Ada juga Nurul yang tidak memiliki cita-cita hidup lain selain dikawini Fahri. Mereka ini tidak lebih dari, meminjam lirik Sheila On 7, “hamba yang bersinar bila disentuh” Fahri. Maka, saksikanlah betapa mereka bergelimpangan begitu mendengar Fahri mengawini Aisha. Maria langsung berdarah-darah. Nurul langsung menjerit dan membanting jilbabnya dan, kata Pak De-nya, “kehilangan cahaya hidupnya”. Noura lebih parah lagi: ia kini tidak hanya tidak berdaya, tapi juga tidak berhati dan tidak bernalar—dengan melancarkan fitnah pada Fahri.

Memang ada tokoh Aisha yang harus dikecualikan. Bukan karena ia perempuan dengan karakter baja, namun karena ia terlihat seperti bidadari yang diturunkan Allah dari surga untuk Fahri saja. Ia lebih dari sempurna. Dalam beberapa hal, Aisha yang ini lebih sempurna dari Aisya binti Abu Bakar, istri tercinta Rasulullah. Ia cantik sekali, kaya, dan dengan kemauan sendiri, meminta dimadu. (Dua hal terakhir yang dimiliki Aisha istri Fahri tidak dimiliki oleh Aisya istri Muhammad. Aisya tidak kaya dan, seperti disebutkan dalam banyak sumber, hampir selalu bermasalah dengan permaduan Rasulullah. Aisya selalu nyinyir kepada Nabi jika mendengar ada perempuan baru yang dipinang Rasulullah, apalagi kalau perempuan sangat cantik. Satu-satunya madu yang dekat dengannya adalah Hafsyah binti Umar, yang, selain karena sebaya dan sama-sama cerdas, tidak lebih cantik dari Aisya). Makanya, ketika mengetahu bahwa Aisha yang sangat cantik itu ternyata juga kaya—karena bisa menyewa flat mewah, seorang teman yang sedang bermasalah dengan percintaannya lansung keluar sambil mengumpat, “Ah, kayal!” Saya sepakat dengan teman saya itu. Jika tidak “kayal”, Kang Abik dan Hanung harus rapat-rapat merahasiakan keberadaan Aisha (atau perempuan sejenis Aisha). Sebab, saya yakin, semua laki-laki pasti sedang memburunya.

Ya, salah satu masalah terbesar dari AAC, ada pada tokoh-tokohnya. Mereka tidak dipungut dari dunia nyata, namun diambil paksa dari kepala dan cita-cita penciptanya. Perempuan-perempuan dalam AAC, seperti juga Fahri, adalah tokoh-tokoh ide. Tokoh-tokoh yang diracik dari angan-angan dan bukan dari kenyataan. Mereka diciptakan untuk memenuhi tujuan-tujuan ideal tertentu. Mereka ini biasanya dibebani misi untuk mendidik, mengajar, atau memberi contoh. Konsekuensi logis dari tokoh-tokoh seperti ini biasanya rata seperti meja setrika. Flat, tanpa geronjalan. Ia tidak punya sisi lain. Kalau baik, baiknya gak ketulungan. Kalau jahat, jahatnya melebihi setan. Ia tidak punya warna abu-abu. Ia harus putih sekalian, atau hitam legam sekalian. Ia tidak memberi ruang untuk beda persepsi. Ia tidak boleh salah dimengerti.

Dan demikianlah para perempuan di AAC. Alih-alih menunjukkan bahwa Islam sangat menghormati perempuan, Aisha dan rekan-rekannya justru mengindikasikan bahwa perempuan (Islam) sangat tergantung dengan lelaki (Islam). Tak terbayangkan hidup mereka, jika tanpa Fahri bin Abdullah. Mereka pasti berantakan tak karuan. Lihat saja Maria yang terkapar berbulan-bulan. Saksikan Noura yang menjelma jadi putri yang tak kenal balas budi.

Hm...., para perempuan yang malang. Mereka memang pantas dilindungi dan dikasihani.


Category:Movies
Genre: Drama

Catatan:

Mengingat AAC telah menjadi masa lalu di benak kita, juga tak lagi menarik untuk dibicarakan, saya masukkan tulisan ini ke blog sebagai bagian dari film bekas. Tulisan ini pernah saya mayakan di milis kanibal@yahoogroups.com. Tak banyak ditanggapi,sebagaimana kebanyakan tulisan saya (walau seorang ibu-ibu/mbak-mbak, setelah mendapat email forward dari seorang teman, mencerca saya habis-habisan). Perlu ditambahkan juga, resensi ini ditulis berdasar 3 file bajakan yang waktu itu laris manis.

+++

Dalam Alqur'an dan berbagai kitab salaf, Umat Islam telah diyakinkan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah nabi dan rasul terakhir yang diutus Allah untuk umat manusia. “Khatamul anbya wal mursaliin” kata banyak guru ngaji. “La nabiyya ba'dah” kata banyak khatib dalam pembuka khutbahnya. Namun, dalam film Ayat-ayat Cinta (ACC), Hanung Bramantyo, berdasar karya Habiburrahman al-Shirazy, memberikan kita kemungkinan lain. Dalam AAC, seseorang dengan ciri kenabian yang sangat kuat telah lahir. Dialah Fahri bin Abdullah, seorang anak penjual tape yang kuliah S-2 di Universitas Al-Azhar, Mesir.

Bagi yang fanatik dengan jumlah 25 Nabi, siap-siaplah Anda kecewa. Bagi yang merasa bahwa 25 Nabi memang belum cukup menyelamatkan dunia ini dari kemungkaran dan kekejian, maka ini adalah berita besar yang harus Anda sambut. Bagi bekas pengikut, atau sekadar simpatisan, Ahmad Musaddeq—yang akhirnya tidak cukup pede mempertahankan status kenabiannya itu—maka Anda akan segera mendapatkan gantinya.

Pada pandang pertama, Fahri bin Abdullah memang tidak cukup mengesankan . Ia, misalnya, tidak tampak terlalu cerdas—bahkan untuk ukuran mahasiswa S-2 di Al-Azhar. Sementara salah satu sifat utama para Nabi dan Rasul adalah fatanah (cerdas). Kita, misalnya, tidak melihatnya pernah sedang belajar. Kamarnya pun sepi dari buku-buku—jauh sekali dengan kos-kosan mahasiswa-mahasiswa tua di Jogja. Ia juga gaptek habis: tidak tahu menahu soal komputer. Ketika mengaji Alqur'an pun, tampak jelas ia melakukan lipsing. Namun, lupakanlah semua itu. Apakah seorang rasul memang butuh belajar atau punya koleksi buku? Apa rasul juga harus tahu segalanya? Ingat, Nabi Muhammad bahkan seorang ummi. Dalam banyak riwayat juga dikisahkan, Nabi yang berbasih pedagang itu sangat tergantung dengan para alumni Yahudi Madinah jika bicara soal pertanian. Jadi, bayangkanlah, kecerdasan Fahri memang tidak untuk hal-hal sepele itu.

Dalam banyak hal, Fahri bin Abdullah adalah sistesis hebat dari dua manusia hebat—secara lahir maupun batin. Dalam diri Fahri ada gambaran Yusuf bin Ya'kub, yang tampan, santun, sabar, dan, tentu saja, digandrungi banyak perempuan cantik. Sementara, di bagian lainnya, ia memiliki altruisme, ketabahan, dan keadilan Muhammad bin Abdullah. (Ah..., apakah sekadar kebetulah bahwa Fahri memiliki nama ayah yang sama dengan rasul terakhir versi Islam sunni ini?). Sebagaimana Yusuf, Fahri harus merasakan dinginnya lantai penjara karena difitnah perempuan yang menggilainya. Sementara itu, seperti Muhammad, Fahri adalah pencinta perempuan yang luar biasa.

Jika sintesis Dr. Frankenstein, sebagaimana dikisahkan Merry Shelley, menghasilkan manusia yang terdegradasi menjadi monster, Fahri adalah sintesis yang lebih sempurna lagi dari dua manusia sempurna yang jadi bahan bakunya. Maka tidak heran jika ia memiliki beberapa keunggulan yang bahkan tidak dimiliki oleh dua nabi pendahulunya. Fahri memang tidak pernah mengecap menjadi pejabat tinggi Mesir, sebagaimana Yusuf. Namun, jika dicintai oleh para sosialita hedonis pada masa Ramses, para pengagum Fahri adalah perempuan-perempuan berwajah pualam dan berhati bermata yang berasal dari berbagai latar belakang ras dan agama.

Yang luar biasa, Fahri bahkan bisa melakukan hal-hal yang tidak (atau tidak bisa) dilakukan Muhammad SAW—manusia yang oleh pujangga Pakistan Muhammad Iqbal, dengan mengacu kepada Nietchze, dinobatkan sebagai Ubber Alles itu. Muhammad adalah suami yang paling adil yang bisa ditemukan dalam sejarah umat manusia. Namun, seperti ditulis Armstrong, dan didukung oleh berbagai kitab-kitab sirah klasik, bukan rahasia kalau Muhammad tidak pernah berhasil menyatukan istri-istrinya. Aisyah adalah perempuan muda dan ceria, namun ia tidak pernah berusaha menutupi sifat pencemburu dan posesifnya. Hafsah putra Umar bin Khattab adalah perempuan cerdas yang selalu kritis dan tidak segan menggugat suaminya. Ada pula Ummi Salamah, perempuan pendiam, namun sangat hebat dalam urusan peraduan (yang membuatnya menjadi istri yang paling banyak meriwayatkan kehidupan seksual Muhammad). Ketiganya, ditambah istri-istri lainnya, bisa dikatakan hampir-hampir tidak pernah rukun. Tapi apa yang bisa dilakukan Fahri terhadap dua istrinya? Meski agak sulit di awalnya, Fahri berhasil membuat Aisha dan Maria saling mencintai dan legawa dalam berbagi (suami).

Dalam hal dakwah, Fahri juga memiliki poin keberhasilan yang tidak dicapai Muhammad. Yaitu saat Maria, yang beragama Kristen Koptik, di ambang kematiannya, dengan pasrah dan ikhlas meminta Fahri mengajarinya shalat dan kemudian meninggal dalam keadaan bersedekap. Bagaimana dengan Muhammad? Di masa-masa diplomatik Islam, Muhammad diberikan perempuan persembahan oleh Gubernur Romawi di Mesir. Perempuan persembahan itu, persis sama dengan istri kedua Fahri, bernama Maria dan beragam Kristen Koptik (dalam literatur Arab sering disebut dengan Maria al-Kibtiya). Perempuan ini, sejauh sumber-sumber sejarah yang terjangkau, sangat memesona Nabi karena kecantikan parasnya dan kelambutan hatinya. Tidak heran, Maria membuat istri-istri Nabi bersatu dalam cemburu. Lebih-lebih ketika Maria (dalam statusnya sebagai budak, bukan sebagai istri) melahirkan Ibrahim, putra terakhir Nabi yang tidak berumur lama itu. Namun satu hal yang hampir dipastikan: Maria al-Kibtiya, tidak disebutkan pernah meninggalkan agama lamanya.

Fahri bin Abdullah, anak penjual tape dari Indonesia, memang luar biasa. Apakah ia rasul ke-26 kita? Mari kita bertanya kepada Habiburrahman ash-Shirazi atau Hanung Bramantyo. Wallaahu a'lam bil shawab...


ReviewReviewReviewReviewReviewJul 9, '09 12:18 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Drama
Sutradara: Mira Nair
Naskah: Sooni Taraporevala
Pemain: Syafiq Syed, Raguvir Yadav, Aneeta Kanwar, Nana Pathekar, Hansa Vithal
Tahun: 1988

Saya beruntung baru menonton Salaam Bombay. Sebab, andai jauh-jauh hari saya telah menontonnya, tentu Slumdog Millionaire-nya Danny Boyle, hanya akan tampak seperti rangkaian hura-hura saja, dan Daun di Atas Bantal hanya sekadar adaptasi semata. Saya, sekali lagi, beruntung Salaam Bombay baru saya tonton. Sebab, kalau tidak, film-film Mira Nair lainnya hanya akan jadi semacam catatan kaki saja: The Perez Family, Kamasutra, Vanity Fair, Namesake, tak akan lebih jadi deretan filmografi Mira Nair.

Salaam Bombay! berkisah tentang Krishna alias Chaipau, seorang bocah sirkus yang terdampar di Bombay. Ia membutuhkan uang 500 rupee untuk pulang ke kampung, sebab uang sejumlah itulah yang membuatnya akan diterima oleh emak yang menelantarkannya. Untuk uang segiitu, ia bekerja apapun; dari mulai jual teh tarik gelasan, hingga ikut-ikutan jualan putau. Untuk uang segitu itu, ia tidur di antara para bajingan kecil di kota raksasa Bombay dan menjadi bagiannya, keluar masuk tempat pelacuran, dan menaruh hati dengan salah satu penghuninya. Untuk jumlah seupil itu, ia mesti berurusan dengan dinas sosial dan, pada akhirnya, jadi seorang pembunuh.

Merasa familiar? Tentu. Garin, dengan atau tanpa disengajanya, memindah Bombay ke Jogja, dan mengganti Krishna dkk dengan Kancil dan konco-konconya. Dan, Danny Boyle, dengan cara yang jauh lebih enteng dan sederhana, meng-Hollywood-kannya (dan hem..., dapat Oscar dia).

Yang jelas, siapa yang tertarik memfilmkan anak-anak miskin kota, film ini tak akan bisa dihindarinya, kecuali yang ingin terpeleset jadi sekadar pengekor atau bahkan pengulang. Dan siapa yang menyukai film anak-anak miskin, hati-hati. Karena, standar selera Anda akan jadi membumbung, hingga sulit dipenuhi film anak yang sembarang cengeng saja.

Satu lagi. Bagi yang selama ini menutup hati bagi film India dan aktor-aktornya, siap-siap menyesali diri. Karena, Nana Pathekar, untuk kesekian kali, akan menunjukkan kepada Anda, betapa Anda telah tersesat begitu jauh di dalam labirin prasangka dan selokan-selokan penganggapremehan.


ReviewReviewReviewReviewReviewJun 2, '09 5:39 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Voltaire
Terj: Ida Sundari Husen
Penerbit: Obor, Jakarta
Tahun: 2001 (cet.ke-4)
Halaman: 117 + x


Saya tak banyak bersetuju dengan Goenawan Mohammad, meski menyukai tulisan-tulisan dan esainya. Tapi, saya sepakat 100% ketika GM menyebut Voltaire a.k.a. Francois-Marie Arouet (Paris, 1694-1778) sebagai si pencemooh nomor satu. Saya bisa menemukan kebenaran predikat itu ketika membaca Si Lugu (L'Ingenu).

+++

Si Lugu bukan buku Voltaire pertama yang saya baca. Nun dulu, saat masih sekolah, seingat saya saya pernah punya satu buku Voltaire warna kuning terbitan Pustaka Jaya. Mungkin Zadig. Meski demikian, saya menemukan Voltaire yang seperti dikatakan banyak orang baru di Si Lugu.

Buku kecil--dan tipis--itu telah termangu lebih dari setahun di rak (tanggal belinya, 20-03-08), sebelum akhir pekan kemarin saya iseng membacanya--sambil menunggu Minggu pagi segera menjadi sore. Dan, sungguh pilihan yang tepat. Sepanjang Minggu siang, saya senyam-senyum. Kadang-kadang tak bisa menahan tawa yang meledak. (Sampai lupa, begitu banyak pakaian kotor yang mesti dicuci hari itu...)

Si Lugu adalah dongeng tentang seorang pemuda dari bangsa Huronia (sepertinya, itu sebutan zaman itu untuk orang Indian di Amerika Utara), yang menjalani petualangan hebat di Prancis. Berlayar dari Amerika, lalu ke Inggris, sampailah si Huron yang primitif ini ke negera paling beradap, Prancis. Di negeri ini, ia ketemu dengan orang-orang yang menganggapnya sebagai paman dan bibinya. Juga, sang kekasih tercinta, Nona de Saint-Yves. Ia masuk Katolik dan balajar menjadi beradab. Namun, ia segera menemukan betapa anehnya ke-Katolik-an dan keberadaban itu.

Seperti kebanyakan penulis-pemikir masa Renaissance, Voltaire menjadikan agama (dalam hal ini Katolikisme dan segala aparatus yang menagakkannya) sebagai sasaran tembaknya. Lewat kalimat-kalimat polos si Lugu, ia mengolok-olok hampir semua hal berkait dengan ke-Katolik-an. Dan, saya hakkul yakin, tak ada yang bisa menahan tawa siapa pun yang membaca olok-olok Voltaire dalam buku ini. Kecuali, seorang fanatik--hal lain yang paling diserang oleh Voltaire. Simak di bab III, saat Si Lugu bersikeras minta disunat, setelah menyelesaikan membaca Perjanjian Baru. "Karena dalam buku ini tak ada satu pun tokoh yang tidak disunat," tegas Si Lugu, yang membuat bingung orang-orang yang mengkatolikkannya--yang memang tak lagi menganggap sunat itu bagian dari kekristenan. Pada bab yang sama, ketika di Injil ia membaca ada perintah, "akuilah dosa kalian satu sama lain", Si Lugu memaksa pendeta yang mendengar pengakuan dosanya untuk gantian melakukan pengakuan dosa. Lalu, di bab IV, siapa yang bisa menahan tawa ketika Si Lugu yang hendak dibaptis tak muncul di gereja, tapi bersikeras minta dibaptis di air yang mengalir--sebagaimana ia mengetahui John sang Pembaptis melakukannya. Kejengkelan Si Lugu semakin memuncak ketika ia tidak boleh menikah dengan Nona de Saint-Yves, yang tanpa sengaja menjadi ibu baptisnya. Banyaknya hal-hal yang bertentangan dengan Injil, membuat Si Lugu menghardik para pembaptisnya, "Menurut pengamatan saya setiap hari di sini banyak sekali dilakukan hal-hal yang tak tercantum dalam buku itu, sebaliknya apa yang diperintahkan di situ malahan tidak dikerjakan..." (hlm. 29). Dan puncaknya, setelah serangkaian kontradiksi yang ditemui, mendengar kisah penderitaan orang-orang Heguenot yang dikejar-kejar, dan bertemu dengan si Gordon tua yang dipenjara tanpa jelas kesalahannya, dengan geram lagi bingung, Si Lugu bilang, "...semua orang malang yang pernah bertemu dengan saya menderita gara-gara Paus."

Tentu tak sulit untuk menemukan kalau sebagian semua kalimat-kalimat bernada hujatan kepada kekristenan itu tak lain adalah kalimat Voltaire sebagai seorang pemikir Zaman Pencerahan. Karena itu, gugatan-gugatan Si Lugu atas agama, meskipun tajam dan sekaligus lucu, tapi tak benar-benar menghentak. Dengan kata lain, kita bisa bilang, "ya, seperti itulah sikap para pemikir Zaman Pencerahan terhadap agama". Demikian juga saat dengan menggebu, bertubi-tubi, dan tanpa sungkan, di bagian-tengah hingga akhir cerita, Voltaire, lewat pikiran dan mulut Si Lugu, menelanjangi kebobrokan para pejabat istana yang berkomplot dengan para pemuka agama. Itulah memang yang dijadi bulan-bulanan selama abad-abad Pencerahan itu. Yang justru paling mencengangkan bagi saya adalah olok-olok Voltaire terhadap mentalitas orang Prancis; sifat sok terhormatnya, sok jadi pusat dunia, sok agamisnya, juga sok inteleknya. Semua itu--meminjam istilah jalanan--diingusi oleh Voltaire.

Setelah diketahui kalau Si Lugu adalah orang Indian Kanada, Voltaire berkisah dengan nyinyir, orang-orang kemudian berdiskusi tentang banyaknya bahasa di dunia ini dan sepakat kalau tanpa peristiwa Menara Babel, seluruh dunia pasti akan ngomong Prancis.(hlm. 7). Pastor de Saint-Yves bertekad untuk mendidik Si Lugu sebaik mungkin sebelum dibaptis, sebab menurutnya, orang yang tidak dilahirkan di Prancis tidak memiliki akal sehat.(hlm. 14). Dan, silakan ketawa saat membaca komentar Nona de Kerkabon saat mendengar cerita Si Lugu kalau di kapal orang Inggris Si Lugu tak pernah menemukan Injil. "Mereka lebih menghargai drama Shakespeare, kue puding buah prem dan minuman rum daripada Kitab Perjanjian Lama. Oleh karena itu mereka tidak berhasil mengkatolikkan Amerika. Mereka patut mendapat kutukan Tuhan. Kita harus merebut Jamaica dan Virginia sebelum terlambat." (hlm. 15-16). Lalu, tentu saja sosok Si Lugu sendiri, yang dari kepala sampai kaki, tak lain dan tak bukan adalah mesin penghancur snobisme orang Prancis.

Jika ejekan ala Voltaire itu dituliskan saat ini, di mana karya semacam Orientalisme-nya Said telah ditulis, tentu ejekan tak ada yang istimewa. Tapi, Voltaire menulis Si Lugu di tengah abad ke-18, kala negara-negara di bagian barat Eropa sedang asyik-asyiknya saling menunjukkan keunggulannya dengan cara mengkoloni bangsa-bangsa biadab sebanyak-banyaknya. Ejekan-ejekan atas kebanggaan pada bangsa sendiri adalah tindakan yang jauh mendahului zamannya. Bandingkan dengan buah pikiran Comte, yang sangat Prancis-sentris itu. Juga fisika sosial ala Spencer yang, mesti tidak sangat Inggris, tapi amat memuja ras kulit putih. Hal yang sama juga dilakukan Marx dalam Das Kapital-nya. Bahkan Nietzsche, yang hidup dua abad sesudah Voltaire, mengilhami lahirnya Naziisme--lepas dari salah tafsirnya Hitler.

Tapi mengharapkan Voltaire sepenuhnya lepas dari bias tentu saja adalah tuntutan yang terlalu mengada-ada dan berlebihan. Tentu saja Voltaire masih anak zamannya, yang memandang orang di seberang lautan sana sebagai hewan buas yang hanya bisa dijinakkan dengan budaya Barat, terkhusus Prancis. Ia, misalnya menggambarkan kalau Si Lugu menjadi jauh lebih cerdas, mampu mengeluarkan semua bakat luar biasanya, dan jadi jauh lebih bijaksana setelah ia belajar Matematika dan ilmu-ilmu ala Barat di Penjara Bastille di bawah bimbingan si Tua Gordon, yang menganut Jensenisme itu.

Voltaire juga anak sah jamannya jika bicara tentang perempuan. Secara verbal Voltaire menulis--dan ini jelas sang penulis (Voltaire) yang berpendapat--kalau, "Tuhan menciptakan wanita semata-mata menjinakkan lelaki." Secara esensial, cara pandang Voltaire atas perempuan terlihat pada bagaimana perlakuannya terhadap Nona de Saint-Yves, tokoh utama perempuan Si Lugu. Menurut saya, sang Nona tak lebih dari pelumas agar mesin cerita berjalan sebagaimana mestinya. Ia rupawan, cerdas, dan baik hati. Dan, tentu saja, rela berkorban demi orang yang dicintai. Dengan apakah ia berkorban? Mudah ditebak: dengan kecantikan dan kehormatannya. Dua hal itulah yang diserahkannya kepada pejabat kerajaan demi membebaskan Si Lugu yang dicintainya dari penjara. Dan, seperti semua tokoh perempuan yang kehilangan kehormatannyadalam cerita klasik, tak ada akhir yang pantas untuk Nona de Saint-Yves selain dimatikan.

Tapi, untuk kekocakannya yang menggoncangkan, kebijaksanaannya yang halus, dan kenyinyirannya yang mengharukan, seribu pemakluman akan mudah diberikan untuk Voltaire dan Si Lugu-nya. Tidak bisa tidak.

Bagi siapapun yang skeptis, buku ini tak bisa dilewatkan. Bagi yang optimis, apalagi. Karena tanpa membaca buku seperti Si Lugu ini, dan penulis seperti Voltaire, Anda tak akan pernah bisa mengakhiri masa-masa menipu diri sendiri (hehehe....).

Akhirnya, Hail to the Saint of Scepticism!


ReviewReviewReviewMay 12, '09 4:21 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Classics
Sutradara: Blake Edward
Penulis: JP Miller
Pemain: Jack Lemmon, Lee Remick
Warna: hitam-putih
Tahun: 1962


Waktu kecil dulu, saya takut sekali kalau lihat WD. Mochtar atau Muny Chadeer memerankan orang mabuk. Dua pemuncak peran jahat dalam film Indonesia itu selalu tampak menyeramkan saat berjalan sempoyongan, tangan kanan (malah kadang kanan dan kiri) mencekik botol, mata merah melotot, wajah garang, suara parau membentak-bentak (kebanyakan perempuan, entah itu emaknya, istrinya, atau anak gadisnya). Ketika mulai mengerti kalau orang mabuk itu tak gitu-gitu amat, rasa takut saya berubah jadi sebal. Lebih sebal lagi karena gaya mabuk ala WD. Mochtar ternyata masih dilestarikan aktor-aktor (terutama sinetron) Indonesia sampai sekarang--jangankan membedakan antara mabok alkohol sama kecubung atau sama heroin, aktor-aktor kita bahkan tak bisa membedakan bagaimana gestur orang mabuk, orang gila, atau bahkan orang sekarat. "Mosok, kalau mabuk mesti sempoyongan, meracau, tertawa-tawa, sekaligus juga marah-marah? Sopo sing ngulangi?" demikian rutuk saya jika maih menemukan adegan mabuk ala WD Mochtar itu.

Rutukan saya, yang sebenarnya semata rutukan itu, rupanya mendapatkan tanggapan Tuhan (semoga, hehehe!). Di antara serakan film kartun dan film dokumenter binatang-nya BBC, di display obral film pada Pekan Obral Buku KPG, saya menemukan Days of Wine and Roses.

Ini judul film yang tak pernah saya dengar. Nama-nama yang tertera juga asing, selain Jack Lemmon (itu pun saya ingat karena saya sama sekali tidak paham Glengarry Glenn Ross, film Lemmon satu-satunya yang saya tonton dan kebetulan saya punya). Blake Edward sama sekali tak dengar. Lebih-lebih Lee Remick (yang belakangan baru saya tahu, ternyata perempuan, hehehe...). Film itu akhirnya saya tebus hanya karena ada label nominasi oscar untuk peran utama pria-wanita serta pemenang untuk musik terbaik pada sampul belakangnya. Dan, tentu saja, karena harganya cuma 10 ribu.

Days of Wine and Roses bercerita tentang sepasang suami istri pemabuk. Joe Clay (Lemmon) tidak begitu bahagia dengan pekerjaannya sebagai humas. Joe berusaha menutupinya dengan menenggak alkohol sepanjang ingat. Pertemuannya dengan Kirsten Arnessen (Remick), sekretaris bosnya, membuat Jo diliputi bahagia. Tapi kebahagiaan itu tak bertahan lama ketika Joe malah menyeret Kirsten, yang sebelumnya hanya seorang cewek biasa pemuja cokelat, menjadi peminum berat seperti dirinya. Lebih-lebih ketika pasangan itu telah memiliki anak, sementara di lain pihak Joe harus kehilangan pekerjaannya karena kebiasaan mabuknya. Dan sisanya adalah perjuangan kembali jalan yang benar.

Bagi yang menggandrungi kejutan, cerita film ini tak istimewa benar--meski gegabah jika menyebutnya jelek. Dengan mengecualikan endingnya yang menggantung, juga konflik psikologis yang lumayan rumit, the Days amat mengingatkan saya dengan roman-roman ala Balai Pustaka: sepasang muda-mudi jatuh cinta, tanpa restu orangtua, mencoba hidup bahagia, lalu badai menerjang, nasib tragis menghadang, si benar diselamatkan, si salah dihukum. (Tapi, harus ditambahkan, jika pun the Days sedikit agak ke-Balai-balai Pustaka-an, maka ia serupa Belenggu atau Atheis--yang berkonflik rumit.)

Di sisi lain, pesan yang hendak disampaikan JP Miller, sang penulis, menurut saya, terlalu telanjang, tak ubahnya film-film dan sinetron penyuluhan tahun 80-an. Bahkan, ada beberapa bagian dialog yang benar-benar berisi khotbah. Jika sinetron-sinetron TVRI dulu dengan tegas mengingatkan pemirsanya tentang, katakanlah, bermanfaatnya program KB mandiri atau pentingnya bersih lingkungan, maka the Days dengan amat sangat mengingatkan warga Amerika bahayanya minuman keras. Kalau dalam film seri Kontak Tani dulu kita menemukan tokoh Pak Kontak, atau kalau dalam program Mbangun Deso-nya TVRI Jogja ada sosok Pak Bina, maka The Days menyodorkan seorang Jim Hungerford (dimainkan Jack Klugman), seorang bekas alkoholik yang sadar, yang mengajak Joe Clay bergabung dengan Alcoholic Anonymous (AA). Ya, maklumlah. Ini Amerika, Bung! Masa segitu lagi, di mana doktrin McCarty sedang laku-lakunya.

Tapi, tentu saja saya punya alasan tersendiri kenapa sampai memberi film ini tiga bintang. Selain menyukai temanya yang amat spesifik, juga konflik-konfliknya yang dalam, meski formulaik, saya menyayangi permainan Jack Lemmon dan Lee Remick yang teler hampir sepanjang film. Remick yang jadi Kirsten amat sempurna memainkan istri yang rapuh sekaligus abai, Sementara Jack Lemmon, emm.... sepertinya harus ada paragrap khusus yang membahasnya.

Saya tidak tahu, bagaimana standar Oscar waktu itu. Saya juga tak yakin benar apa orang mabuk memang mesti kayak yang dilakukan Jack Lemmon begitu--yang tertawa-tawa, jingkrak-jingkak, dan menggelepar-gelepar--meski, kata Almukarrom Wiki, sebelum dan saat pembuatan film ini, Jack Lemmon si aktor utama dan Blake Edward si sutradara sedang seneng-senengnya mabok. Tapi, apapun itu, saya menyukai aksi Jack Lemmon di sepanjang film, terutama saat-sat Joe Clay teler berat dan disekap dalam ruang rehabilitasi. Bukan saja karena adegan-adegan mabuk ala Lemmon itu, menurut saya, menjadi titik-titik terpenting dalam film ini, tapi karena tepat di sinilah "jawaban" Tuhan itu muncul. Melihat Joe Clay yang mengikik, berjingkrak-jingkrak, berguling-guling, menggelepar, atau saat ia tercekat, juga saat ia berjalan hoyong dengan muka kumal, atau--yang paling subtil--saat ia menjadi tampak begitu rapuh (terutama ketika yang mulai bersih, menenggak alkohol lagi di depan istrinya hanya untuk menunjukkan kalau ia tetaplah suami yang mencintai istrinya), saat itulah saya melihat seorang aktor, Jack Lemmon, meracik sebuah formula klasik tentang bagaimana semestinya adegan mabuk dilakukan. (Persis seperti Rendra mengajari kepada para penyair Indonesia sesudahnya, dan seluruh anak Indonesia di setiap lomba baca puisi dan pentas 17-an, bagaimana gerak badan, tangan, dan intonasi saat berdeklamasi. Atau, Suzanna, yang meletakkan pakem bagi seluruh aktris Indonesia yang punya bakat jadi hantu cantik, untuk melotot, menggeram, dan tertawa cekikikan). Adegan teler ala Jack Lemmon ini juga yang membuat saya meraba-raba, jangan-jangan, dari sinilah WD. Mochtar atau Muny Chadeer, dan para pemabuk di film-film Indonesia setelahnya (hingga saat ini), mengomel, sempoyongan, tertawa-tawa dan secara bersamaan, memaki-maki. Jangan-jangan...



Blog EntryApr 15, '09 12:35 AM
for everyone
Saat membersihkan rumah, tanpa sengaja, sebuah pemandangan memilukan aku temukan.

Di kamar paling belakang rumahku, lemari kecilku, yang dibikin oleh tangan bapakku sendiri, yang padanya terpusat apa yang dulu aku anggap sebagai peradaban (serupa Bait Hikmah bagi Dinasty Abbasiyah), yang di dalamnya tersimpan hampir semua bukti perjalanan menuju "tahu" dan "pengetahuan", tampak kuyu dan kelabu. Oleh debu. Dan, tentu saja, waktu. Di bawah kolong lemari, terserak bongkahan-bongkahan kecil tanah coklat bercampur kerikil. Juga, serpihan-serpihan kertas. Memiliki memori kuat tentang apa dan siapa di balik bongkahan-bongkahan tanah itu, juga mengingat bahwa itu adalah satu-satunya kamar di rumah ini yang diluputkan dari penegelan beberapa tahun lalu, aku bergegas--sembari gemetar--membuka lemari reot itu. Dan tak ada yang kutemukan di dalamnya, kecuali unggunan robekan kertas.

Seusai menonton Ratatoille, aku jadi memiliki sedikit respek dengan kaum tetikus. Tapi, tidak untuk kali ini. Aku benar-benar marah!

Hampir menangis aku menjumput remah-remah kertas itu. Repihan kertas-kertas kecil itu berasal dari buku-buku tulis dan ajar saya di MI sampai SMA, juga kertas-kertas soal dan hasil ulangan. Itu jelas dari dari repihan yang lebih besar. Dengan hati ngilu aku tumpahkan semua isi lemari. Berharap ada yang masih tersisa dari reruntuhan ini. Dan, alhamdulillah, ada. Buku-buku bersampul plastik mika lolos dari kehancuran mengerikan ini. Sebagian besar buku-buku bersampul plastik yang selamat itu bersampul muka gambar-gambar pemain sepakbola. (Alkisah, di kelas 2 SMA, di puncak kegilaanku pada sepakbola, aku menutup sampul buku tulis, juga beberapa buku ajar, yang desain-desainnya membosankan dengan guntingan gambar pemain sepakbola dari halaman depan Tabloid GO, lalu membungkusnya dengan sampul mika yang bermutu baik.) Perayaan gol Mattias Sammer dan Lottar Mattaeus pada Piala Eropa 1996 masih menghiasi sampul depan buku catatan Biologi. Wajah Mario Stanic yang ngotot berebut bola, lengkap dengan plester hidungnya, dengan tulisan besar "Sensasi Kroasia" melintang di bawahnya, masih ada di sampul buku catatan Sejarah. Juga, Liukan tubuh Ali Dai saat berlaga pada Piala Asia 1996 di Quwait, masih menempel manis di sampul depan buku ajar Kimia terbitan Gama Exacta Bandung. Hm..., sepakbola telah membuat masa remajaku jadi sedikit lebih indah. Dan kini, sepakbola menyelamatkan sebagian kecil masa laluku. Sepakbola memang penyelamatkan peradaban!

(Juga selamat, sejumlah ijazah atas nama Mahfud Ikhwan, dari TK sampai SMP, beberapa piagam penghargaan, akta kelahiran, hasil tes IQ, dan rapor SMP dan SMA--meski yang pertama terbrakot seperempatnya)

Tapi sedikit yang selamat itu hanya menyisakan sedikit kelegaan, sebab sisanya yang sebagian besar adalah kepiluan. Beberapa buku catatan, dengan gambar-gambar dan coretan naif di sela-sela halamannya, hampir-hampir tak bisa dikenali lagi. Sejumlah lembar soal dengan nilai di pojok kiri atasnya tinggal jadi awul-awul. Setumpuk kumpulan soal UMPTN, yang dulu sebagian besar aku rampas dari teman-teman yang ikut bimbingan belajar dan sebagian lagi aku curi dari gudang sekolahan, tinggal jadi sampah yang hanya layak untuk menghuni pembakaran. Kertas-kertas jawaban yang berisi coretan-coretan tentang "diketahui", "ditanyakan", dan "jawab"-- yang menunjukkan bahwa 11 tahun lalu ada seorang bocah yang mencoba dengan amat keras menyakinkan dirinya bahwa cita-cita itu perlu dan masa depan itu mungkin--tinggal jadi sobekan-sobekan.


Dan buku ajar Biologi itu. Aduh, sungguh menyedihkan keadaannya. Ia tak terselamatkan karena aku tak menyampulinya dengan mika, sebagaimana buku ajar Kimia dan Matematika. Seingatku, itu buku bukan kepunyaanku. Aku menemukannya di sebuah lemari bobrok di salah satu sudut pesantrenku dulu--milik seorang senior yang tak terbawa pulang ketika ia lulus. (Aku rasa, karena alasan kepemilikan itulah, aku tak menyampulinya; sebab bagiku, menyampuli sebuah buku adalah sebuah tindakan klaim--seperti seekor singa jantan yang mengencingi pohon-pohon yang jadi batas wilayah kekuasannya.) Meski demikian, aku amat menyayangi buku itu. Buku itu menemaniku menyelesaikan kelas dua dengan nilai 9 pada Biologi (terimakasih Bu Kamuntri, di mana pun Anda kini berada), yang membuatku menyamai--atau mungkin malah melebih(?)--nilai seorang teman yang di kelak kemudian hari jadi seorang Etnoekolog yang berprestasi. Buku itu pula yang, aku kira, memiliki andil ketika para psikolog Universitas Dr. Soetomo Surabaya menerakan frasa "AHLI BOTANI" di kolom pekerjaan pada sertifikat tes IQ-ku (sebuah nujuman yang olehku dan sebagian besar teman pada waktu itu dianggap jauh lebih masuk akal daripada dua opsi pekerjaan lainnya: AHLI SEJARAH dan SASTRAWAN). Dan yang pasti, buku inilah yang membuatku memiliki sedikit kepercayaan diri untuk menuliskan Jurusan Biologi Universitas Gadjah Mada sebagai salah satu pilihan pada formulir IPC-ku.

Sebagain buku pelajaran itu, soal-soal UMPTN, lembar-lembar penuh coretan jawaban, juga buku Biologi itu, yang darinya aku tahu bahwa pada suatu masa ada hal-hal yang pasti dalam kehidupanku, kini telah jadi abu. Aku membakarnya. Dengan sedih. Tapi, yang jelas, juga dengan takzim--seperti seorang remaja India membakar jasad ibunya. Dengan gumaman, "Wahai yang pasti, semoga kau abadi".


Pages:12